alexametrics
24.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Mengenang Tjokorda Rai Pudak, Kemejanya Dipamerkan di Belanda (3)

Tjokorda Dalem Pudak Sempat Jadi Bupati Gianyar

TJOKORDA Gede Dalem Pudak putra dari Tjokorda Rai Pudak, juga sempat menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Gianyar periode 1963 sampai 1964, atau sebelum dirinya bertugas ke Lampung. Ia menjabat sesuai Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U .P.14/1/2-2 tanggal 18 Desember 1964.

 

 

 

Meskipun menjabat hanya satu tahun, menurut Cok Kris kepemimpinan sang ayah sangat dikenang oleh masyarakat Gianyar. Dimana Cok Dalem Rai sering kali terjun langsung ke masyarakat atau blusukan ala-ala Presiden Jokowi. “Menurut cerita-cerita yang saya dengar model-model seperti itu yang dilakukan Ajung, sehingga sangat dikenang masyarakat,” ujarnya.

 

Cok Dalem Pudak juga sempat ditawarkan untuk masuk partai agar bisa menjadi Bupati seterusnya, namun ia menolak. “Kata Ajung, beliau tidak mau berpartai, karena kalau berpartai akan ditarik sana-sini, sedangkan beliau itu adalah milik rakyat. Padahal beliau tahu betul seluk beluk partai-partai yang ada,” tandasnya.

 

Setelah lulus sebagai Dokter Hewan, Tjokorda Gede Dalem Pudakk kemudian mempersunting wanita pujaannya, Sherry Joseph yang kini bergelar Sherry Pudak. Keduanya kemudian dikaruniai empat orang anak yakni Tjokorda Gede Eka Utama Pudak, Tjokorda Gede Ari Arimbawa Pudak, Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak, Tjokorda Istri Edina Anggraeni Pudak. Dan dari keempat anaknya tersebut, dirinya telah dikaruniai 9 orang cucu.

MENIKAH : Tjokorda Dalem Pudak anak dari pahlawan Tjokorda Rai Pudak saat menikah. (ISTIMEWA)

Di tahun 1957, sang ibu wafat sehingga dirinya resmi menjadi yatim piatu. Namun ia tetap menjalani hidup dengan mandiri dan gigih sama seperti sang ayah. Selain menjadi PNS, Cok Dalem Pudak juga dipercaya mengurus usaha ekspor kopi milik iparnya di Lampung. Sehingga ia sekeluarga lama menetap di Lampung.

“Kalau ditotal sudah sekitar 50 tahun meninggalkan Bali. Tahun 1966 saya ke Lampung, disana saya banyak bertemu orang sehingga menjadi saudara dan sampai saat ini masih menjalin komunikasi,” ujarnya.

Namun sebelum ke Lampung, ia sempat tinggal di daerah Senen, Jakarta. Tidak heran jika Cok Dalem Pudak banyak memiliki kerabat yang hingga saat ini masih mengingat beliau, sebab dirinya merupakan sosok seorang dokter sekaligus pengusaha yang dermawan. Di Lampung dulu, dirinya berjasa membangun pura yang kini dijadikan Pura Jagatnata bagi umat Hindu di Lampung. Ia juga menyekolahkan empat orang anak dari salah seorang transmigran asal Desa Peliatan yang ia temui di Lampung. Bahkan kini keempat anak tersebut telah menjadi orang besar, ada yang menjadi anggota DPRD, hingga Camat.

 

“Itu bukan apa-apa, karena saya selalu mengingat pesan Ajung dan Ibu saya, bantulah siapa saja, dimana saja dan kapan saja dengan ikhlas dan tulus. Saya pegang teguh pesan itu,” tegasnya.

 

Terakhir, Cok Dalem Pudak bertugas di BPPH Kementerian Pertanian RI dan memutuskan kembali ke tanah kelahirannya tahun 2015. Meskipun kini, Cok Dalem Pudak sudah berusia 91 namun dirinya masih sangat antusias menceritakan pengalaman hidupnya serta cerita perjuangannya dimasa revolusi.

