alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Ini Alasan Pelaku Tempeleng dan Bekap Mulut Mintaning hingga Tewas

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mulutmu, Harimaumu. Begitulah pepatah yang sudah taka sing algi terdengar. Akibat tidak berhati-hati dalam melontarkan sebuah kalimat, terlebih bernada kasar, Ketut Mintaning, 66 meregang nyawa. Berbekal rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, di Jalan Pulau Natuna, Kelurahan Penarukan, polisi berhasil meringkus pelaku pembunuhan terhadap perempuan perawan tua tersebut.

Kejadian bermula dari aktivitas jual-beli yang dilakukan pelaku Yoni Jatmiko, 29 yang merupakan seorang buruh bangunan dengan korban Ketut Mintaning. Saat itu Yoni membeli satu botol teh kemasan di warung milik korban Mintaning. Minuman itu seharga Rp 4.500,-. Kemudian pelaku hendak membayar dengan menggunakan pecahan uang Rp 50 ribu. Saat memberikan uang, korban Mintaning langsung marah-marah. Ketika korban mengomel, korban menggunakan Bahasa Bali yang tergolong kasar. Namun pelaku Yoni tidak memahami apa yang dikatakan Mintaning. Akan tetapi, pelaku menangkap kata terakhir yang menyebutkan Cai Cicing (anjing kau), sehingga membuatnya kesal dan sakit hati.

Dari pengakuan pelaku Yoni Jatmiko, ia tidak terima dan merasa sakit hati atas perkataan korban Nenek Mintan. Saat itu ia merasa kesal sehingga di rumah bedengnya tidak bisa tidur karena merasa kesal. Sekitar pukul 02.00 wita pada Minggu (28/3) pelaku Yoni mendatangi rumah korban. Yoni kemudian masuk ke dalam rumah dengan memanjat pintu masuk rumah. Pelaku langsung menuju kamar korban dan menggedor-gedor pintu kamar korban. Karena tak kunjung dibukakan pintu, maka Yoni menendang pintu kamar sebanyak dua kali hingga terbuka. Korban yang merasa kaget langsung terbangun dan segera menuju ke pintu kamarnya yang sudah terbuka sedikit. Saat itu pelaku Yoni langsung masuk dan mendorog pintu kamar dan melihat korban marah-marah sampai menarik sprei. Korban lalu keluar dan berteriak minta tolong. Ketika itu, Yoni langsung menampar pelipis korban dengan maksud agar korban tidak berteriak. Namun korban melawan dengan menjabak rambut pelaku. Seketika pelaku langsung mendorong pundak korban hingga tersungkur ke lantai. Tidak saja itu, kepala bagian belakang korban juga terbentur.

Setelah melihat korban tergeletak, Yoni lalu meraih seprai yang ada di atas kursi untuk dipakai sebagai alas korban. Melihat kondisi korban yang lemas dan jari-jarinya masih bergerak, Yoni kemudian mengikat tangan korban ke belakang menggunakan kain kemben yang biasa korban kenakan. Begitu juga dengan mulut korban, turut disumpal. Setelah melakukan aksinya pelaku langsung kabur dengan kembali memanjat pintu masuk rumah.

Yoni pun mengaku tidak berniat untuk menghilangkan nyawa korban. Ia hanya bermaksud memberi pelajaran terhadap korban karena melontarkan perkataan kasar pada dirinya. Kata Cai Cicing yang terlontar dari mulut Mintaning waktu itu diasumsikan oleh Yoni yang menyebut dirinya anjing. “Saya gak bermaksud bunuh. Awalnya saya belanja beli teh kemasan botol harganya Rp 4.500,-. Saya bayar pakai uang besar, Rp 50 ribu. Dia marah-marah waktu itu pakai bahasa Bali. Saya tidak ngerti. Mungkin korban berpikir saya belanja sedikit sekali tapi belanja pakai uang besar. Cuma di akhir kalimatnya itu ada mengatakan “Cai Cicing” yang saya pikir ngatain saya Anjing. Di situ hati saya merasa kesal. Di sini saya baru belanja dua kali saja. Yang pertama beli seliter bensin dan terakhir beli teh ini. Kasarnya sekal itu sambil marah-marah. Cuma ada kata cicing itu terakhir yang saya asumsikan saya dikatain sebagai anjing,” tuturnya.

