alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Bertahan di Tengah Pandemi, Tiga Sekawan Sulap Kelapa Jadi Perabotan

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 membuat tiga orang pria yang sebelumnya berkecimpung di dunia pariwisata harus memutar otak untuk dapat bertahan hidup. Tiga sekawan ini pun akhirnya mengolah kau (tempurung buah kelapa,Red) menjadi berbagai perabotan rumah tangga yang memiliki daya jual tinggi.

 

I Gede Arik Adiguna, 34, menuturkan bahwa usaha membuat kerajinan dari tempurung kelapa itu ia rintis bersama dua orang temannya yakni I Putu Oka Swardiana, 26, yang dulunya driver ojek online dan I Kadek Bagas Septiawan, 20,  pegawai salah satu hotel di Canggu, Badung. “Awalnya kami bingung harus melakukan apa di masa pandemi ini agar dapur tetap ngebul. Karena kalau diam saja otomatis tidak ada penghasilan,” ujar pria yang sebelum pandemi merupakan pemandu wisata di objek wisata Hidden Canyon Guwang, Rabu (18/8).

 

Pada suatu hari, waktu luang yang ia miliki ia gunakan untuk menghabiskan waktu menyusuri sungai didekat rumahnya bersama teman-temannya. Sampai Gede Arik menemukan banyak buah kelapa yang hanyut di aliran sungai. Dari sana lah awal Gede Arik memulai usahanya. Kelapa yang ditemukan mereka bawa pulang hingga terkumpul banyak.  “Awalnya cuma iseng, tapi akhirnya jadi buruan. Sampai akhirnya banyak buah kelapa yang kami dapat,” lanjutnya.

 

Selanjutnya kelapa itu dikupas, kemudian dipotong menjadi dua dan bagian dalamnya dibersihkan. Batok kelapa yang sudah bersih itu kemudian dijadikan mangkok atau piring. Mereka pun akhirnya membuat kerajinan batok kelapa skala rumahan, di Jalan Bima, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati. “Pertama kali kerajinan yang kami buat belum sempurna. Karena masih dibuat secara manual belum di amplas halus,” imbuhnya.

 

Namun hal itu tidak membuat semangat Gede Arik dan teman-temannya redup. Justru mangkok dan piring kau buatan mereka laku dibeli oleh masyarakat sekitar. Termasuk ditawarkan kepada Anggota DPR RI Dapil Bali asal Guwang, Nyoman Parta. Bahkan Gede Arik  diminta untuk berinovasi guna memperbaiki kualitas. “Sehingga mesin yang biasa dipakai orangtua saya membuat kerajinan perak, kami modifikasi agar bisa memperhalus kau tersebut,” bebernya.

 

Sampai akhirnya piring dan mangkok buatannya resmi dirintis sejak dua minggu terakhir. Pesanan pun terus masuk, selain anggota dewan, pesanan juga datang dari salah satu restoran di kawasan Canggu. Juga ada pesanan dari perorangan untuk kebutuhan rumah tangga. Ada pula ada pengusaha yang berencana membuka usaha kuliner lawar babi. 

 

Maka dari itu, untuk memenuhi pesanan dirinya membeli kelapa yang bentuknya bulat sempurna ke wilayah Payangan. “Tapi tidak seluruhnya juga berbentuk bulat. Perbandingannya, dari 100 biji hanya sekitar 10 kelapa yang bulat sempurna,” imbuh Gede Arik.

 

Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 30.000 tergantung ukuran, bentuk, dan motif ukiran dari mangkok dan piring kau tersebut. Selain mangkok, Gede Arik dkk juga membuat canting, gayung, dan tempat tirtha. Dalam sehari, maksimal pihaknya mengolah 20 pcs buah kelapa. “Mulai dari pemotongan, mengelupas isi, menghaluskan manual hingga menghaluskan memakai mesin. Sedangkan isi kelapa dikeringkan menjadi kopra untuk dijual kembali ke pengepul,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 membuat tiga orang pria yang sebelumnya berkecimpung di dunia pariwisata harus memutar otak untuk dapat bertahan hidup. Tiga sekawan ini pun akhirnya mengolah kau (tempurung buah kelapa,Red) menjadi berbagai perabotan rumah tangga yang memiliki daya jual tinggi.

