alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Sahnuddin Pembuat Perahu Karet

Biasanya masyarakat yang ingin menyebrang dari Bali menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat melalui Pelabuhan Padangbai, Manggis, Karangasem. Bahkan untuk sampai ditujuan memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi siapa sangka, ternyata menyebrang kesana bisa ditempuh dengan waktu yang lebih singkat.

I WAYAN ADI PRABAWA, KARANGASEM

Seperti yang dilakukan Sahnuddin, warga asal Ujung Pesisi, Karangasem ini, menyebrang ke Lombok bagaikan lintasan jalan raya dari Karangasem menuju Denpasar. Menyebrang ke Lombok tak hanya sekali dua kali dilakukan olehnya, melainkan sudah beberapa kali ditempuh.

Dengan mempergunakan perahu karet yang dilengkapi dengan mesin 15 pk, pria yang akrab disapa Nun ini hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam 20 menit untuk sampai di Lombok. Perahu karet tersebut merupakan buatannya sendiri dengan berbahan hampir sepenuhnya menggunakan spons. Hanya bagian jerupihnya saja menggunakan kayu. “Kadang-kadang satu hari bisa dua kali saya ke Lombok,” ujarnya.

Nun melakukan perjalanan menuju Lombok menggunakan perahu yang diberi nama Anti Gallao tersebut sebagai ajang percobaan keamanan perahu karet itu sendiri, karena ia ingin menjual buatannya kepada orang lain. “Sengaja main-main saja ke Lombok, uji coba safety nya di laut, ternyata memang betul-betul safety. Sekalian promo,” ungkapnya.

Nun sendiri sudah mulai membuat perahu karet ini dari enam tahun lalu, tetapi, ini baru dibisniskan sejak awal-awal pandemi Covid-19 melanda. Terhitung, dari pertama kali ia mulai menjual karyanya, lebih dari 500 unit dari berbagai ukuran sudah berhasil dijual olehnya. “Empat setengah tahun saya uji coba sendiri, ternyata kuat. Saya tanya ke teman-teman, berani atau tidak menjual ke luar daerah, dan responsnya bagus,” lanjutnya.

Kini, selain dibeli oleh nelayan lokal Bali, penjualan Nun sudah merambah hampir ke seluruh Indonesia. Banyak pesanan yang sudah ia terima dari nelayan luar Bali. “Hampir seluruh Indonesia sudah terkirim, kecuali Aceh,” ucapnya.

Satu perahu karet yang berukuran panjang 10 meter, dengan lebar 1,6 meter, dan tinggi 65 cm dibuatnya sendiri dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Nantinya itu akan dijual dengan harga Rp 10 juta. Tetapi, ia mengaku tidak hanya ukuran itu saja yang dikerjakan, tetapi berbagai ukuran, dari yang kecil hingga yang besar. “Harganya mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 45 juta,” bebernya.

Untuk saat ini, dirinya sedang mengerjakan pesanan dari luar Bali sebanyak 15 unit perahu karet. Diakui olehnya, saat ini ia mengajak tiga orang lainnya untuk membantu mengerjakan itu, tetapi dirinya lah yang masih dominan mengerjakan itu. “Untuk bikin yang bagus, yang rapi, takut tidak sesuai dengan keinginan,” jelasnya, sembari menyebut bahwa dirinya saat ini sedang tidak menyanggupi pesanan yang lain.

Karena ini satu-satunya di Indonesia, dirinya mengaku sudah sempat dikunjungi beberapa kali oleh dirjen perindustrian pusat. Bahkan sempat diajak keliling Indonesia untuk mempromisikan karyanya, tetapi dirinya tidak mau, karena ingin fokus membuat hak paten. “Sudah diisi formulirnya tetapi belum disetorkan ke Dinas Pariwisata Kabupaten,” katanya sambil tertawa.

Sebelum membuat perahu karet, Nun ini bekerja sebagai pengepul ikan, karena memang memiliki hobi untuk melaut, ia berpikir supaya tidak merepotkan orang lain, oleh karena itu ia mencoba membuat perahu karet tersebut. “Gimana caranya saya bikin alat yang bisa saya gunakan tanpa merepotkan orang lain, mulai dari angkat sendiri, turunin sendiri. Bikin lah ini, karena ringan, bobotnya palingan tidak sampai 100 kilogram,” jelasnya. (dir)

 


Biasanya masyarakat yang ingin menyebrang dari Bali menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat melalui Pelabuhan Padangbai, Manggis, Karangasem. Bahkan untuk sampai ditujuan memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi siapa sangka, ternyata menyebrang kesana bisa ditempuh dengan waktu yang lebih singkat.

I WAYAN ADI PRABAWA, KARANGASEM

Seperti yang dilakukan Sahnuddin, warga asal Ujung Pesisi, Karangasem ini, menyebrang ke Lombok bagaikan lintasan jalan raya dari Karangasem menuju Denpasar. Menyebrang ke Lombok tak hanya sekali dua kali dilakukan olehnya, melainkan sudah beberapa kali ditempuh.

Dengan mempergunakan perahu karet yang dilengkapi dengan mesin 15 pk, pria yang akrab disapa Nun ini hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam 20 menit untuk sampai di Lombok. Perahu karet tersebut merupakan buatannya sendiri dengan berbahan hampir sepenuhnya menggunakan spons. Hanya bagian jerupihnya saja menggunakan kayu. “Kadang-kadang satu hari bisa dua kali saya ke Lombok,” ujarnya.

Nun melakukan perjalanan menuju Lombok menggunakan perahu yang diberi nama Anti Gallao tersebut sebagai ajang percobaan keamanan perahu karet itu sendiri, karena ia ingin menjual buatannya kepada orang lain. “Sengaja main-main saja ke Lombok, uji coba safety nya di laut, ternyata memang betul-betul safety. Sekalian promo,” ungkapnya.

Nun sendiri sudah mulai membuat perahu karet ini dari enam tahun lalu, tetapi, ini baru dibisniskan sejak awal-awal pandemi Covid-19 melanda. Terhitung, dari pertama kali ia mulai menjual karyanya, lebih dari 500 unit dari berbagai ukuran sudah berhasil dijual olehnya. “Empat setengah tahun saya uji coba sendiri, ternyata kuat. Saya tanya ke teman-teman, berani atau tidak menjual ke luar daerah, dan responsnya bagus,” lanjutnya.

Kini, selain dibeli oleh nelayan lokal Bali, penjualan Nun sudah merambah hampir ke seluruh Indonesia. Banyak pesanan yang sudah ia terima dari nelayan luar Bali. “Hampir seluruh Indonesia sudah terkirim, kecuali Aceh,” ucapnya.

Satu perahu karet yang berukuran panjang 10 meter, dengan lebar 1,6 meter, dan tinggi 65 cm dibuatnya sendiri dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Nantinya itu akan dijual dengan harga Rp 10 juta. Tetapi, ia mengaku tidak hanya ukuran itu saja yang dikerjakan, tetapi berbagai ukuran, dari yang kecil hingga yang besar. “Harganya mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 45 juta,” bebernya.

Untuk saat ini, dirinya sedang mengerjakan pesanan dari luar Bali sebanyak 15 unit perahu karet. Diakui olehnya, saat ini ia mengajak tiga orang lainnya untuk membantu mengerjakan itu, tetapi dirinya lah yang masih dominan mengerjakan itu. “Untuk bikin yang bagus, yang rapi, takut tidak sesuai dengan keinginan,” jelasnya, sembari menyebut bahwa dirinya saat ini sedang tidak menyanggupi pesanan yang lain.

Karena ini satu-satunya di Indonesia, dirinya mengaku sudah sempat dikunjungi beberapa kali oleh dirjen perindustrian pusat. Bahkan sempat diajak keliling Indonesia untuk mempromisikan karyanya, tetapi dirinya tidak mau, karena ingin fokus membuat hak paten. “Sudah diisi formulirnya tetapi belum disetorkan ke Dinas Pariwisata Kabupaten,” katanya sambil tertawa.

Sebelum membuat perahu karet, Nun ini bekerja sebagai pengepul ikan, karena memang memiliki hobi untuk melaut, ia berpikir supaya tidak merepotkan orang lain, oleh karena itu ia mencoba membuat perahu karet tersebut. “Gimana caranya saya bikin alat yang bisa saya gunakan tanpa merepotkan orang lain, mulai dari angkat sendiri, turunin sendiri. Bikin lah ini, karena ringan, bobotnya palingan tidak sampai 100 kilogram,” jelasnya. (dir)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/