Kendati Yoni mengaku menyesal atas perbuatannya itu, proses hukum tetaplah berjalan. “Saya menyesal sampai meninggal. Mulutnya saya sumpal supaya saat sadar dia gak teriak. Namanya saya takut juga waktu itu. Mau lapor polisi saat dikasarin juga saya takut,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolsek Singaraja Kompol Dewa Ketut Darma Aryawan saat press rilis, Senin (19/4) menerangkan, pelaku melakukan aksinya tersebut murni karena sakit hati. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya barang berharga milik korban yang hilang. Baik yang tersimpan maupun yang dikenakan di tubuh korban. “Kami menyimpulkan murni sakit hati karena tidak ada barang-barang yang hilang dari korban. Perhiasan masih melekat di badan korban. Sakit hati karena diberikan kata-kata kasar. Dikatai Cicing dalam bahasa Bali. Dalam bahasa Jawa artinya Asu, berarti ini sudah sangat kasar sekali. Itulah yang menimbulkan benci, dendam dan sakit hati terhadap korban,” kata dia.

Kapolsek Dewa Darma menyebut, pelaku pembunuhan Nenek Mintan berhasil terungkap dari rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi kejadian. Dari rekaman CCTV itu pada Minggu (28/3) pukul 01.48 wita nampak pelaku masuk ke dalam rumah korban. Lalu polisi melakukan penyelidikan dan melakukan interogasi terhadap pelaku. “Setelah melakukan pemeriksaan CCTV di Lab Forensik, inilah bukti terkuat dalam kasus pembunuhan Mintaning. Sehingga hari minggu kami lakukan penangkapan terhadap pelaku. Begitu diinterogasi ulang, dia mengakui perbuatannya. Jadi ini murni karena sakit hati pelaku terhadap korban. Sebelumnya ia beralibi ada motor dan mobil yang parkir di depan rumah korban. Setelah diperiksa ulang lewat CCTV ternyata tidak ada,” jelasnya.

Dalam melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembunuhan Nenek Mintan, polisi mengedepankan metode Scientific Crime Investigation, yang merupakan penyelidikan berbasis ilmiah. Dari kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa perhiasan yang dikenakan korban, satu buah seprai, satu buah kemben warna coklat, satu buah baju kaos, satu buah celana pendek yang disita dari rumah korban Nenek Mintaning. Sementara dari pelaku polisi meyita satu buah baju kaos abu hitam dan celana pendek hijau.

Atas perbuatannya pelaku dikenakan pasal 338 KUHP dan atau pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman penjara 15 tahun.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mulutmu, Harimaumu. Begitulah pepatah yang sudah taka sing algi terdengar. Akibat tidak berhati-hati dalam melontarkan sebuah kalimat, terlebih bernada kasar, Ketut Mintaning, 66 meregang nyawa. Berbekal rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, di Jalan Pulau Natuna, Kelurahan Penarukan, polisi berhasil meringkus pelaku pembunuhan terhadap perempuan perawan tua tersebut.

Kejadian bermula dari aktivitas jual-beli yang dilakukan pelaku Yoni Jatmiko, 29 yang merupakan seorang buruh bangunan dengan korban Ketut Mintaning. Saat itu Yoni membeli satu botol teh kemasan di warung milik korban Mintaning. Minuman itu seharga Rp 4.500,-. Kemudian pelaku hendak membayar dengan menggunakan pecahan uang Rp 50 ribu. Saat memberikan uang, korban Mintaning langsung marah-marah. Ketika korban mengomel, korban menggunakan Bahasa Bali yang tergolong kasar. Namun pelaku Yoni tidak memahami apa yang dikatakan Mintaning. Akan tetapi, pelaku menangkap kata terakhir yang menyebutkan Cai Cicing (anjing kau), sehingga membuatnya kesal dan sakit hati.

