26.5 C
Denpasar
Friday, February 3, 2023

Bagaimana Penanganan Nyeri Pasca Operasi ?

DENPASAR, BALI EXPRESS- Nyeri pasca operasi saat ini menjadi salah satu momok di masyarakat, sehingga banyak orang yang enggan untuk melakukan tindakan pembedahan ini karena merasa tidak nyaman dengan rasa nyeri yang ditimbulkan pasca operasi. Apa sebenarnya yang menyebabkan rasa nyeri pasca operasi dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan?

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) Cabng Bali, dr. I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa, Sp.An., KAR., FIPM., menjelaskan rasa nyeri pasca operasi memang sering kali terjadi akibat adanya kerusakan jaringan kulir, otot, lemak dan jaringan kulit lainnya. “Ketika proses operasi, kan ada luka sayatan, proses penyayatan inilah yang sering kali bisa merusak jaringan kulit, lemak, otot dn lain sebagainya pada tubuh manusia, kerusakan jatingan inilah yang menyebabkan nyeri pasca operasi,” jelasnya.

Nyeri pasca operasi ini, dilanjutkan dr. Alit ada dua jenis, yakni nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut adalah nyeri yang ditimbulkan setelah operasi (ketika luka operasi belum sembuh) sedangkan nyeri kronis adalah rasa nyeri yang masih dirasakan oleh pasien meskipun luka operasi sudah sembuh.

Baca Juga :  KMHDI akan Siarkan Langsung Diskusi Bersama Calon Dirjen Bimas Hindu

Rasa nyeri kronis ini, menurut dr. Alit terjadi karena pada jaringan (sirkuit) rasa nyeri tersebut masih terjadi proses penyembuhan. “Biasanya rasa nyeri di sekitar sirkuit nyeri ini akan melibatkan sistem saraf pusat, sistem sensorik dan sistem tulang belakang manusia, sehingga kondisi nyeri kronis ini lebih kompleks,” paparnya.

Untuk penngannya sendiri, dr. Alit menyebutkan lebih mudah menangani nyeri akut jika dibandingkan dengan nyeri kronis. Karena pennganan nyeri akut jika ditangani dengan baik, maka tidak akan berpotensi menjadi nyeri kronis. 

Nyeri kronis setelah operasi selain menimbulkan rasa tidak nyaman, menurut dr. Alit juga dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, baik dari segi fungsional fisik maupun kesehatan emosional pasien. “Untuk itu penanganannya harus dilakukn dengan baik, dalam proses penyembuhannya, seorang dokter harus bisa percaya dengan keluhan sang pasien, karena sifat dari nyeri ini adalah subyektif yang hanya bisa dirasakan oleh pasien saja,” paparnya.

Baca Juga :  Tanda Menopause, Vagina Kering dan Kurang Elastis

Selain kepercayaan dokter kepada pasien terhadap rasa nyeri yang dialami, pennganan nyeri pada pasien pasca operasi ini, juga bisa dilakukan dengan terapi obat-obatan hingga terapi fisik. Pennganan nyeri ini hatus segera dilakukan dengan baik. 

Karena jika tidak ditangani dengan baik rasa nyeri ini bisa mempengaruhi kerja sistem organ tubuh. “Mulai dari peningkatan kadar gula darah, memperburuk sistem kerja paru-paru, hingga mempengaruhi detak jantung dan sistem saraf pusat,” tambahnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS- Nyeri pasca operasi saat ini menjadi salah satu momok di masyarakat, sehingga banyak orang yang enggan untuk melakukan tindakan pembedahan ini karena merasa tidak nyaman dengan rasa nyeri yang ditimbulkan pasca operasi. Apa sebenarnya yang menyebabkan rasa nyeri pasca operasi dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan?

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) Cabng Bali, dr. I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa, Sp.An., KAR., FIPM., menjelaskan rasa nyeri pasca operasi memang sering kali terjadi akibat adanya kerusakan jaringan kulir, otot, lemak dan jaringan kulit lainnya. “Ketika proses operasi, kan ada luka sayatan, proses penyayatan inilah yang sering kali bisa merusak jaringan kulit, lemak, otot dn lain sebagainya pada tubuh manusia, kerusakan jatingan inilah yang menyebabkan nyeri pasca operasi,” jelasnya.

Nyeri pasca operasi ini, dilanjutkan dr. Alit ada dua jenis, yakni nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut adalah nyeri yang ditimbulkan setelah operasi (ketika luka operasi belum sembuh) sedangkan nyeri kronis adalah rasa nyeri yang masih dirasakan oleh pasien meskipun luka operasi sudah sembuh.

Baca Juga :  Kisah Ni Made Werti yang Alami Kelainan Saraf di Tabanan

Rasa nyeri kronis ini, menurut dr. Alit terjadi karena pada jaringan (sirkuit) rasa nyeri tersebut masih terjadi proses penyembuhan. “Biasanya rasa nyeri di sekitar sirkuit nyeri ini akan melibatkan sistem saraf pusat, sistem sensorik dan sistem tulang belakang manusia, sehingga kondisi nyeri kronis ini lebih kompleks,” paparnya.

Untuk penngannya sendiri, dr. Alit menyebutkan lebih mudah menangani nyeri akut jika dibandingkan dengan nyeri kronis. Karena pennganan nyeri akut jika ditangani dengan baik, maka tidak akan berpotensi menjadi nyeri kronis. 

Nyeri kronis setelah operasi selain menimbulkan rasa tidak nyaman, menurut dr. Alit juga dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, baik dari segi fungsional fisik maupun kesehatan emosional pasien. “Untuk itu penanganannya harus dilakukn dengan baik, dalam proses penyembuhannya, seorang dokter harus bisa percaya dengan keluhan sang pasien, karena sifat dari nyeri ini adalah subyektif yang hanya bisa dirasakan oleh pasien saja,” paparnya.

Baca Juga :  Perlu Kewaspadaan Nasional pada Penularan Penyakit Cacar Monyet

Selain kepercayaan dokter kepada pasien terhadap rasa nyeri yang dialami, pennganan nyeri pada pasien pasca operasi ini, juga bisa dilakukan dengan terapi obat-obatan hingga terapi fisik. Pennganan nyeri ini hatus segera dilakukan dengan baik. 

Karena jika tidak ditangani dengan baik rasa nyeri ini bisa mempengaruhi kerja sistem organ tubuh. “Mulai dari peningkatan kadar gula darah, memperburuk sistem kerja paru-paru, hingga mempengaruhi detak jantung dan sistem saraf pusat,” tambahnya.


Most Read

Artikel Terbaru