alexametrics
29.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Minum Obat Herbal Bisa Sebabkan Gangguan Hati, Kok Bisa?

DENPASAR, BALI EXPRESS – Selama masa pandemi covid-19, konsumsi produk herbal tercatat mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan hampir semua lapisan masyarakat mengkonsumsi produk herbal ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Reri Indriani,  mengatakan adanya peningkatan konsumsi jamu dan suplemen tradisional lainnya selama masa pandemi, tidak terlepas dari gaya hidup masyatakat saat ini. “Kecendeeungan gaya hodup back to nature menjadi penyebab adanya lonjakan konsumsi jamu dan obat tradisional lainnya di Indonesia,” jelasnya dalam seminar virtual Akselerasi Ekspor Jamu sebagai Media untuk Menyehatkan Masyarakat.

Adapun jenis jamu yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat selama masa pandemi covid-19 adalah jamu racikan segar. Baik itu yang diproduksi sendiri atau dalam bentuk jamu kemasan yang sudah jadi, seperti dalam bentuk teh ataupun syrup rempah yang sudah melalui proses pengolahan dan pengemasan.

Meskipun Pemerintah pusat menganjurkan kepada masyarakat untuk mengkinsumsi obat herbal, namun menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Divisi Gastro Entero-Hepatologi, dr. Gde Somayana, Sp.PD-KGEH, konsumsi obat herbal secara sembarangan juga bisa menyebabkan gangguan pada fungsi kerja hati dan ginjal.

“Obat Herbal yang dimaksud adalah, obat herbal ilegal yang tidak tersertifikasi, sedangkan jik obat herbal tersebut adalah produk obat yang dibuat dari bahan alami tanpa tambahan bahan pengawet dan bahan kimia, maka obat tersebut tidak berpotensi merusak kerja organ tubuh,” jelasnya.

Adapun obat herbal yang berpotensi menyebabkan gangguan fungsi hati dn ginjal adalah obat herbal yang memiliki kandungan bahan kimia obat (BKO) dan diracik secara sederhana oleh peracik obat yang bukan ahli farmasi dan tidak memiliki sertifikasi sebagai seorng ahli. BKO inilah yang dikatakan dr. Soma menyebabkan kerusakan pad organ hati dan ginjal. 

Karena itu, dr. Soma menegaskan kepada masyarakat untuk lebih teliti lagi dalam memilih obat herbal yang akan dikonsumsi. “Sehingga manfaat dari obat herbal tersebut bisa didapat secara maksimal, pastikan obat herbal tersebut tidak mengandung BKO,” tambahnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Selama masa pandemi covid-19, konsumsi produk herbal tercatat mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan hampir semua lapisan masyarakat mengkonsumsi produk herbal ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Reri Indriani,  mengatakan adanya peningkatan konsumsi jamu dan suplemen tradisional lainnya selama masa pandemi, tidak terlepas dari gaya hidup masyatakat saat ini. “Kecendeeungan gaya hodup back to nature menjadi penyebab adanya lonjakan konsumsi jamu dan obat tradisional lainnya di Indonesia,” jelasnya dalam seminar virtual Akselerasi Ekspor Jamu sebagai Media untuk Menyehatkan Masyarakat.

Adapun jenis jamu yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat selama masa pandemi covid-19 adalah jamu racikan segar. Baik itu yang diproduksi sendiri atau dalam bentuk jamu kemasan yang sudah jadi, seperti dalam bentuk teh ataupun syrup rempah yang sudah melalui proses pengolahan dan pengemasan.

Meskipun Pemerintah pusat menganjurkan kepada masyarakat untuk mengkinsumsi obat herbal, namun menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Divisi Gastro Entero-Hepatologi, dr. Gde Somayana, Sp.PD-KGEH, konsumsi obat herbal secara sembarangan juga bisa menyebabkan gangguan pada fungsi kerja hati dan ginjal.

“Obat Herbal yang dimaksud adalah, obat herbal ilegal yang tidak tersertifikasi, sedangkan jik obat herbal tersebut adalah produk obat yang dibuat dari bahan alami tanpa tambahan bahan pengawet dan bahan kimia, maka obat tersebut tidak berpotensi merusak kerja organ tubuh,” jelasnya.

Adapun obat herbal yang berpotensi menyebabkan gangguan fungsi hati dn ginjal adalah obat herbal yang memiliki kandungan bahan kimia obat (BKO) dan diracik secara sederhana oleh peracik obat yang bukan ahli farmasi dan tidak memiliki sertifikasi sebagai seorng ahli. BKO inilah yang dikatakan dr. Soma menyebabkan kerusakan pad organ hati dan ginjal. 

Karena itu, dr. Soma menegaskan kepada masyarakat untuk lebih teliti lagi dalam memilih obat herbal yang akan dikonsumsi. “Sehingga manfaat dari obat herbal tersebut bisa didapat secara maksimal, pastikan obat herbal tersebut tidak mengandung BKO,” tambahnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/