alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Mengenang Tjokorda Rai Pudak, Kemejanya Dipamerkan di Belanda (4-HABIS)

Membuat Sedih Pengunjung, Cucu dan Cicit Selalu Merasakan Atmosfer Perjuangan

PAMERAN ”Revolusi” bermaksud memberikan jawaban kepada generasi ketiga Belanda tentang apa yang terjadi di Indonesia pada masa sesudah kemerdekaan. Mediumnya ratusan benda personal dan karya seni yang dipinjam dari berbagai negara.

K.C. Taylor  terpaku di depan etalase yang berisi sebuah kemeja lusuh penuh lubang di sana-sini. Paling terlihat adalah koyak besar di sebelah kanan bagian dada kemeja itu. Sejenak kemudian Taylor membaca keterangan yang tertera di samping kemeja tersebut.

Di sana tertulis itu adalah seragam tempur milik Tjokorda Rai Pudak, seorang pejuang kemerdekaan dari Bali. Rupanya, lubang menganga di kemeja tersebut berasal dari tembakan tentara Belanda yang menembus dada kanannya sehingga membuat dia terbunuh. Usianya 42 tahun ketika peluru tentara patroli Belanda menembus dadanya di Ubud pada 9 Oktober 1946.

’’Ini sangat berkesan buat saya, sekaligus sangat menyedihkan. Saya bisa membayangkan bagaimana upaya sebuah negara berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya saat menyaksikan pameran ini,’’ ungkap K.C. Taylor   saat ditemui di sela Pameran Revolusi di Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, pada Rabu (1/6).

Bagi Taylor, pesan yang ingin disampaikan dalam pameran tersebut sangat personal dan menyentuh hati. Sangat mendalam. Dia mengatakan, kegetiran yang menganga dalam situasi penuh kekacauan itu tergambar jelas melalui kisah yang menyertai benda-benda yang dipajang dalam pameran tersebut.

Pameran itu menyoroti era 1945–1949, masa setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Atau yang biasa disebut ’’masa revolusi’ atau ’’revolusi bergerak’’. Di sisi lain, Belanda ingin kembali menduduki Indonesia setelah sekutu memenangkan Perang Dunia II.

SAAT MUDA : Tjokorda Rai Pudak saat masih muda. (ISTIMEWA)

Meskipun raga Tjokorda Rai Pudak telah tiada, namun jasa dan semangatnya selalu terkenang. Tak terkecuali dihati para cucu dan cicitnya. Tjokorda Rai Pudak kini telah memiliki 10 cucu dan 25 cicit.

Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak, anak ketiga dari Tjokorda Dalem Pudakk (anak sulung), mengatakan bahwa para cucu dan cicit dari Tjokorda Rai Pudak memang telah mengetahui jika Tukak (kakek) Tu Kompyang (buyut) mereka merupakan seorang pejuang kemerdekaan berdasarkan cerita dari Tjokorda Dalem Pudakk (ayah dan kakek).

“Disamping itu bukti fisik juga ada berupa baju itu. Sehingga dikeluarga kami ini terbangun atmosfer perjuangan, bagaimana dijaman itu seorang bangsawan, berpendidikan tinggi, yang semestinya bisa menjadi pegawai atau pejabat yang berkedudukan tinggi justru terusik oleh idelismenya sebagai anak bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan,” ujarnya.

 

Menurut pria yang akrab disampai Cok Kris tersebut, itu menjadi salah satu hal yang ia banggakan dari Tukak-nya. Meski disatu sisi dirinya heran, kenapa bisa Tjokorda Rai Pudak meninggalkan semua zona nyamannya tersebut dan memilih meninggalkan keluarga, anak, dan istrinya untuk berperang

 

“Ini yang paling luar biasa menurut saya. Karena kita tahu, tidak semua orang apalagi bangsawan dari Puri yang mau berjuang, dengan satu tekad menjadi bagian sejarah perjuangan untuk Indonesia merdeka, padahal resikonya sangat besar, bisa disiksa, dipenjara bahkan dieksusi langsung,” tegasnya.

 

Ia pun memetik semangat dari perjuangan Tukak-nya tersebut dan ditanamkan kepada anak-anaknya atau cicit dari Tjokorda Rai Pudak. Dimana sebagai seorang anak bangsa harus bisa lebih menghargai jasa-jasa pejuang yang telah berjuang memperjuangkan kemerdekaan. “Jika dibandingkan dengan perjuangan beliau dulu, kita sekarang ini sudah hidup nyaman. Tinggal sekarang bagaimana kita mengisi kemerdekaan, jadi saya prihatin kalau ada generasi muda yang mengeluh,” sebut pria yang merupakan pengusaha tersebut.

 

Dan tentunya ia sangat bangga bangga namun juga sedih. Sebab tidak pernah bertemu secara langsung dengan Tukak-nya dan tidak pernah merasakan kisah-kisah bagaimana layaknya hubungan seorang kakek dengan cucunya. “Bangga sudah pasti, tapi sedih juga karena saya tidak pernah bertemu langsung dengan Tukak dan Tu Niang,” lanjutnya.

Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak saat sembahyang dan nyekar ke makam Tjokorda Rai Pudak di TMP Margarana. (ISTIMEWA)

Rasa bangga itu juga muncuk ketika mengetahui jika nama Tukak-nya dijadikan nama jalan di salah satu ruas jalan di Ubud. Meski tak tahu pasti siapa yang mengusulkan dan bagaimana prosesnya, pihaknya ingin agar nama Tjokorda Rai Pudak bisa dikenang utamanya mengenai perjuangannya.

 

Cok Kris pun selalu menyempatkan diri untuk datang ke makam Tukak-nya di TMP Margarana. Karena meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, ia merasa dekat dengan sang kakek saat mengunjungi makamnya. (habis)


PAMERAN ”Revolusi” bermaksud memberikan jawaban kepada generasi ketiga Belanda tentang apa yang terjadi di Indonesia pada masa sesudah kemerdekaan. Mediumnya ratusan benda personal dan karya seni yang dipinjam dari berbagai negara.

K.C. Taylor  terpaku di depan etalase yang berisi sebuah kemeja lusuh penuh lubang di sana-sini. Paling terlihat adalah koyak besar di sebelah kanan bagian dada kemeja itu. Sejenak kemudian Taylor membaca keterangan yang tertera di samping kemeja tersebut.

Di sana tertulis itu adalah seragam tempur milik Tjokorda Rai Pudak, seorang pejuang kemerdekaan dari Bali. Rupanya, lubang menganga di kemeja tersebut berasal dari tembakan tentara Belanda yang menembus dada kanannya sehingga membuat dia terbunuh. Usianya 42 tahun ketika peluru tentara patroli Belanda menembus dadanya di Ubud pada 9 Oktober 1946.

’’Ini sangat berkesan buat saya, sekaligus sangat menyedihkan. Saya bisa membayangkan bagaimana upaya sebuah negara berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya saat menyaksikan pameran ini,’’ ungkap K.C. Taylor   saat ditemui di sela Pameran Revolusi di Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, pada Rabu (1/6).

Bagi Taylor, pesan yang ingin disampaikan dalam pameran tersebut sangat personal dan menyentuh hati. Sangat mendalam. Dia mengatakan, kegetiran yang menganga dalam situasi penuh kekacauan itu tergambar jelas melalui kisah yang menyertai benda-benda yang dipajang dalam pameran tersebut.

Pameran itu menyoroti era 1945–1949, masa setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Atau yang biasa disebut ’’masa revolusi’ atau ’’revolusi bergerak’’. Di sisi lain, Belanda ingin kembali menduduki Indonesia setelah sekutu memenangkan Perang Dunia II.

SAAT MUDA : Tjokorda Rai Pudak saat masih muda. (ISTIMEWA)

Meskipun raga Tjokorda Rai Pudak telah tiada, namun jasa dan semangatnya selalu terkenang. Tak terkecuali dihati para cucu dan cicitnya. Tjokorda Rai Pudak kini telah memiliki 10 cucu dan 25 cicit.

Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak, anak ketiga dari Tjokorda Dalem Pudakk (anak sulung), mengatakan bahwa para cucu dan cicit dari Tjokorda Rai Pudak memang telah mengetahui jika Tukak (kakek) Tu Kompyang (buyut) mereka merupakan seorang pejuang kemerdekaan berdasarkan cerita dari Tjokorda Dalem Pudakk (ayah dan kakek).

“Disamping itu bukti fisik juga ada berupa baju itu. Sehingga dikeluarga kami ini terbangun atmosfer perjuangan, bagaimana dijaman itu seorang bangsawan, berpendidikan tinggi, yang semestinya bisa menjadi pegawai atau pejabat yang berkedudukan tinggi justru terusik oleh idelismenya sebagai anak bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan,” ujarnya.

 

Menurut pria yang akrab disampai Cok Kris tersebut, itu menjadi salah satu hal yang ia banggakan dari Tukak-nya. Meski disatu sisi dirinya heran, kenapa bisa Tjokorda Rai Pudak meninggalkan semua zona nyamannya tersebut dan memilih meninggalkan keluarga, anak, dan istrinya untuk berperang

 

“Ini yang paling luar biasa menurut saya. Karena kita tahu, tidak semua orang apalagi bangsawan dari Puri yang mau berjuang, dengan satu tekad menjadi bagian sejarah perjuangan untuk Indonesia merdeka, padahal resikonya sangat besar, bisa disiksa, dipenjara bahkan dieksusi langsung,” tegasnya.

 

Ia pun memetik semangat dari perjuangan Tukak-nya tersebut dan ditanamkan kepada anak-anaknya atau cicit dari Tjokorda Rai Pudak. Dimana sebagai seorang anak bangsa harus bisa lebih menghargai jasa-jasa pejuang yang telah berjuang memperjuangkan kemerdekaan. “Jika dibandingkan dengan perjuangan beliau dulu, kita sekarang ini sudah hidup nyaman. Tinggal sekarang bagaimana kita mengisi kemerdekaan, jadi saya prihatin kalau ada generasi muda yang mengeluh,” sebut pria yang merupakan pengusaha tersebut.

 

Dan tentunya ia sangat bangga bangga namun juga sedih. Sebab tidak pernah bertemu secara langsung dengan Tukak-nya dan tidak pernah merasakan kisah-kisah bagaimana layaknya hubungan seorang kakek dengan cucunya. “Bangga sudah pasti, tapi sedih juga karena saya tidak pernah bertemu langsung dengan Tukak dan Tu Niang,” lanjutnya.

Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak saat sembahyang dan nyekar ke makam Tjokorda Rai Pudak di TMP Margarana. (ISTIMEWA)

Rasa bangga itu juga muncuk ketika mengetahui jika nama Tukak-nya dijadikan nama jalan di salah satu ruas jalan di Ubud. Meski tak tahu pasti siapa yang mengusulkan dan bagaimana prosesnya, pihaknya ingin agar nama Tjokorda Rai Pudak bisa dikenang utamanya mengenai perjuangannya.

 

Cok Kris pun selalu menyempatkan diri untuk datang ke makam Tukak-nya di TMP Margarana. Karena meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, ia merasa dekat dengan sang kakek saat mengunjungi makamnya. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/