alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Dirumahkan Karena Pandemi, Gede Ari Usaha Bibit di Kampung via Online

TEJAKULA, BALI EXPRESS – Gede Ari merupakan warga desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan. Namun ia bersama orangtuanya tinggal di desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Tepatnya di perbatasan kedua desa tersebut. Gede Ari ini adalah putra dari Made Suardana, petani alpukat alligator di Sembiran. Gede kerap membantu ayahnya untuk membuat bibit alpukat di rumahnya. Bibit-bibit itu kemudian mereka jual. Penjualannya dilakukan Gede dengan cara online.

Ditemui di rumahnya, Gede nampak sibuk dengan bibit-bibit kesayangannya. Ia memotong dan menyambung bibit kemudian menempatkannya dalam sebuah media tanam di polibag. Gede terlihat telaten. Tak satu pun hama seperti ulat atau gulma yang menjalar di sekitar area pembibitan, yang lut dari pria bertato ini.

Sebelumnya Gede bekerja sebagai satpam salah satu rumah makan di kawasan Batu Belig, Denpasar. Kawasan itu memang banyak digandrungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Lantaran Bali dilanda pandemic Covid-19, pariwisata pun menjadi sepi. Rumah makan tempat Gede bekerja pun terdampak. Terpaksa Gede harus dirumahkan bersama dengan karyawan yang lainnya.

Paska dirumahkan, Gede memilih untuk pulang kampung. Di kampung ia tak lantas berdiam diri. Ia akhirnya membuka usaha jual bibit. “Sudah lama saya di Denpasar. Korona gini saya pulang. Karena korona ini akhirnya ya saya jual bibit. Dulu saya satpam di restoran Merah Putih di Batu Belig. Lama saya di Denpasar. Lulus SMA saya sudah merantau,” ujarnya.

Ia pun mengaku berada di kampung sejak tahun 2020. Pada awal merebaknya pandemi di Bali, ia memutuskan untuk pulang. “Pulang ke kampung itu buan Maret, sebelum nyepi,” kata dia.

Bibit-bibit yang ia jual sebenarnya adalah usaha dari sang ayah. Namun karena ayah Gede sibuk dengan urusan alpukatnya, maka urusan bibit diserahan kepada Gede Ari. Di rumahnya banyak terdapat bibit alpukat alligator yang sudah disambung. Selain itu juga terdapat bibit vanili siap tanam. “Budidaya vanili sudah lama juga. Jualnya saya online. Bibit ini saya beli dulu di Karangasem. Terus budidaya. Sekarang saya jual lagi bibitnya,” jelasnya.

Untuk bibit-bibit yang dipasarkannya dibaderl dengan harga murah. Satu bibit paling murah hanya Rp 20 ribu saja. “Sama larisnya. Baik vanili maupun alpukat. Harganya Rp 20 ribu. lebih mudah tumbuhnya. Kalau alpukat bibitnya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” tambahnya.

Gede pun mengaku bila pariwisata sudah kembali normal, ia masih ragu untuk kembali bekerja di tanah rantau. Ia ingin tetap berada di rumah. Merintis usaha bersama orangtuanya. “Saya tidak tau. Kalau sudah normal akan bagaimana. Masih ragu. Di rumah saja dulu sambil usaha kecil-kecilan. Dekat juga sama orangtua. Itu nanti saja dipikirkan. Yang penting sekarang kami bisa bertahan saat korona ini,” terangnya.

Meski baru memulai bisnis dengan menjual bibit, usahanya tergolong sukes. Dalam sehari ada saja yang memesan bibit. Jumlahnya pun terbilang banyak. Bibit-bibit yang dijual Gede bersama ayahnya ini sudah tersebar ke pelosok-pelosok Bali. “Sudah kemana-mana bibit saya ini. Yang beli dari luar Kabupaten juga ada. Mungkin sudah seluruh Bali. Saya gak ingat. Sehari ada saja yang menghubungi mau beli bibit. Satu orang kadang ada yang beli satu atau dua. Kadang ada yang sampai 50 bibit mereka angkut,” tuturnya sembari merapikan bibit alpukat dan vanili. 


