alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Main Rindik Otodidak, Belajar dari Dengar Radio Hingga Berhasil Buat Rindik

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Muda, kreatif, serta berbakat. Itulah sosok Gede Edi Budiana. Pemuda asal Desa Poh Bergong, Kecamatan Buleleng sangat suka dengan rindik. Ia pun semasa kecil selalu gemar mendengarkan alunan rindik dari radio maupun kaset. Pun secara langsung di banjar-banjar. Edi tumbuh dan besar di Gianyar. Kota yang kegiatan seninya sangat tinggi. Edi bertumbuh di lingkungan kreatif. Ayahnya pun bergerak di bidang yang sama, namun lebih condong ke handicraft.

 

Saat ditemui di rumahnya di kawasan Desa Alasangker, Gede Edi mengaku belajar sendiri tanpa diajari guru. Ia sering mendengarkan alunan dari radio. Maka ia mencoba mengingat nada-nada itu lalu ia coba. Saat itu ia memukul bambu seadanya sembari mengingat nada. “Saya otodidak. Saya gak tau ya berapa lama belajar. Ngalir aja. Belajar gamelannya dari SD,” kata dia.

 

Melihat bakat dan minat Gede Edi yang tinggi terhadap alat musik rindik, maka ia pun dihadiahi satu rindik oleh orangtuanya. Saat itulah ia semakin bersemangat belajar musik rindik. Kemudian, menginjak masa remaja tepatnya saat SMP ia mulai bermain ke kebun serta hutan untuk mencari bambu-bambu bekas. Bambu-bambu itu ia bawa pulang dan digunakan untuk berlatih membuat alat musik rindik. Perlahan namun pasti, usahanya untuk membuat rindik terwujud.

 

Pria kelahiran 27 Maret 1996 ini sesungguhnya tidak memiliki latar belakang seni. Sekolahnya pun jauh berbeda. Sama sekali tidak berhubungan dengan seni. Hanya saja karena hobi, ia mulai menekuni rindik serta kesukaannya terhadap alunan nada dari rindik itu sendiri. “Saya lulusan multimedia SMK, kuliah programmer di STIKOM. Saya sangat hobi di bidang rindik. Karena lebih lembut, sendiri pun bisa megambel atau berdua sudah bisa. Suaranya juga sangat nyaman, dan tidak bising. Semuanya karena hobi,” kata dia.

 

Berangkat dari hobinya bermain rindik, Gede Edi pun berkreasi. Rindik yang dibuatkan berbeda dengan rindik pada umumnya. Rindik milik Gede Edi itu memiliki nada 7. Sedangkan rindik yang lumrah adala nada 5. Selain itu rindik yang ia buat dikreasikan dengan pemero atau kreasi dalam laras tembang. “Kalau saih pitu kreasi saya. Karena saya bosan dengan rindik yang biasa. Sudah terlalu banyak dan terlalu lumrah. Saya pikir, mumpung belum ada yang mengembangkan rindik dengan pemero saya kembangkan saja. Saya juga terinspirasi dengan rindik di Bali Belatan. Terutama di Gianyar. Saya 23 tahun disana. Saya sering memainkan gamelan yang ada pemeronya. Jadi saya coba untuk mengembangkannya, lahirlah ini,” ungkapnya.

 

Untuk membuat rindik ini, Gede Edi memilih bambu dengan kualitas baik. Bambu-bambu itu didatangkan dari Jawa Tengah dan Bogor. Namun ia juga menggunakan bambu lokal yang dibeli dari kawasan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar. Gede Edi juga sangat telaten memilih bambu. Bambu yang memiliki ukuran berat sedang serta memiliki kadar air rendah adalah bambu yang tepat digunakan untuk membuat rindik.

