alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Setra Desa Adat Gerokgak, Banyak Pohon Besar dan Konon Terdapat Kuda Putih

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Terlepas dari kasus pembongkaran kuburan di Setra Desa Adat Gerokgak pada Kamis (7/4) lalu, setra tersebut memiliki cerita tersendiri. Setra yang berlokasi di Banjar Dinas Gerokgak, Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak itu telah ada sejak puluhan tahun silam. Tidak ada yang mengetahui dengan jelas tahun berapa lahan tersebut mulai difungsikan untuk pemakaman. Namun menurut cerita tetua terdahulu, setra itu sempat digunakan oleh tiga desa. Yakni desa Patas, desa Gerokgak dan desa Sanggalangit.

Ketiga desa itu dalam jangka waktu yang panjang turut melakukan proses upacara Pitra Yadnya di setra itu. Baik proses pemakaman maupun pengabenan. Namun seiring waktu, sekitar tahun 1990-an, desa Patas dan desa Sanggalangit memutuskan untuk berpisah dengan desa gerokgak dan membentuk tempat pemakaman masing-masing. “Dulu kami sama-sama disini mengubur atau membakar jenazah. Tapi kemungkinan itu tahun 1990-an, desa-desa itu memilih untuk pisah. Karena penduduknya sudah banyak dan kalau dikubur di sini kan penuh. Setranya juga tidak begitu luas,” ujar pecalang desa Gerokgak Gede Sukadana didampingi Klian Adat Gerokgak, Jro Kadek Sumantra, Jumat (8/4) lalu.

Selain itu, setra desa adat Gerokgak konon juga dipenuhi semak belukar. Kesan seram dan angker sangat melekat pada wajah setra. Disamping itu terdapat pula pohon-pohon besar yang konon disenangi oleh makhluk gaib. “Disini ada pohon intaran. Besar-besar sekali. Tanah kuburannya tidak nampak, karena dulu ini semak belukar. Tidak seperti sekarang. Kalau sekarang kan setranya rapi. Ada juga pohon Kepah dan Pohon Kepuh. Besar-besar sekali,” tuturnya kemudian.

Kesemrawutan wajah setra yang dipenuhi semak belukar saat itu dibiarkan saja oleh para penglisir. Sebab saat itu para penglingsir juga tak berani melakukan pembersihan di lahan itu lantaran sangat angker. “Yang namanya setra pasti angker ya. Tapi untuk di setra ini, para penglingsir dulu tidak berani melakukan pemangkasan sembarangan. Makanya mereka biarkan dulu semrawut (bet). Kalau buat liang kubur paling di sekitar itu saja yang dibersihkan. Akhirnya, lama-lama setra ini dibersihkan setelah melakukan paruman dengan jro mangku dan prajuru adat,” lanjutnya.

Menurut penuturan para penglingsir terdahulu, di setra itu konon terdapat kuda putih yang berstana di bawah pohon Kepah. Kuda putih itu pun dahulu sering menampakkan wujudnya. Kuda putih yang bersih, gagah dilengkapi dengan gongseng. “Dulu disini ada dua pohon. Satunya pohon Kepah, satu pohon Kepuh. Nah di bawah pohon Kepah itulah ada kuda putih. Saya juga dengar dari para tetua dulu. Sekarang pohon Kepahnya tidak ada, sekarang masih pohon Kepuhnya saja,” terangnya.

