alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Semarak 17 Agustus, Mulai dari Gowes Sepeda Onthel hingga Lepas Tukik

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lagu Hari Merdeka berkumandang, bersamaan dengan denting bel sepeda ontel yang bergerak berbaris di sisian Jalan Diponegoro, Denpasar, menuju Lapangan Puputan Badung. Berseragam veteran, para ‘prajurit’ begitu semangat mengayuh sepedanya dengan berbekal bendera merah putih.

Ketua Komunitas My Onthel My Adventure (Momad) Bali, Anak Agung Gede Agung, tampak berada di baris depan. Sesekali ia melambaikan tangan pada masyarakat yang mengabadikan moment itu dengan ponsel. Sedang teman-temannya, mengekor di belakang dengan tertib. Gowes yang dilakukan hari ini apa lagi kalau bukan bertujuan untuk menyambut Dirgahayu ke-76 Republik Indonesia (RI) yang jatuh pada hari Selasa (17/8).

“Kegiatan hari ini karena PPKM diperpanjang, jadinya kami tidak ada acara upacara (bendera). Kami cuma keliling, biasanya kami lakukan (upacara) di depan Pura Jagatnatha, Denpasar. Untuk hari ini (rute) kami gowes ke wilayah Imam Bonjol, Monumen Bom Bali, Serangan kemudian balik ke Jalan Diponegoro, Lapangan Puputan Badung, dan (terakhir) Renon,” ujarnya, saat diwawancara setibanya di sisi selatan Monumen Bajra Sandhi, Renon.

Umur tak menjadi batasan bagi Anak Agung Gede Agung beserta rekannya untuk turut menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI ini. Pasalnya, begitu memarkir sepedanya, ia dan kawan-kawan lansianya berjoget mengikuti irama lagu Indonesia Raya yang sedikit ‘ngoplo’ dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. 

“Momad merupakan komunitas di bawah naungan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Bali. Komunitas ini beranggotakan 30 orang. Dalam perayaan 17 Agustus ini, kami mengambil tema veteran. Kegiatan seperti ini (rutin) dilakukan setiap 17 Agustus dan juga hari-hari tertentu dengan kegiatan bakti sosial. Ada juga tiga bulanan kegiatan pembersihan pantai dan kegiatan ke panti asuhan,” jelasnya.

Tak ubahnya dengan pihak lain, Momad berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Melalui kegiatan ini, Anak Agung Gede Agung berharap bisa memotivasi masyarakat untuk menjaga kesehatan.

Di sisi lain, semarak Dirgahayu ke-76 RI juga disambut oleh para pengelola Turtle Conservation and Education Center (TCEC) atau Pusat Konservasi Penyu, Serangan. Yang mana, TCEC hari ini melepasliarkan sejumlah 276 anak penyu atau tukik ke laut.

“Kemarin sore pukul 18.00 Wita, ada telur-telur tukik menetas tiga sarang dengan jumlah 310 ekor. Kami lepas sekarang 276 ekor, angka 76 sebagai peringatan Hari Kemerdekaan. Kegiatan kali ini tidak dipublish agar tidak ada kerumunan untuk menjaga pantai tetap bersih,” ungkap Pengelola TCEC, I Made Sukanta.

Dirinya menuturkan, pelepasan tukik bagus pada hari pertama atau kedua, lantaran pada masa itu kondisi tukik cukup bugar dan kuat untuk berenang. “Lebih bagus daripada disimpan berbulan-bulan nanti kondisinya akan melemah. Karena selama umur tukik seminggu, masih terdapat cadangan makanan. Dia tidak akan makan selama tujuh hari. Jadi bisa berenang terus,” paparnya.

Kegiatan pelepasliaran tukik ini, diakuinya rutin digelar setiap 17 Agustus. Namun karena pandemi Covid-19, pihaknya mengurangi masanya. Selain bulan Agustus, biasanya pelepasliaran tukik dilaksanakan di bulan April atau Juni. “Biasanya kita cari pantai yang airnya pasang. Sulit sekali bagi mereka (tukik) untuk bertahan hidup. Dari 276 ekor, diperkirakan yang selamat hanya 1 persen,” tandasnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Lagu Hari Merdeka berkumandang, bersamaan dengan denting bel sepeda ontel yang bergerak berbaris di sisian Jalan Diponegoro, Denpasar, menuju Lapangan Puputan Badung. Berseragam veteran, para ‘prajurit’ begitu semangat mengayuh sepedanya dengan berbekal bendera merah putih.

