alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Moyamoya, Pemicu Stroke pada Usia Muda

DENPASAR, BALI EXPRESS – Penyakit stroke saat ini tidak saja menjadi penyakit bagi kaum lansia saja, namun penyakit ini juga menjadi penyakit yang bisa membunuh kelompok usia produktif dengan cepat. Khusus untuk kelompok usia produktif ini, penyakit stroke biasanya disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah penyakit Moyamoya.

Staf Divisi Neurovaskular Departemen Neurologi FK Unud/RSUP Sanglah, dr, Nyoman Angga Krishna Pramana, Sp.N, FINR, menyebutkan penyakit Moyamoya adalah gangguan pembuluh darah otak yang ditandai dengan penyempitan atau sumbatan progresif dari pembuluh darah. “Hal ini mengakibatkan berkurangnya aliran darah ke otak,” jelasnya.

Pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat dapat menyebabkan keluhan transient ischemic attack dan stroke penyumbatan. Sedangkan pembuluh darah kecil-kecil yang dibentuk alamiah oleh otak sangat rentah pecah yang dapat menyebabkan stroke perdarahan.

Nama Moyamoya berasal dari bahasa Jepang yang berarti asap rokok. Karena gambaran khas khas seperti asap rokok ditemukan ketika pasien melakukan pemeriksaan CT scan kepala. Penyakit Moyamoya dapat terjadi pada semua usia meskipun paling sering ditemukan pada anak-anak berusia 10-20 tahun.

Penyakit Moyamoya ditemukan di seluruh dunia, akan tetapi lebih sering terjadi di negara-negara Asia Timur, yakni Korea, Jepang dan Tiongkok. “Namun juga bisa teejadi di Indonesia akibat gaya hidup masyarakat yang mengalami sudah mengalami perubahan,” lanjutnya.

Adapun gejala penyakit moyamoya diakui dr. Angga hampir sama dengan gejala steoke pada umumnya, seperti, separuh tubuh yang melemah, kesemutan yang intens pada satu sisi tubuh, bibir mencong, bicara mula pelo,nyeri kepala, gangguan kognitif, gangguan involunter hingga penurunan kesadaran.

Untik pengobatannya, dr. Angga menyebutkan obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk mencegah terjadinya serangan stroke berulang dan mengurangi gejala akibat stroke yang terjadi. Beberapa jenis operasi dapat dipilih untuk melakukan revaskularisasi (memperbaiki aliran darah) ke otak dengan melebarkan pembuluh darah yang sempit atau memberikan jalan pintas (bypass) ke pembuluh darah yang tersumbat alirannya. Anak-anak biasanya memiliki respon yang lebih baik pada revaskularisasi. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Penyakit stroke saat ini tidak saja menjadi penyakit bagi kaum lansia saja, namun penyakit ini juga menjadi penyakit yang bisa membunuh kelompok usia produktif dengan cepat. Khusus untuk kelompok usia produktif ini, penyakit stroke biasanya disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah penyakit Moyamoya.

Staf Divisi Neurovaskular Departemen Neurologi FK Unud/RSUP Sanglah, dr, Nyoman Angga Krishna Pramana, Sp.N, FINR, menyebutkan penyakit Moyamoya adalah gangguan pembuluh darah otak yang ditandai dengan penyempitan atau sumbatan progresif dari pembuluh darah. “Hal ini mengakibatkan berkurangnya aliran darah ke otak,” jelasnya.

Pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat dapat menyebabkan keluhan transient ischemic attack dan stroke penyumbatan. Sedangkan pembuluh darah kecil-kecil yang dibentuk alamiah oleh otak sangat rentah pecah yang dapat menyebabkan stroke perdarahan.

Nama Moyamoya berasal dari bahasa Jepang yang berarti asap rokok. Karena gambaran khas khas seperti asap rokok ditemukan ketika pasien melakukan pemeriksaan CT scan kepala. Penyakit Moyamoya dapat terjadi pada semua usia meskipun paling sering ditemukan pada anak-anak berusia 10-20 tahun.

Penyakit Moyamoya ditemukan di seluruh dunia, akan tetapi lebih sering terjadi di negara-negara Asia Timur, yakni Korea, Jepang dan Tiongkok. “Namun juga bisa teejadi di Indonesia akibat gaya hidup masyarakat yang mengalami sudah mengalami perubahan,” lanjutnya.

Adapun gejala penyakit moyamoya diakui dr. Angga hampir sama dengan gejala steoke pada umumnya, seperti, separuh tubuh yang melemah, kesemutan yang intens pada satu sisi tubuh, bibir mencong, bicara mula pelo,nyeri kepala, gangguan kognitif, gangguan involunter hingga penurunan kesadaran.

Untik pengobatannya, dr. Angga menyebutkan obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk mencegah terjadinya serangan stroke berulang dan mengurangi gejala akibat stroke yang terjadi. Beberapa jenis operasi dapat dipilih untuk melakukan revaskularisasi (memperbaiki aliran darah) ke otak dengan melebarkan pembuluh darah yang sempit atau memberikan jalan pintas (bypass) ke pembuluh darah yang tersumbat alirannya. Anak-anak biasanya memiliki respon yang lebih baik pada revaskularisasi. 


Most Read

Artikel Terbaru

/