alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Keliling Indonesia, Dadang Ingin Jualan Bendera Sampai ke Batam

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Bulan Agustus merupakan bulan kemerdekaan. Tepat tanggal 17 Agustus nanti, rakyat Indonesia akan melaksanakan Hari Kemerdekaan ke-76. biasanya menjelang hari kemerdekaan, penjual bendera mulai bermunculan. Berbagai model bendera merah putih dijajakan. Ada yang menjual di gerai toko, ada pula yang membuka lapak di pinggir jalan raya. Seperti Dadang salah satunya. Penjual bendera musiman asal Garut Jawa Barat ini membuka lapak di kawasan Desa Tukadmungga, Kecamatan /Kabupaten Buleleng. Sejumlah bendera berbagai model dan ukuran terpampang di pinggir jalan. sesekali melambai karena tertiup angin.

 

Dadang nampak bersantai diatas motornya sembari menunggu pembeli menghampiri. Sesekali ia menyeruput kopi hangat yang ia beli dari warung kecil di seberang jalan raya. Pria berusia 50 tahun ini juga sesekali merapikan bederanya yang diletakkan di sebuah meja di bawah pohon perindang.

 

Ditemui disela-sela kegiatannya berjualan bendera, Selasa (10/8) siang, Dadang menceritakan dirinya telah berjualan dari tanggal 28 Juli lalu. Ia datang bersama tiga temannya dari Garut menuju Bali. selama dua minggu berjualan bendera, Dadang mengaku kondisi saat ini sangat sepi. penjualannya pun tidak seperti tahun lalu. “Jualannya dari tanggal 28 Juli. Jualan sekarang agak sepi. Gak seperti tahun lalu. Sudah biasa jualan musiman seperti ini. Dibandingkan sama tahun lalu ya sepi sekarang,” ujarnya.

 

Selain karena kondisi pandemi yang mempengaruhi daya beli masyarakat, kondisi PPKM juga sangat berpengaruh. “PPKM juga sangat ngeruh, jadi sepi. Kalau kondisi normal per harinya lumayan sih dapat jualannya,” tambahnya.

 

Pun demikian ia mengaku bendera yang paling banyak diminati masyarakat adalah bendera dengan ukuran kecil. Bendera itu biasanya diikat pada kendaraan. Namun ukuran bendera yang lebih besar, akan dipasang di perkantoran ataupun rumah-rumah warga. “Kalau terjualnya susah dihitung. Yang dicari masyarakat itu kebanyakan yang kecil, yang buat di kendaraan. Kalau kantor itu biasanya yang ukuran 150 cm. Yang 180 juga ada. Yang 120 cm buat di rumah biasanya,” lanjutnya.

 

Sebagai pedagang musiman, Dadang hanya bisa mengharapkan hasil dari kesibukannya menjual bendera. Dadang pun menceritakan bahwa di kampunya, Garut sebagian masyarakatnya membuat bendera dan sebagian lagi menjadi penjual bendera keliling kota di Indonesia. “Yang buat bendera ini ada di kampung di Garut. Kalau kesehariannya saya nganggur. Ya saya biasanya jualan musiman bendera gini. Ini kreasi dari masyarakat di kampung Garut. Kalau mau 17an mereka sudah bikin. Setelah itu langsung bikin lagi buat tahun depan. Di kampung itu ada yang bikin ada yang jual,” kata dia.

 

Dadang sudah 5 tahun berjualan bendera Merah Putih ketika bulan kemerdekaan tiba. Ia telah berkeliling Indonesia membawa bendera kebangsaan. Selayaknya masyarakat pada umumnya, Dadang juga punya cita-cita. tak muluk-muluk, Dadang ingin berjualan bendera sampai ke Batam. “Saya sudah lama jualan, ya mungkin 5 tahun. Saya sudah keliling Indonesia. Tapi saya tidak sendiri, sama teman. Kalau saya sendiri belum pernah ke Batam. Inginnya menyemarakkan Indonesia ke Batam,” ungkapnya.

 

Dadang juga menceritakan keseruannya berjualan bendera ketika berada di Kalimantan tahun lalu. Menjual bendera dengan laris dan hampir habis merupakan kegembiraan bagi Dadang.  “Kalau di Kalimantan saya jualannya seru. Serunya itu ya bendera saya hampir habis. Kalau teman jualan pernah di datengin preman juga. Kalau di Bali saya belum pernah. Semoga tidak ya. Orang disini baik-baik semua. Kalau saya sendiri tidak pernah. Kalau teman-teman ada yang didatangin preman,” tuturnya.