 

Disamping itu dinilai dari aromanya. Bila memiliki aroma manis atau seperti tape berarti bambu belum siap digunakan. Apabila tidak beraroma, maka bambu telah kering dan dapat digunakan. “Ini bambunya pilihan, ini bambu hitam dari jawa. Berbeda dengan bambu Bali. kepadatannya beda. Dan warna suaranya juga beda. Lebih lembut dia. Intinya lebih bagus. Mungkin bisa dikatakan lebih nyaring,” ungkapnya.

 

Satu buah rindik kreasinya dapat dia kerjakan selama dua hari apabila bahan yang digunakan telah siap. Waktu terlama untuk membuat rindik adalah sekitar satu bulan. “Pertama bahan yang baik menentukan kualitas karya juga. kemudian di potong sesuai ukuran, tergantung nada yang diinginkan. Misalnya kalau menginginkan nada A=do bambu dipotong sepanjang 1 meter x 49 cm,” jelasnya.

 

Kreasinya telah melanglang buana hingga ke luar negeri. Diantaranya ke Australia, Jepang, Singapura. Sementara di dalam daerah sudah tersebar ke seluruh Indonesia. “Untuk harga mulai dari Rp 900 – Rp 5 juta,” singkatnya.

 

Disamping memainkan rindik dengan nada biasanya, ia juga bisa mengadaptasi nada-nada dari lagu pop yang sedang ngehits. Biasanya ia menyuarakan lagu itu dengan menggunakan tingklik, tapi ia mencoba memainkan dengan rindik. “Rindik itu luwes tergantung yang memainkan. Kalau saya bisa meyuaraka lagu lain selain gamelan rindik pada umumnya. Biasanya lebih ke tingklik. Tapi di rindik juga bisa. Teknik memainkannya sama seperti angklung. Semua lagu bisa diadaptasi ke rindik. Tergantung kreatifnya si pemain,” tutupnya.

 

Selain rindik, ia juga membuat kincir angin dengan 7 nada serta seruling bambu. Produknya ini jug tembus ke pasar luar negeri. Edi juga mengembanglan aplikasi rindik Bali yang dapat diunduh pada play store di smartphone.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Muda, kreatif, serta berbakat. Itulah sosok Gede Edi Budiana. Pemuda asal Desa Poh Bergong, Kecamatan Buleleng sangat suka dengan rindik. Ia pun semasa kecil selalu gemar mendengarkan alunan rindik dari radio maupun kaset. Pun secara langsung di banjar-banjar. Edi tumbuh dan besar di Gianyar. Kota yang kegiatan seninya sangat tinggi. Edi bertumbuh di lingkungan kreatif. Ayahnya pun bergerak di bidang yang sama, namun lebih condong ke handicraft.

 

Saat ditemui di rumahnya di kawasan Desa Alasangker, Gede Edi mengaku belajar sendiri tanpa diajari guru. Ia sering mendengarkan alunan dari radio. Maka ia mencoba mengingat nada-nada itu lalu ia coba. Saat itu ia memukul bambu seadanya sembari mengingat nada. “Saya otodidak. Saya gak tau ya berapa lama belajar. Ngalir aja. Belajar gamelannya dari SD,” kata dia.

 

Melihat bakat dan minat Gede Edi yang tinggi terhadap alat musik rindik, maka ia pun dihadiahi satu rindik oleh orangtuanya. Saat itulah ia semakin bersemangat belajar musik rindik. Kemudian, menginjak masa remaja tepatnya saat SMP ia mulai bermain ke kebun serta hutan untuk mencari bambu-bambu bekas. Bambu-bambu itu ia bawa pulang dan digunakan untuk berlatih membuat alat musik rindik. Perlahan namun pasti, usahanya untuk membuat rindik terwujud.