Ketua Komunitas My Onthel My Adventure (Momad) Bali, Anak Agung Gede Agung, tampak berada di baris depan. Sesekali ia melambaikan tangan pada masyarakat yang mengabadikan moment itu dengan ponsel. Sedang teman-temannya, mengekor di belakang dengan tertib. Gowes yang dilakukan hari ini apa lagi kalau bukan bertujuan untuk menyambut Dirgahayu ke-76 Republik Indonesia (RI) yang jatuh pada hari Selasa (17/8).

“Kegiatan hari ini karena PPKM diperpanjang, jadinya kami tidak ada acara upacara (bendera). Kami cuma keliling, biasanya kami lakukan (upacara) di depan Pura Jagatnatha, Denpasar. Untuk hari ini (rute) kami gowes ke wilayah Imam Bonjol, Monumen Bom Bali, Serangan kemudian balik ke Jalan Diponegoro, Lapangan Puputan Badung, dan (terakhir) Renon,” ujarnya, saat diwawancara setibanya di sisi selatan Monumen Bajra Sandhi, Renon.

Umur tak menjadi batasan bagi Anak Agung Gede Agung beserta rekannya untuk turut menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI ini. Pasalnya, begitu memarkir sepedanya, ia dan kawan-kawan lansianya berjoget mengikuti irama lagu Indonesia Raya yang sedikit ‘ngoplo’ dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. 

“Momad merupakan komunitas di bawah naungan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Bali. Komunitas ini beranggotakan 30 orang. Dalam perayaan 17 Agustus ini, kami mengambil tema veteran. Kegiatan seperti ini (rutin) dilakukan setiap 17 Agustus dan juga hari-hari tertentu dengan kegiatan bakti sosial. Ada juga tiga bulanan kegiatan pembersihan pantai dan kegiatan ke panti asuhan,” jelasnya.

Tak ubahnya dengan pihak lain, Momad berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Melalui kegiatan ini, Anak Agung Gede Agung berharap bisa memotivasi masyarakat untuk menjaga kesehatan.

Di sisi lain, semarak Dirgahayu ke-76 RI juga disambut oleh para pengelola Turtle Conservation and Education Center (TCEC) atau Pusat Konservasi Penyu, Serangan. Yang mana, TCEC hari ini melepasliarkan sejumlah 276 anak penyu atau tukik ke laut.

“Kemarin sore pukul 18.00 Wita, ada telur-telur tukik menetas tiga sarang dengan jumlah 310 ekor. Kami lepas sekarang 276 ekor, angka 76 sebagai peringatan Hari Kemerdekaan. Kegiatan kali ini tidak dipublish agar tidak ada kerumunan untuk menjaga pantai tetap bersih,” ungkap Pengelola TCEC, I Made Sukanta.

Dirinya menuturkan, pelepasan tukik bagus pada hari pertama atau kedua, lantaran pada masa itu kondisi tukik cukup bugar dan kuat untuk berenang. “Lebih bagus daripada disimpan berbulan-bulan nanti kondisinya akan melemah. Karena selama umur tukik seminggu, masih terdapat cadangan makanan. Dia tidak akan makan selama tujuh hari. Jadi bisa berenang terus,” paparnya.

Kegiatan pelepasliaran tukik ini, diakuinya rutin digelar setiap 17 Agustus. Namun karena pandemi Covid-19, pihaknya mengurangi masanya. Selain bulan Agustus, biasanya pelepasliaran tukik dilaksanakan di bulan April atau Juni. “Biasanya kita cari pantai yang airnya pasang. Sulit sekali bagi mereka (tukik) untuk bertahan hidup. Dari 276 ekor, diperkirakan yang selamat hanya 1 persen,” tandasnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/