 

Ia juga masih sering menjalankan hobinya yakni menulis sajak, puisi serta pengalaman hidupnya. Tulisannya bahkan sudah ada yang dibukukan dengan judul ‘Mutiara Berserakan Dalam Gado-gado’. (bersambung)


TJOKORDA Gede Dalem Pudak putra dari Tjokorda Rai Pudak, juga sempat menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Gianyar periode 1963 sampai 1964, atau sebelum dirinya bertugas ke Lampung. Ia menjabat sesuai Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U .P.14/1/2-2 tanggal 18 Desember 1964.

 

 

 

Meskipun menjabat hanya satu tahun, menurut Cok Kris kepemimpinan sang ayah sangat dikenang oleh masyarakat Gianyar. Dimana Cok Dalem Rai sering kali terjun langsung ke masyarakat atau blusukan ala-ala Presiden Jokowi. “Menurut cerita-cerita yang saya dengar model-model seperti itu yang dilakukan Ajung, sehingga sangat dikenang masyarakat,” ujarnya.

 

Cok Dalem Pudak juga sempat ditawarkan untuk masuk partai agar bisa menjadi Bupati seterusnya, namun ia menolak. “Kata Ajung, beliau tidak mau berpartai, karena kalau berpartai akan ditarik sana-sini, sedangkan beliau itu adalah milik rakyat. Padahal beliau tahu betul seluk beluk partai-partai yang ada,” tandasnya.

 

Setelah lulus sebagai Dokter Hewan, Tjokorda Gede Dalem Pudakk kemudian mempersunting wanita pujaannya, Sherry Joseph yang kini bergelar Sherry Pudak. Keduanya kemudian dikaruniai empat orang anak yakni Tjokorda Gede Eka Utama Pudak, Tjokorda Gede Ari Arimbawa Pudak, Tjokorda Gede Esa Kresna Pudak, Tjokorda Istri Edina Anggraeni Pudak. Dan dari keempat anaknya tersebut, dirinya telah dikaruniai 9 orang cucu.

MENIKAH : Tjokorda Dalem Pudak anak dari pahlawan Tjokorda Rai Pudak saat menikah. (ISTIMEWA)

Di tahun 1957, sang ibu wafat sehingga dirinya resmi menjadi yatim piatu. Namun ia tetap menjalani hidup dengan mandiri dan gigih sama seperti sang ayah. Selain menjadi PNS, Cok Dalem Pudak juga dipercaya mengurus usaha ekspor kopi milik iparnya di Lampung. Sehingga ia sekeluarga lama menetap di Lampung.

“Kalau ditotal sudah sekitar 50 tahun meninggalkan Bali. Tahun 1966 saya ke Lampung, disana saya banyak bertemu orang sehingga menjadi saudara dan sampai saat ini masih menjalin komunikasi,” ujarnya.

Namun sebelum ke Lampung, ia sempat tinggal di daerah Senen, Jakarta. Tidak heran jika Cok Dalem Pudak banyak memiliki kerabat yang hingga saat ini masih mengingat beliau, sebab dirinya merupakan sosok seorang dokter sekaligus pengusaha yang dermawan. Di Lampung dulu, dirinya berjasa membangun pura yang kini dijadikan Pura Jagatnata bagi umat Hindu di Lampung. Ia juga menyekolahkan empat orang anak dari salah seorang transmigran asal Desa Peliatan yang ia temui di Lampung. Bahkan kini keempat anak tersebut telah menjadi orang besar, ada yang menjadi anggota DPRD, hingga Camat.

 

“Itu bukan apa-apa, karena saya selalu mengingat pesan Ajung dan Ibu saya, bantulah siapa saja, dimana saja dan kapan saja dengan ikhlas dan tulus. Saya pegang teguh pesan itu,” tegasnya.

 

Terakhir, Cok Dalem Pudak bertugas di BPPH Kementerian Pertanian RI dan memutuskan kembali ke tanah kelahirannya tahun 2015. Meskipun kini, Cok Dalem Pudak sudah berusia 91 namun dirinya masih sangat antusias menceritakan pengalaman hidupnya serta cerita perjuangannya dimasa revolusi.

 

Ia juga masih sering menjalankan hobinya yakni menulis sajak, puisi serta pengalaman hidupnya. Tulisannya bahkan sudah ada yang dibukukan dengan judul ‘Mutiara Berserakan Dalam Gado-gado’. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/