Dari penuturan Gede Sukadana, dulu pernah terjadi peristiwa tidak menyenangkan. Seorang warga yang tengah mencari kayu bakar di setra itu kesambet kuda putih yang ada di setra. Warga itu pun mengalami sakit Hernia. “Dulu pernah terjadi, ada yang cari kayu bakar disini lalu kesambet. Dikatakan Aud Butuh. Kalau sekarang disebut Hernia. Dan saya juga kurang tau selanjutnya seperti apa ceritanya saat itu. Bagaimana dia memohon maaf disini. Hanya begitu yang saya dengar,” kata dia.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Terlepas dari kasus pembongkaran kuburan di Setra Desa Adat Gerokgak pada Kamis (7/4) lalu, setra tersebut memiliki cerita tersendiri. Setra yang berlokasi di Banjar Dinas Gerokgak, Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak itu telah ada sejak puluhan tahun silam. Tidak ada yang mengetahui dengan jelas tahun berapa lahan tersebut mulai difungsikan untuk pemakaman. Namun menurut cerita tetua terdahulu, setra itu sempat digunakan oleh tiga desa. Yakni desa Patas, desa Gerokgak dan desa Sanggalangit.

Ketiga desa itu dalam jangka waktu yang panjang turut melakukan proses upacara Pitra Yadnya di setra itu. Baik proses pemakaman maupun pengabenan. Namun seiring waktu, sekitar tahun 1990-an, desa Patas dan desa Sanggalangit memutuskan untuk berpisah dengan desa gerokgak dan membentuk tempat pemakaman masing-masing. “Dulu kami sama-sama disini mengubur atau membakar jenazah. Tapi kemungkinan itu tahun 1990-an, desa-desa itu memilih untuk pisah. Karena penduduknya sudah banyak dan kalau dikubur di sini kan penuh. Setranya juga tidak begitu luas,” ujar pecalang desa Gerokgak Gede Sukadana didampingi Klian Adat Gerokgak, Jro Kadek Sumantra, Jumat (8/4) lalu.

Selain itu, setra desa adat Gerokgak konon juga dipenuhi semak belukar. Kesan seram dan angker sangat melekat pada wajah setra. Disamping itu terdapat pula pohon-pohon besar yang konon disenangi oleh makhluk gaib. “Disini ada pohon intaran. Besar-besar sekali. Tanah kuburannya tidak nampak, karena dulu ini semak belukar. Tidak seperti sekarang. Kalau sekarang kan setranya rapi. Ada juga pohon Kepah dan Pohon Kepuh. Besar-besar sekali,” tuturnya kemudian.

Kesemrawutan wajah setra yang dipenuhi semak belukar saat itu dibiarkan saja oleh para penglisir. Sebab saat itu para penglingsir juga tak berani melakukan pembersihan di lahan itu lantaran sangat angker. “Yang namanya setra pasti angker ya. Tapi untuk di setra ini, para penglingsir dulu tidak berani melakukan pemangkasan sembarangan. Makanya mereka biarkan dulu semrawut (bet). Kalau buat liang kubur paling di sekitar itu saja yang dibersihkan. Akhirnya, lama-lama setra ini dibersihkan setelah melakukan paruman dengan jro mangku dan prajuru adat,” lanjutnya.

Menurut penuturan para penglingsir terdahulu, di setra itu konon terdapat kuda putih yang berstana di bawah pohon Kepah. Kuda putih itu pun dahulu sering menampakkan wujudnya. Kuda putih yang bersih, gagah dilengkapi dengan gongseng. “Dulu disini ada dua pohon. Satunya pohon Kepah, satu pohon Kepuh. Nah di bawah pohon Kepah itulah ada kuda putih. Saya juga dengar dari para tetua dulu. Sekarang pohon Kepahnya tidak ada, sekarang masih pohon Kepuhnya saja,” terangnya.

Dari penuturan Gede Sukadana, dulu pernah terjadi peristiwa tidak menyenangkan. Seorang warga yang tengah mencari kayu bakar di setra itu kesambet kuda putih yang ada di setra. Warga itu pun mengalami sakit Hernia. “Dulu pernah terjadi, ada yang cari kayu bakar disini lalu kesambet. Dikatakan Aud Butuh. Kalau sekarang disebut Hernia. Dan saya juga kurang tau selanjutnya seperti apa ceritanya saat itu. Bagaimana dia memohon maaf disini. Hanya begitu yang saya dengar,” kata dia.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/