 

I Gede Arik Adiguna, 34, menuturkan bahwa usaha membuat kerajinan dari tempurung kelapa itu ia rintis bersama dua orang temannya yakni I Putu Oka Swardiana, 26, yang dulunya driver ojek online dan I Kadek Bagas Septiawan, 20,  pegawai salah satu hotel di Canggu, Badung. “Awalnya kami bingung harus melakukan apa di masa pandemi ini agar dapur tetap ngebul. Karena kalau diam saja otomatis tidak ada penghasilan,” ujar pria yang sebelum pandemi merupakan pemandu wisata di objek wisata Hidden Canyon Guwang, Rabu (18/8).

 

Pada suatu hari, waktu luang yang ia miliki ia gunakan untuk menghabiskan waktu menyusuri sungai didekat rumahnya bersama teman-temannya. Sampai Gede Arik menemukan banyak buah kelapa yang hanyut di aliran sungai. Dari sana lah awal Gede Arik memulai usahanya. Kelapa yang ditemukan mereka bawa pulang hingga terkumpul banyak.  “Awalnya cuma iseng, tapi akhirnya jadi buruan. Sampai akhirnya banyak buah kelapa yang kami dapat,” lanjutnya.

 

Selanjutnya kelapa itu dikupas, kemudian dipotong menjadi dua dan bagian dalamnya dibersihkan. Batok kelapa yang sudah bersih itu kemudian dijadikan mangkok atau piring. Mereka pun akhirnya membuat kerajinan batok kelapa skala rumahan, di Jalan Bima, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati. “Pertama kali kerajinan yang kami buat belum sempurna. Karena masih dibuat secara manual belum di amplas halus,” imbuhnya.

 

Namun hal itu tidak membuat semangat Gede Arik dan teman-temannya redup. Justru mangkok dan piring kau buatan mereka laku dibeli oleh masyarakat sekitar. Termasuk ditawarkan kepada Anggota DPR RI Dapil Bali asal Guwang, Nyoman Parta. Bahkan Gede Arik  diminta untuk berinovasi guna memperbaiki kualitas. “Sehingga mesin yang biasa dipakai orangtua saya membuat kerajinan perak, kami modifikasi agar bisa memperhalus kau tersebut,” bebernya.

 

Sampai akhirnya piring dan mangkok buatannya resmi dirintis sejak dua minggu terakhir. Pesanan pun terus masuk, selain anggota dewan, pesanan juga datang dari salah satu restoran di kawasan Canggu. Juga ada pesanan dari perorangan untuk kebutuhan rumah tangga. Ada pula ada pengusaha yang berencana membuka usaha kuliner lawar babi. 

 

Maka dari itu, untuk memenuhi pesanan dirinya membeli kelapa yang bentuknya bulat sempurna ke wilayah Payangan. “Tapi tidak seluruhnya juga berbentuk bulat. Perbandingannya, dari 100 biji hanya sekitar 10 kelapa yang bulat sempurna,” imbuh Gede Arik.

 

Harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 30.000 tergantung ukuran, bentuk, dan motif ukiran dari mangkok dan piring kau tersebut. Selain mangkok, Gede Arik dkk juga membuat canting, gayung, dan tempat tirtha. Dalam sehari, maksimal pihaknya mengolah 20 pcs buah kelapa. “Mulai dari pemotongan, mengelupas isi, menghaluskan manual hingga menghaluskan memakai mesin. Sedangkan isi kelapa dikeringkan menjadi kopra untuk dijual kembali ke pengepul,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/