26.5 C
Denpasar
Friday, February 3, 2023

Mengenal Dialisis, Metode Cuci Darah Untuk Pasien Keracunan

DENPASAR, BALI EXPRESS- Hebohnya kasus napi Lapas Kerobokan yang mengalami keracunan akibat menegak larutan disinfektan, tidak saja meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga pasien meninggal.

Namun kejadian tersebut juga membawa efek lanjutan bagi pasien yang hingga kini masih dirawat intensif karena gagal ginjal. Karena mengalami gagal fungsi ginjal, maka pasien tersebut harus melakukan perawatan cuci darah atau dialisis. Apa itu tindakan dialisis dan siapa saja yang bisa menjalaninya?

Dr dr. Yeny Kandarini, Sp.PD,KGH, FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal & Hypertensi RSUP mengatakan, dialisis atau dalam istilah awam dikenal dengan cuci darah merupakan prosedur medis untuk membuang racun yang menumpuk dalam tubuh. “Selama ini, metode dialisis dikenal dilakukan pada orang dengan gagal ginjal,” jelasnya.

Baca Juga :  Perbekel Keracunan Coolant Didatangi Manajemen Distribusi

Namun, selain gagal ginjal ada beberapa penyakit lainnya yang membutuhkan cuci darah. Beberapa penyakit itu di antaranya keracunan dan sepsis. Sepsis sendiri merupakan kondisi medis di mana seluruh tubuh mengalami peradangan akibat infeksi. 

Sepsis adalah komplikasi yang jarang terjadi, tapi sangat berbahaya dari suatu penyakit. Pada beberapa kasus keracunan dan sepsis, racun dan bakteri menyerang fungsi ginjal. Sehingga, ginjal tak bisa bekerja sebagaimana mestinya

Gangguan ginjal itu biasanya terjadi secara akut sehingga membutuhkan penanganan segera. “Pada tahap ini, metode cuci darah dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal sementara. Pada keracunan dan dan sepsis karena bakteri berat umumnya akut dan secara mendadak, tidak seumur hidup seperti gagal ginjal,” lanjutnya.

Baca Juga :  Mengenal Kaki Diabetes, Komplikasi Diabetes Penyebab Amputasi

Hal ini berbeda dengan gagal ginjal yang memerlukan proses dialisis terus menerus atau seumur hidup. Dialisis pada gagal ginjal dilakukan karena ginjal tidak lagi berfungsi dan tidak bisa ditangani secara konservatif melalui diet dan obat-obatan.

Pada dialisis menggunakan mesin atau dikenal dengan hemodialisis, proses dilakukan dengan menggunakan tiga komponen utama yakni mesin hemodialisis, selang hemodialisis (blood tubing), dan dialiser (ginjal buatan). Ginjal buatan itu memiliki kapiler-kapiler halus untuk memisahkan racun dari darah. 


DENPASAR, BALI EXPRESS- Hebohnya kasus napi Lapas Kerobokan yang mengalami keracunan akibat menegak larutan disinfektan, tidak saja meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga pasien meninggal.

Namun kejadian tersebut juga membawa efek lanjutan bagi pasien yang hingga kini masih dirawat intensif karena gagal ginjal. Karena mengalami gagal fungsi ginjal, maka pasien tersebut harus melakukan perawatan cuci darah atau dialisis. Apa itu tindakan dialisis dan siapa saja yang bisa menjalaninya?

Dr dr. Yeny Kandarini, Sp.PD,KGH, FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal & Hypertensi RSUP mengatakan, dialisis atau dalam istilah awam dikenal dengan cuci darah merupakan prosedur medis untuk membuang racun yang menumpuk dalam tubuh. “Selama ini, metode dialisis dikenal dilakukan pada orang dengan gagal ginjal,” jelasnya.

Baca Juga :  Mengenal Tenganan Pegringsingan yang Dinobatkan Jadi Desa Tua Terbaik

Namun, selain gagal ginjal ada beberapa penyakit lainnya yang membutuhkan cuci darah. Beberapa penyakit itu di antaranya keracunan dan sepsis. Sepsis sendiri merupakan kondisi medis di mana seluruh tubuh mengalami peradangan akibat infeksi. 

Sepsis adalah komplikasi yang jarang terjadi, tapi sangat berbahaya dari suatu penyakit. Pada beberapa kasus keracunan dan sepsis, racun dan bakteri menyerang fungsi ginjal. Sehingga, ginjal tak bisa bekerja sebagaimana mestinya

Gangguan ginjal itu biasanya terjadi secara akut sehingga membutuhkan penanganan segera. “Pada tahap ini, metode cuci darah dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal sementara. Pada keracunan dan dan sepsis karena bakteri berat umumnya akut dan secara mendadak, tidak seumur hidup seperti gagal ginjal,” lanjutnya.

Baca Juga :  Ustadz Maruli Hasibuan: Masyarakat Majemuk Lebih Banyak Cari Persamaan

Hal ini berbeda dengan gagal ginjal yang memerlukan proses dialisis terus menerus atau seumur hidup. Dialisis pada gagal ginjal dilakukan karena ginjal tidak lagi berfungsi dan tidak bisa ditangani secara konservatif melalui diet dan obat-obatan.

Pada dialisis menggunakan mesin atau dikenal dengan hemodialisis, proses dilakukan dengan menggunakan tiga komponen utama yakni mesin hemodialisis, selang hemodialisis (blood tubing), dan dialiser (ginjal buatan). Ginjal buatan itu memiliki kapiler-kapiler halus untuk memisahkan racun dari darah. 


Most Read

Artikel Terbaru