 

Pria kelahiran 27 Maret 1996 ini sesungguhnya tidak memiliki latar belakang seni. Sekolahnya pun jauh berbeda. Sama sekali tidak berhubungan dengan seni. Hanya saja karena hobi, ia mulai menekuni rindik serta kesukaannya terhadap alunan nada dari rindik itu sendiri. “Saya lulusan multimedia SMK, kuliah programmer di STIKOM. Saya sangat hobi di bidang rindik. Karena lebih lembut, sendiri pun bisa megambel atau berdua sudah bisa. Suaranya juga sangat nyaman, dan tidak bising. Semuanya karena hobi,” kata dia.

 

Berangkat dari hobinya bermain rindik, Gede Edi pun berkreasi. Rindik yang dibuatkan berbeda dengan rindik pada umumnya. Rindik milik Gede Edi itu memiliki nada 7. Sedangkan rindik yang lumrah adala nada 5. Selain itu rindik yang ia buat dikreasikan dengan pemero atau kreasi dalam laras tembang. “Kalau saih pitu kreasi saya. Karena saya bosan dengan rindik yang biasa. Sudah terlalu banyak dan terlalu lumrah. Saya pikir, mumpung belum ada yang mengembangkan rindik dengan pemero saya kembangkan saja. Saya juga terinspirasi dengan rindik di Bali Belatan. Terutama di Gianyar. Saya 23 tahun disana. Saya sering memainkan gamelan yang ada pemeronya. Jadi saya coba untuk mengembangkannya, lahirlah ini,” ungkapnya.

 

Untuk membuat rindik ini, Gede Edi memilih bambu dengan kualitas baik. Bambu-bambu itu didatangkan dari Jawa Tengah dan Bogor. Namun ia juga menggunakan bambu lokal yang dibeli dari kawasan Desa Gobleg, Kecamatan Banjar. Gede Edi juga sangat telaten memilih bambu. Bambu yang memiliki ukuran berat sedang serta memiliki kadar air rendah adalah bambu yang tepat digunakan untuk membuat rindik.

 

Disamping itu dinilai dari aromanya. Bila memiliki aroma manis atau seperti tape berarti bambu belum siap digunakan. Apabila tidak beraroma, maka bambu telah kering dan dapat digunakan. “Ini bambunya pilihan, ini bambu hitam dari jawa. Berbeda dengan bambu Bali. kepadatannya beda. Dan warna suaranya juga beda. Lebih lembut dia. Intinya lebih bagus. Mungkin bisa dikatakan lebih nyaring,” ungkapnya.

 

Satu buah rindik kreasinya dapat dia kerjakan selama dua hari apabila bahan yang digunakan telah siap. Waktu terlama untuk membuat rindik adalah sekitar satu bulan. “Pertama bahan yang baik menentukan kualitas karya juga. kemudian di potong sesuai ukuran, tergantung nada yang diinginkan. Misalnya kalau menginginkan nada A=do bambu dipotong sepanjang 1 meter x 49 cm,” jelasnya.

 

Kreasinya telah melanglang buana hingga ke luar negeri. Diantaranya ke Australia, Jepang, Singapura. Sementara di dalam daerah sudah tersebar ke seluruh Indonesia. “Untuk harga mulai dari Rp 900 – Rp 5 juta,” singkatnya.

 

Disamping memainkan rindik dengan nada biasanya, ia juga bisa mengadaptasi nada-nada dari lagu pop yang sedang ngehits. Biasanya ia menyuarakan lagu itu dengan menggunakan tingklik, tapi ia mencoba memainkan dengan rindik. “Rindik itu luwes tergantung yang memainkan. Kalau saya bisa meyuaraka lagu lain selain gamelan rindik pada umumnya. Biasanya lebih ke tingklik. Tapi di rindik juga bisa. Teknik memainkannya sama seperti angklung. Semua lagu bisa diadaptasi ke rindik. Tergantung kreatifnya si pemain,” tutupnya.

 

Selain rindik, ia juga membuat kincir angin dengan 7 nada serta seruling bambu. Produknya ini jug tembus ke pasar luar negeri. Edi juga mengembanglan aplikasi rindik Bali yang dapat diunduh pada play store di smartphone.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/