alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sanksinya Macaru Panca Sata Plus Berikan Beras 1 Kg per Warga

BALI EXPRESS, SINGARAJA – Ada cara unik yang dilakukan Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba. Caranya, dengan merancang Perarem untuk pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Sanksi terberatnya berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 10 tahun, pelaku wajib melaksanakan pecaruan manca sata dan memberikan beras 1 kilogram kepada seluruh krama desa pakraman.

Perarem ini dibuat bukanlah tanpa alasan. Mengingat Desa Kerobokan dengan jumlah penduduk 2.850 jiwa ini merupakan salah satu destinasi pariwisata di Buleleng. Tak pelak, desa ini sangat rentan menjadi sasaran penyalahgunaan dan peredaran narkotika. 

Perbekel Desa Kerobokan, I Putu Wisnu Wardana mengatakan, pihaknya saat ini sedang merancang awig-awig Desa Pakraman. Terobosan ini dilakukan demi menciptakan ketertiban dan keamanan. Tujuannya agar wilayah desa bebas dari penyalahgunaan dan peredaran narkotika dan sejenisnya. 

Dalam rancangan awig-awig tersebut, terdapat ancaman sanksi berupa denda bagi krama (warga) yang diputus bersalah di pengadilan karena terlibat kasus narkotika. Sanksinya pun beragam. Mulai dari ringan, sedang hingga berat.

Baca Juga :  Polisi Buru Ibu Pembuang Bayi, Dinsos Tanggung Biaya Perawatan Medis

“Rancangan sanksi sedang kami godok. Ada sanksi adat ringan, sedang dan berat. Sanksi berlaku jika krama diputus bersalah oleh pengadilan. Ya, berlaku bagi semua krama, baik krama mipil, krama tamiu dan tamiu,” ujar Perbekel  Wisnu.

Perbekel Wisnu merinci, untuk sanksi ringan berdasarkan putusan pengadilan hukuman dibawah 5 tahun, krama tersebut wajib melaksanakan pecaruan eka sata di catus pata. Jadwal pelaksanaan pecaruan sesuai dengan hari yang ditentukan oleh banjar atau desa pakraman. 

Sedangkan untuk sanksi sedang, berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 5 tahun, krama terbukti bersalah wajib melaksanakan pecaruan manca sata di catus pata. Dengan tambahan, sanksi beras sebanyak 1 kilogram dikalikan jumlah krama mipil (krama yang tercatat di desa pakraman, Red).

Selanjutnya, untuk sanksi adat berat, berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 10 tahun,  krama wajib melaksanakan pecaruan manca sata. Tak hanya itu, juga ada tambahan sanksi memberikan beras sebanyak 1 kilogram kepada seluruh krama desa pakraman. 

Baca Juga :  Sapi Rp 10 Juta Ditawar Rp 3 Juta, Akhirnya Ditinggal Mengungsi

Lalu bagaimana jika krama yang bersangkutan tidak menaati sanksi adat? Perbekel Wisnu memastikan tidak akan memberikan pelayanan administrasi dari desa dinas atau desa pakraman. 

Sementara, sanksi itupun berlaku surut bagi petugas atau prajuru desa serta pecalang.”Jika dinyatakan bersalah, prajuru atau pecalang itupun akan langsung diberhentikan secara tidak hormat berdasarkan hasil pasamuan desa. Lalu, langsung ditunjuk siapa penggantinya. Juga menghaturkan guru piduka di Pura Kahyangan Tiga,” ungkap Perbekel Wisnu. 

Persiapan dibentuknya Perarem tentang Narkotika mengacu pada pencanangan kawasan bebas narkoba bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Buleleng sudah dimulai sejak bulan Juli 2018 lalu.

“Pencanangan Desa Kerobokan sebagai kawasan bebas narkoba sudah, bahkan kami sempat membuat gebyar kawasan bebas narkoba. Nah sekarang, kita secepatnya akan garap peraremnya melalui paruman di desa pakraman kloncing dan kerobokan,” jelasnya.


