alexametrics
30.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Dampak Psikologis Penyitas Covid-19 Paling Susah Disembuhkan

DENPASAR, BALI EXPRESS- Selain menyembuhkan gejala dan penyakit penyerta pasien covid-19, ada faktor lain yang juga harus diperhatikan bagi panyitas covid-19. Salah satunya adalah dampak psikologis dari para pasien dan penyitas covid-19.

Psikolog RSUP Sanglah dr. Lyly Puspa Palupi S., MSi., mengatakan, dampak psikologis dari pasien dan penyitas covid-19 adalah faktor yang paling sulit untuk disembuhkan. “Ini karena masih adanya streotype negatif dari masyarakat terhadap pasien ataupun penyitas covid-19 sering kali membuat para pasien merasa tidak nyaman,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga saat ini masyarakat masih menganggap orang yang terpapar virus corona berpotensi menulari banyak orang sehingga mereka harus dikucilkan. Karena hal tersebut maka diakui dr. Lyly banyak pasien yang merasa cemas berlebihan, sehingga bisa menganggu proses kesembuhan pasien itu sendiri.

Ketidaknyamanan ini, berpotensi meningkatkan rasa cemas yang berlebihan sehingga berpotensi menurunkan daya tahan tubuh. Karena daya tahan tubuh pasien yang menurun, maka proses kesembuhan dari pasien inipun berlangsung lama. 

Lantas apa yang harus dilakukan? Menurut dr. Lyly, memberikan dukungan secara psikologi kepada pasien yang sedang dalam masa isolasi menjadi hal yang utama. Hal ini dikatakannya karena setiap pasien tidak sama dalam menyikapi paparan covid-19. 

Jika pasiennya bisa menerima bahwa terpapar virus corona adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat sesuai dengan protokol yang berlaku, maka pasien akan sembuh lebih cepat. “Namun jika pasiennya merasa sakit akibat terpapar virus corona adalah sakit yang berat, maka psikologi pasien akan terganggu hal inilah yang memicu stress berlebihan,” tambahnya.

Selama setahun dr. Lyly mengaku hampir sebagian besar pasien yang datang untuk berkonsultasi ke bagian psikologi RSUP Sanglah adalah pasien dengan gangguan kecemasan yang berlebihan. “Sekitar 70 persen pasien yang datang adalah mereka yang menderita gangguan kecemasan akibat streriotype negatif masyarakat terhadap pasien atau penyitas covid-19,” tambahnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS- Selain menyembuhkan gejala dan penyakit penyerta pasien covid-19, ada faktor lain yang juga harus diperhatikan bagi panyitas covid-19. Salah satunya adalah dampak psikologis dari para pasien dan penyitas covid-19.

Psikolog RSUP Sanglah dr. Lyly Puspa Palupi S., MSi., mengatakan, dampak psikologis dari pasien dan penyitas covid-19 adalah faktor yang paling sulit untuk disembuhkan. “Ini karena masih adanya streotype negatif dari masyarakat terhadap pasien ataupun penyitas covid-19 sering kali membuat para pasien merasa tidak nyaman,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga saat ini masyarakat masih menganggap orang yang terpapar virus corona berpotensi menulari banyak orang sehingga mereka harus dikucilkan. Karena hal tersebut maka diakui dr. Lyly banyak pasien yang merasa cemas berlebihan, sehingga bisa menganggu proses kesembuhan pasien itu sendiri.

Ketidaknyamanan ini, berpotensi meningkatkan rasa cemas yang berlebihan sehingga berpotensi menurunkan daya tahan tubuh. Karena daya tahan tubuh pasien yang menurun, maka proses kesembuhan dari pasien inipun berlangsung lama. 

Lantas apa yang harus dilakukan? Menurut dr. Lyly, memberikan dukungan secara psikologi kepada pasien yang sedang dalam masa isolasi menjadi hal yang utama. Hal ini dikatakannya karena setiap pasien tidak sama dalam menyikapi paparan covid-19. 

Jika pasiennya bisa menerima bahwa terpapar virus corona adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan cepat sesuai dengan protokol yang berlaku, maka pasien akan sembuh lebih cepat. “Namun jika pasiennya merasa sakit akibat terpapar virus corona adalah sakit yang berat, maka psikologi pasien akan terganggu hal inilah yang memicu stress berlebihan,” tambahnya.

Selama setahun dr. Lyly mengaku hampir sebagian besar pasien yang datang untuk berkonsultasi ke bagian psikologi RSUP Sanglah adalah pasien dengan gangguan kecemasan yang berlebihan. “Sekitar 70 persen pasien yang datang adalah mereka yang menderita gangguan kecemasan akibat streriotype negatif masyarakat terhadap pasien atau penyitas covid-19,” tambahnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/