 

Kisaran harga bendera yang dijual Dadang mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 300 ribu. Ada bendera biasa. Ada yang background Malioboro, serta umbul-umbul.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Bulan Agustus merupakan bulan kemerdekaan. Tepat tanggal 17 Agustus nanti, rakyat Indonesia akan melaksanakan Hari Kemerdekaan ke-76. biasanya menjelang hari kemerdekaan, penjual bendera mulai bermunculan. Berbagai model bendera merah putih dijajakan. Ada yang menjual di gerai toko, ada pula yang membuka lapak di pinggir jalan raya. Seperti Dadang salah satunya. Penjual bendera musiman asal Garut Jawa Barat ini membuka lapak di kawasan Desa Tukadmungga, Kecamatan /Kabupaten Buleleng. Sejumlah bendera berbagai model dan ukuran terpampang di pinggir jalan. sesekali melambai karena tertiup angin.

 

Dadang nampak bersantai diatas motornya sembari menunggu pembeli menghampiri. Sesekali ia menyeruput kopi hangat yang ia beli dari warung kecil di seberang jalan raya. Pria berusia 50 tahun ini juga sesekali merapikan bederanya yang diletakkan di sebuah meja di bawah pohon perindang.

 

Ditemui disela-sela kegiatannya berjualan bendera, Selasa (10/8) siang, Dadang menceritakan dirinya telah berjualan dari tanggal 28 Juli lalu. Ia datang bersama tiga temannya dari Garut menuju Bali. selama dua minggu berjualan bendera, Dadang mengaku kondisi saat ini sangat sepi. penjualannya pun tidak seperti tahun lalu. “Jualannya dari tanggal 28 Juli. Jualan sekarang agak sepi. Gak seperti tahun lalu. Sudah biasa jualan musiman seperti ini. Dibandingkan sama tahun lalu ya sepi sekarang,” ujarnya.

 

Selain karena kondisi pandemi yang mempengaruhi daya beli masyarakat, kondisi PPKM juga sangat berpengaruh. “PPKM juga sangat ngeruh, jadi sepi. Kalau kondisi normal per harinya lumayan sih dapat jualannya,” tambahnya.

 

Pun demikian ia mengaku bendera yang paling banyak diminati masyarakat adalah bendera dengan ukuran kecil. Bendera itu biasanya diikat pada kendaraan. Namun ukuran bendera yang lebih besar, akan dipasang di perkantoran ataupun rumah-rumah warga. “Kalau terjualnya susah dihitung. Yang dicari masyarakat itu kebanyakan yang kecil, yang buat di kendaraan. Kalau kantor itu biasanya yang ukuran 150 cm. Yang 180 juga ada. Yang 120 cm buat di rumah biasanya,” lanjutnya.

 

Sebagai pedagang musiman, Dadang hanya bisa mengharapkan hasil dari kesibukannya menjual bendera. Dadang pun menceritakan bahwa di kampunya, Garut sebagian masyarakatnya membuat bendera dan sebagian lagi menjadi penjual bendera keliling kota di Indonesia. “Yang buat bendera ini ada di kampung di Garut. Kalau kesehariannya saya nganggur. Ya saya biasanya jualan musiman bendera gini. Ini kreasi dari masyarakat di kampung Garut. Kalau mau 17an mereka sudah bikin. Setelah itu langsung bikin lagi buat tahun depan. Di kampung itu ada yang bikin ada yang jual,” kata dia.

 

Dadang sudah 5 tahun berjualan bendera Merah Putih ketika bulan kemerdekaan tiba. Ia telah berkeliling Indonesia membawa bendera kebangsaan. Selayaknya masyarakat pada umumnya, Dadang juga punya cita-cita. tak muluk-muluk, Dadang ingin berjualan bendera sampai ke Batam. “Saya sudah lama jualan, ya mungkin 5 tahun. Saya sudah keliling Indonesia. Tapi saya tidak sendiri, sama teman. Kalau saya sendiri belum pernah ke Batam. Inginnya menyemarakkan Indonesia ke Batam,” ungkapnya.

 

Dadang juga menceritakan keseruannya berjualan bendera ketika berada di Kalimantan tahun lalu. Menjual bendera dengan laris dan hampir habis merupakan kegembiraan bagi Dadang.  “Kalau di Kalimantan saya jualannya seru. Serunya itu ya bendera saya hampir habis. Kalau teman jualan pernah di datengin preman juga. Kalau di Bali saya belum pernah. Semoga tidak ya. Orang disini baik-baik semua. Kalau saya sendiri tidak pernah. Kalau teman-teman ada yang didatangin preman,” tuturnya.

 

Kisaran harga bendera yang dijual Dadang mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 300 ribu. Ada bendera biasa. Ada yang background Malioboro, serta umbul-umbul.


Most Read

Artikel Terbaru

/