Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Features
icon featured
Features

Mengenal Syok Anafilaksis Untuk Mengurangi Resiko Kematian

16 September 2021, 07: 09: 49 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mengenal Syok Anafilaksis Untuk Mengurangi Resiko Kematian

ilustrasi (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS- Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Akibatnya, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran.  

Meskipun bukan erupakan penyakit kronis, namun jika tidak ditangani dengan benar, Staf Divisi Alergi Imonologi Rumah Sakit Universitas Udayana, dr. Komang Ayu Witarini, Sp.A (k) mengatakan Syok Anafilaksis bis menjadi salah satu penyebab kematian. 

"Syok anafilaktik dapat terjadi dalam hitungan menit setelah penderita terpapar oleh penyebab alergi (alergen). Dalam kurun waktu 12 jam setelah syok pertama, syok anafilaktik berpotensi untuk kembali terjadi (biphasic anaphylaxis)," jelasnya. 

Baca juga: Wamenkes Imbau Masyarakat Tidak Abaikan Prokes

Untuk angka mortalitasnya sendiri, syok anafilatik ini dilanjutkan dr. Ayu menyebutkan masih relatif kecil, yakni 0,5 persen per 1 juta kasus. Namun demikian, kondisi syok anafilaktik ini perlu mendapatkan penanganan secepatnya karena dapat mengancam jiwa.

Angka kematian akibat syok Anafilaksis ini dilanjutkan dr. Ayu masih terjadi karena tidak semua dokter memahami gejala yang ditimbulkan akibat reaksi alergi tersebut. Selain itu dalam ilmu kedokteran di seluruh dunia diakuinya tidak ada standar acuan baku mengenai reaksi suatu alergi. Sehungga tim medis tidak bisa melakukan diagnosa dan tindakan yang tepat pada waktunya.

Syok anafilaksis bisa dipicu oleh berbagai macam alergen. Beberapa alergen yang sering memicu syok anafilaktik seperti, obat-obatan tertentu, seperti obat antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat pelemas otot, atau obat antikejang, makanan, seperti makanan laut, telur, susu, gandum, kacang, atau buah, sengatan serangga, seperti semut merah, lebah, lipan, atau tawon, tanaman, seperti rumput atau serbuk sari bunga.

Selain itu, syok anafilaktik juga bisa dipicu oleh olahraga, udara kotor hingga faktor yang belum diketahui. "Untuk kondisi ini sangat jarang terjadi, kalaupun terjadi kondisinya tidak parah dn bisa ditangani dengan terapi medis," ungkapnya.

Siapa saja yang beresiko menderita syok anafilaktik ini? Dijelaskan dr. Ayu semua orang berpotensi mengalami resiko ini. Namun kejadian yang paling sering dialami oleh anak-anak usia 0-10 tahun. Hal ini karena anak-anak pada rentang usia tersebut belum mengetahui kondisinya.

(bx/gek/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia