Rabu, 01 Dec 2021
Bali Express
Home / Features
icon featured
Features

Penyebaran Nakes di Bali Belum Merata

18 November 2021, 08: 44: 15 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Penyebaran Nakes di Bali Belum Merata

epala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya (Dok. Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS- Meskipun fasilitas kesehatan yang ada di Bali sudah mampu mengakomodasi seluruh penduduk di Bali, dengan ratio perbandingan 1:1000 jumlah penduduk. 

Namun demikian, dunia kesehatan di Bali menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, masih memiliki masalah lain, yakni penyebaran tenaga kesehatan di Bali masih relatif kurang. "Jika dilihat dari jumlah tenaga kesehatan di Bali, jumlah dokter, bidan dan perawat yang ada di Bali sangat banyak, namun distribusinya yang tidak merata," jelasnya.

Karena itulah, dr. Suarjaya mengatakan masih ada Puskesmas di Bali yang belum mampu memenuhi kuota tenaga kesehatan dasar, seperti, dokter, dokter gigi, perawat,bidan, promosi kesehatan, kesling, ahli gizi, tenaga kefarmasian dan ahli teknologi laboratorium medik

Baca juga: Ketut Purnama Ternak Kambing untuk Biayai Sasana Tinju, Ini Tekadnya

Jika dilihat dari persentase kelengkapan, dr. Suarjaya menyebutkan dari sembilan Kabupaten/Kota di Bali dengan 120 unit Puskesmas, hanya Kota Denpasar dengan jumlah Puskesmas sebanyak 11 unit yang memiliki tenaga kesehatan dasar yang lengkap. Sehingga kelengkapan tenaga kesehatan dasar di Puskesmas di Denpasar diakuinya mencapai 100 persen.

Sedangkan 110 Puskesmas di delapan Kabupaten lainnya masih belum seluruhnya memiliki tenaga kelengkapan dasar. "Saya melihat masih banyak Puskesmas di Bali yang belum memiliki tenaga kefarmasian, apoteker, dan tenaga promosi kesehatan, sehingga inilah yang membuat Puskesmas di Bali yang belum memenuhi standar tenaga kesehatan yang memadai," lanjutnya.

Adapun penyebab tidak tersebarnya tenaga kesehatan secara merata di Bali karena menurut dr. Suarjaya masih banyak dokter spesialis yang enggan berpraktek di luar kota Denpasar. Padahal diakuinya sampai saat ini, provinsi Bali memiliki sebanyak 4 ribuan dokter dan 1500 an dokter gigi.

Sedangkan untuk dokter spesialis, dr. Suarjaya mengakui kondisinya juga hampir sama. "Meskipun jumlah dokter spesialis di Bali sangat banyak, tapi dari segi jenisnya masih mengalami kendala, karena ada beberapa jenis spesialis yang masih langka, sehingga Bali masih kekurangan dokter spesialis tertentu," tambahnya. 

Untuk itu, dr. Suarjaya berharap kedepannya para dokter mau melakukan praktek di rumah sakit yang ada di luar kota Denpasar. "Dan bagi yang ingin melanjutkan spesialis, supaya bisa mengbil jenis spesialis yangasih langka di Bali, sehingga pemenuhan kuota dokter spesialis tertentu bisa terpenuhi," harapnya.

(bx/gek/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia