27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Jejak Surya Darmadi, Tersangka Korupsi Rp 78 Triliun

JAKARTA, BALI EXPRESS – Surya Darmadi atau yang akrab disapa Apeng ditetapkan sebagai tersangka korupsi sebesar Rp 78 triliun. Bahkan, Kejaksaan Agung (Kejagung) sudah menahan pria yang diduga terlibat dalam kasus suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau pada 2014.

Kasus yang melibatkan Surya Darmadi ini disebut korupsi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya Surya Darmadi? Seperti apa sepak terjangnya?

Jejak Surya Darmadi diulas secara khusus oleh mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam sebuah tulisan berjudul Shinta Pulang.

Dalam tulisan itu, Dahlan Iskan menyebutkan, sejak kecil Apeng hidup enak. Setidaknya secara ekonomi. Orang tuanya kaya. Punya perusahaan karet. Pabrik pengolahan getah. Tidak hanya satu. Di Sumatera Utara.

Tapi Apeng bukan anak manja. Di masa kecil ia tergolong ”nakal”. Ia tidak mau meneruskan sekolah. Menginjak remaja ia pilih merantau ke Jakarta.

Tentu ia punya uang. Bahkan bisa pergi ke Thailand. Bisa menyalurkan masa mudanya di sana.

Pendiri Tempat Hiburan Malam di Blora

 

Apeng belajar sesuatu di Thailand. Ia seperti mendapat inspirasi bisnis dari sana.

Sepulang dari sana, Apeng buka usaha hiburan malam di Jalan Blora, Jakarta.

Baca Juga :  Tak Main-main, Raffi Ahmad Berikan Hadiah Nagita Mobil Seharga Rp 21 M

Dijelaskan Dahlan Iskan, orang Jakarta sudah tahu semua reputasi Jalan Blora. Di sana ada hiburan malam bernama Shinta. Zaman dulu.

“Rasanya, itulah panti pijat pertama dengan menu body massage di Indonesia. Setidaknya Apeng telah membuat sejarah di masa mudanya,” kata Dahlan Iskan dalam tulisannya berjudul Shinta Pulang pada Senin (15/8).

Kini, Jalan Blora sudah berubah. Apeng juga tidak selamanya di dunia hiburan malam. Ia akhirnya mengikuti jejak sang Ayah, masuk dunia industri di Jakarta. Apeng bangun pabrik bijih plastik.

“Mungkin nama Shinta menjadi keberuntungannya: pabrik plastik itu pun diberi nama Shinta. Lengkapnya: Shinta Modern Plastic. Di jalan menuju Cengkareng,” tulis Dahlan.

“Rasanya, kalau tidak salah, partner-nya di pabrik ini juga orang Thailand,” tambah Dahlan.

Dari plastik, Apeng berkembang ke pipa. Ia mendirikan pabrik pipa. Pipa baja. Lalu berkembang lagi ke pabrik pipa PVC. Pabrik ini juga diberi nama depan Shinta.

 

Geluti Bisnis Kelapa Sawit hingga Bangun Bank

Setelah sukses di industri pipa, Apeng mulai masuk ke bisnis kelapa sawit.

Apeng juga membuka bank di kampung halamannya, Medan. Nama banknya: Bank Kesawan, di Jalan Kesawan.

Baca Juga :  Kerja Sampingan di Bengkel Las Demi HP untuk Belajar Online

“Belakangan bank ini dijual. Tapi bisnis sawitnya berkembang sangat pesat,” jelas Dahlan.

Bisnis kelapa sawit Apeng berkembang di Riau, Jambi hingga Kalimantan.

Apeng menguasai lahan kelapa sawit mencapai 160.000 hektare.

“Yang 30.000 hektare di antaranya menjadi masalah sekarang ini,” sebut Dahlan.

Tanah itu ternyata tanah negara. Yang dimintakan izin ke bupati Indragiri Hulu untuk dialihkan ke perusahaannya, ditanami sawit.

“Izin itu bisa didapat. Ada juga yang statusnya tanah hutan. Dimintakan izin ke gubernur Riau untuk diubah menjadi tanah perkebunan. Juga mendapat izin,” katanya.

Belakangan, Apeng ketahuan menyogok. Bupati dan gubernur itu ditangkap. Diadili. Dijatuhi hukuman penjara yang ringan sekali.

“Maka Apeng pun terseret. Dijadikan tersangka. Mau ditangkap. Tidak ditemukan. Lalu dinyatakan buron,” katanya.

Kini Apeng pulang ke tanah air. Apeng menyerahkan diri. Ia menggandeng Dr Juniver Girsang SH sebagai pengacaranya.
Girsang akan mendampingi Apeng di pemeriksaan di Kejaksaan Agung.

“Dengan demikian Apeng bisa melakukan klarifikasi: benarkah ia korupsi sebesar Rp 78 triliun,” tandas Dahlan Iskan. (pojoksatu)






Reporter: Wiwin Meliana

JAKARTA, BALI EXPRESS – Surya Darmadi atau yang akrab disapa Apeng ditetapkan sebagai tersangka korupsi sebesar Rp 78 triliun. Bahkan, Kejaksaan Agung (Kejagung) sudah menahan pria yang diduga terlibat dalam kasus suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau pada 2014.

Kasus yang melibatkan Surya Darmadi ini disebut korupsi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya Surya Darmadi? Seperti apa sepak terjangnya?

Jejak Surya Darmadi diulas secara khusus oleh mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam sebuah tulisan berjudul Shinta Pulang.

Dalam tulisan itu, Dahlan Iskan menyebutkan, sejak kecil Apeng hidup enak. Setidaknya secara ekonomi. Orang tuanya kaya. Punya perusahaan karet. Pabrik pengolahan getah. Tidak hanya satu. Di Sumatera Utara.

Tapi Apeng bukan anak manja. Di masa kecil ia tergolong ”nakal”. Ia tidak mau meneruskan sekolah. Menginjak remaja ia pilih merantau ke Jakarta.

Tentu ia punya uang. Bahkan bisa pergi ke Thailand. Bisa menyalurkan masa mudanya di sana.

Pendiri Tempat Hiburan Malam di Blora

 

Apeng belajar sesuatu di Thailand. Ia seperti mendapat inspirasi bisnis dari sana.

Sepulang dari sana, Apeng buka usaha hiburan malam di Jalan Blora, Jakarta.

Baca Juga :  Ranperda Pemberdayaan Desa Adat Seolah Desa Adat Itu Tak Berdaya

Dijelaskan Dahlan Iskan, orang Jakarta sudah tahu semua reputasi Jalan Blora. Di sana ada hiburan malam bernama Shinta. Zaman dulu.

“Rasanya, itulah panti pijat pertama dengan menu body massage di Indonesia. Setidaknya Apeng telah membuat sejarah di masa mudanya,” kata Dahlan Iskan dalam tulisannya berjudul Shinta Pulang pada Senin (15/8).

Kini, Jalan Blora sudah berubah. Apeng juga tidak selamanya di dunia hiburan malam. Ia akhirnya mengikuti jejak sang Ayah, masuk dunia industri di Jakarta. Apeng bangun pabrik bijih plastik.

“Mungkin nama Shinta menjadi keberuntungannya: pabrik plastik itu pun diberi nama Shinta. Lengkapnya: Shinta Modern Plastic. Di jalan menuju Cengkareng,” tulis Dahlan.

“Rasanya, kalau tidak salah, partner-nya di pabrik ini juga orang Thailand,” tambah Dahlan.

Dari plastik, Apeng berkembang ke pipa. Ia mendirikan pabrik pipa. Pipa baja. Lalu berkembang lagi ke pabrik pipa PVC. Pabrik ini juga diberi nama depan Shinta.

 

Geluti Bisnis Kelapa Sawit hingga Bangun Bank

Setelah sukses di industri pipa, Apeng mulai masuk ke bisnis kelapa sawit.

Apeng juga membuka bank di kampung halamannya, Medan. Nama banknya: Bank Kesawan, di Jalan Kesawan.

Baca Juga :  Surya Darmadi, Tersangka Korupsi Rp 78 Triliun Dirujuk ke RS

“Belakangan bank ini dijual. Tapi bisnis sawitnya berkembang sangat pesat,” jelas Dahlan.

Bisnis kelapa sawit Apeng berkembang di Riau, Jambi hingga Kalimantan.

Apeng menguasai lahan kelapa sawit mencapai 160.000 hektare.

“Yang 30.000 hektare di antaranya menjadi masalah sekarang ini,” sebut Dahlan.

Tanah itu ternyata tanah negara. Yang dimintakan izin ke bupati Indragiri Hulu untuk dialihkan ke perusahaannya, ditanami sawit.

“Izin itu bisa didapat. Ada juga yang statusnya tanah hutan. Dimintakan izin ke gubernur Riau untuk diubah menjadi tanah perkebunan. Juga mendapat izin,” katanya.

Belakangan, Apeng ketahuan menyogok. Bupati dan gubernur itu ditangkap. Diadili. Dijatuhi hukuman penjara yang ringan sekali.

“Maka Apeng pun terseret. Dijadikan tersangka. Mau ditangkap. Tidak ditemukan. Lalu dinyatakan buron,” katanya.

Kini Apeng pulang ke tanah air. Apeng menyerahkan diri. Ia menggandeng Dr Juniver Girsang SH sebagai pengacaranya.
Girsang akan mendampingi Apeng di pemeriksaan di Kejaksaan Agung.

“Dengan demikian Apeng bisa melakukan klarifikasi: benarkah ia korupsi sebesar Rp 78 triliun,” tandas Dahlan Iskan. (pojoksatu)






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/