BALI EXPRESS, SINGARAJA – Ada cara unik yang dilakukan Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba. Caranya, dengan merancang Perarem untuk pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Sanksi terberatnya berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 10 tahun, pelaku wajib melaksanakan pecaruan manca sata dan memberikan beras 1 kilogram kepada seluruh krama desa pakraman.

Perarem ini dibuat bukanlah tanpa alasan. Mengingat Desa Kerobokan dengan jumlah penduduk 2.850 jiwa ini merupakan salah satu destinasi pariwisata di Buleleng. Tak pelak, desa ini sangat rentan menjadi sasaran penyalahgunaan dan peredaran narkotika. 

Perbekel Desa Kerobokan, I Putu Wisnu Wardana mengatakan, pihaknya saat ini sedang merancang awig-awig Desa Pakraman. Terobosan ini dilakukan demi menciptakan ketertiban dan keamanan. Tujuannya agar wilayah desa bebas dari penyalahgunaan dan peredaran narkotika dan sejenisnya. 

Dalam rancangan awig-awig tersebut, terdapat ancaman sanksi berupa denda bagi krama (warga) yang diputus bersalah di pengadilan karena terlibat kasus narkotika. Sanksinya pun beragam. Mulai dari ringan, sedang hingga berat.

Baca Juga :  Pengungsi dalam Kandungan Meninggal, Keluarga Bingung Penguburannya

“Rancangan sanksi sedang kami godok. Ada sanksi adat ringan, sedang dan berat. Sanksi berlaku jika krama diputus bersalah oleh pengadilan. Ya, berlaku bagi semua krama, baik krama mipil, krama tamiu dan tamiu,” ujar Perbekel  Wisnu.

Perbekel Wisnu merinci, untuk sanksi ringan berdasarkan putusan pengadilan hukuman dibawah 5 tahun, krama tersebut wajib melaksanakan pecaruan eka sata di catus pata. Jadwal pelaksanaan pecaruan sesuai dengan hari yang ditentukan oleh banjar atau desa pakraman. 

Sedangkan untuk sanksi sedang, berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 5 tahun, krama terbukti bersalah wajib melaksanakan pecaruan manca sata di catus pata. Dengan tambahan, sanksi beras sebanyak 1 kilogram dikalikan jumlah krama mipil (krama yang tercatat di desa pakraman, Red).

Selanjutnya, untuk sanksi adat berat, berdasarkan putusan pengadilan hukuman diatas 10 tahun,  krama wajib melaksanakan pecaruan manca sata. Tak hanya itu, juga ada tambahan sanksi memberikan beras sebanyak 1 kilogram kepada seluruh krama desa pakraman. 

Baca Juga :  70 Gepeng Dikembalikan ke Kampung Halaman

Lalu bagaimana jika krama yang bersangkutan tidak menaati sanksi adat? Perbekel Wisnu memastikan tidak akan memberikan pelayanan administrasi dari desa dinas atau desa pakraman. 

Sementara, sanksi itupun berlaku surut bagi petugas atau prajuru desa serta pecalang.”Jika dinyatakan bersalah, prajuru atau pecalang itupun akan langsung diberhentikan secara tidak hormat berdasarkan hasil pasamuan desa. Lalu, langsung ditunjuk siapa penggantinya. Juga menghaturkan guru piduka di Pura Kahyangan Tiga,” ungkap Perbekel Wisnu. 

Persiapan dibentuknya Perarem tentang Narkotika mengacu pada pencanangan kawasan bebas narkoba bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Buleleng sudah dimulai sejak bulan Juli 2018 lalu.

“Pencanangan Desa Kerobokan sebagai kawasan bebas narkoba sudah, bahkan kami sempat membuat gebyar kawasan bebas narkoba. Nah sekarang, kita secepatnya akan garap peraremnya melalui paruman di desa pakraman kloncing dan kerobokan,” jelasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/