TEJAKULA, BALI EXPRESS – Gede Ari merupakan warga desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan. Namun ia bersama orangtuanya tinggal di desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Tepatnya di perbatasan kedua desa tersebut. Gede Ari ini adalah putra dari Made Suardana, petani alpukat alligator di Sembiran. Gede kerap membantu ayahnya untuk membuat bibit alpukat di rumahnya. Bibit-bibit itu kemudian mereka jual. Penjualannya dilakukan Gede dengan cara online.

Ditemui di rumahnya, Gede nampak sibuk dengan bibit-bibit kesayangannya. Ia memotong dan menyambung bibit kemudian menempatkannya dalam sebuah media tanam di polibag. Gede terlihat telaten. Tak satu pun hama seperti ulat atau gulma yang menjalar di sekitar area pembibitan, yang lut dari pria bertato ini.

Sebelumnya Gede bekerja sebagai satpam salah satu rumah makan di kawasan Batu Belig, Denpasar. Kawasan itu memang banyak digandrungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Lantaran Bali dilanda pandemic Covid-19, pariwisata pun menjadi sepi. Rumah makan tempat Gede bekerja pun terdampak. Terpaksa Gede harus dirumahkan bersama dengan karyawan yang lainnya.

Paska dirumahkan, Gede memilih untuk pulang kampung. Di kampung ia tak lantas berdiam diri. Ia akhirnya membuka usaha jual bibit. “Sudah lama saya di Denpasar. Korona gini saya pulang. Karena korona ini akhirnya ya saya jual bibit. Dulu saya satpam di restoran Merah Putih di Batu Belig. Lama saya di Denpasar. Lulus SMA saya sudah merantau,” ujarnya.

Ia pun mengaku berada di kampung sejak tahun 2020. Pada awal merebaknya pandemi di Bali, ia memutuskan untuk pulang. “Pulang ke kampung itu buan Maret, sebelum nyepi,” kata dia.

Bibit-bibit yang ia jual sebenarnya adalah usaha dari sang ayah. Namun karena ayah Gede sibuk dengan urusan alpukatnya, maka urusan bibit diserahan kepada Gede Ari. Di rumahnya banyak terdapat bibit alpukat alligator yang sudah disambung. Selain itu juga terdapat bibit vanili siap tanam. “Budidaya vanili sudah lama juga. Jualnya saya online. Bibit ini saya beli dulu di Karangasem. Terus budidaya. Sekarang saya jual lagi bibitnya,” jelasnya.

Untuk bibit-bibit yang dipasarkannya dibaderl dengan harga murah. Satu bibit paling murah hanya Rp 20 ribu saja. “Sama larisnya. Baik vanili maupun alpukat. Harganya Rp 20 ribu. lebih mudah tumbuhnya. Kalau alpukat bibitnya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” tambahnya.

Gede pun mengaku bila pariwisata sudah kembali normal, ia masih ragu untuk kembali bekerja di tanah rantau. Ia ingin tetap berada di rumah. Merintis usaha bersama orangtuanya. “Saya tidak tau. Kalau sudah normal akan bagaimana. Masih ragu. Di rumah saja dulu sambil usaha kecil-kecilan. Dekat juga sama orangtua. Itu nanti saja dipikirkan. Yang penting sekarang kami bisa bertahan saat korona ini,” terangnya.

Meski baru memulai bisnis dengan menjual bibit, usahanya tergolong sukes. Dalam sehari ada saja yang memesan bibit. Jumlahnya pun terbilang banyak. Bibit-bibit yang dijual Gede bersama ayahnya ini sudah tersebar ke pelosok-pelosok Bali. “Sudah kemana-mana bibit saya ini. Yang beli dari luar Kabupaten juga ada. Mungkin sudah seluruh Bali. Saya gak ingat. Sehari ada saja yang menghubungi mau beli bibit. Satu orang kadang ada yang beli satu atau dua. Kadang ada yang sampai 50 bibit mereka angkut,” tuturnya sembari merapikan bibit alpukat dan vanili. 


Most Read

Artikel Terbaru

/