Dari pengakuan pelaku Yoni Jatmiko, ia tidak terima dan merasa sakit hati atas perkataan korban Nenek Mintan. Saat itu ia merasa kesal sehingga di rumah bedengnya tidak bisa tidur karena merasa kesal. Sekitar pukul 02.00 wita pada Minggu (28/3) pelaku Yoni mendatangi rumah korban. Yoni kemudian masuk ke dalam rumah dengan memanjat pintu masuk rumah. Pelaku langsung menuju kamar korban dan menggedor-gedor pintu kamar korban. Karena tak kunjung dibukakan pintu, maka Yoni menendang pintu kamar sebanyak dua kali hingga terbuka. Korban yang merasa kaget langsung terbangun dan segera menuju ke pintu kamarnya yang sudah terbuka sedikit. Saat itu pelaku Yoni langsung masuk dan mendorog pintu kamar dan melihat korban marah-marah sampai menarik sprei. Korban lalu keluar dan berteriak minta tolong. Ketika itu, Yoni langsung menampar pelipis korban dengan maksud agar korban tidak berteriak. Namun korban melawan dengan menjabak rambut pelaku. Seketika pelaku langsung mendorong pundak korban hingga tersungkur ke lantai. Tidak saja itu, kepala bagian belakang korban juga terbentur.

Setelah melihat korban tergeletak, Yoni lalu meraih seprai yang ada di atas kursi untuk dipakai sebagai alas korban. Melihat kondisi korban yang lemas dan jari-jarinya masih bergerak, Yoni kemudian mengikat tangan korban ke belakang menggunakan kain kemben yang biasa korban kenakan. Begitu juga dengan mulut korban, turut disumpal. Setelah melakukan aksinya pelaku langsung kabur dengan kembali memanjat pintu masuk rumah.

Yoni pun mengaku tidak berniat untuk menghilangkan nyawa korban. Ia hanya bermaksud memberi pelajaran terhadap korban karena melontarkan perkataan kasar pada dirinya. Kata Cai Cicing yang terlontar dari mulut Mintaning waktu itu diasumsikan oleh Yoni yang menyebut dirinya anjing. “Saya gak bermaksud bunuh. Awalnya saya belanja beli teh kemasan botol harganya Rp 4.500,-. Saya bayar pakai uang besar, Rp 50 ribu. Dia marah-marah waktu itu pakai bahasa Bali. Saya tidak ngerti. Mungkin korban berpikir saya belanja sedikit sekali tapi belanja pakai uang besar. Cuma di akhir kalimatnya itu ada mengatakan “Cai Cicing” yang saya pikir ngatain saya Anjing. Di situ hati saya merasa kesal. Di sini saya baru belanja dua kali saja. Yang pertama beli seliter bensin dan terakhir beli teh ini. Kasarnya sekal itu sambil marah-marah. Cuma ada kata cicing itu terakhir yang saya asumsikan saya dikatain sebagai anjing,” tuturnya.

Kendati Yoni mengaku menyesal atas perbuatannya itu, proses hukum tetaplah berjalan. “Saya menyesal sampai meninggal. Mulutnya saya sumpal supaya saat sadar dia gak teriak. Namanya saya takut juga waktu itu. Mau lapor polisi saat dikasarin juga saya takut,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolsek Singaraja Kompol Dewa Ketut Darma Aryawan saat press rilis, Senin (19/4) menerangkan, pelaku melakukan aksinya tersebut murni karena sakit hati. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya barang berharga milik korban yang hilang. Baik yang tersimpan maupun yang dikenakan di tubuh korban. “Kami menyimpulkan murni sakit hati karena tidak ada barang-barang yang hilang dari korban. Perhiasan masih melekat di badan korban. Sakit hati karena diberikan kata-kata kasar. Dikatai Cicing dalam bahasa Bali. Dalam bahasa Jawa artinya Asu, berarti ini sudah sangat kasar sekali. Itulah yang menimbulkan benci, dendam dan sakit hati terhadap korban,” kata dia.

Kapolsek Dewa Darma menyebut, pelaku pembunuhan Nenek Mintan berhasil terungkap dari rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi kejadian. Dari rekaman CCTV itu pada Minggu (28/3) pukul 01.48 wita nampak pelaku masuk ke dalam rumah korban. Lalu polisi melakukan penyelidikan dan melakukan interogasi terhadap pelaku. “Setelah melakukan pemeriksaan CCTV di Lab Forensik, inilah bukti terkuat dalam kasus pembunuhan Mintaning. Sehingga hari minggu kami lakukan penangkapan terhadap pelaku. Begitu diinterogasi ulang, dia mengakui perbuatannya. Jadi ini murni karena sakit hati pelaku terhadap korban. Sebelumnya ia beralibi ada motor dan mobil yang parkir di depan rumah korban. Setelah diperiksa ulang lewat CCTV ternyata tidak ada,” jelasnya.

Dalam melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembunuhan Nenek Mintan, polisi mengedepankan metode Scientific Crime Investigation, yang merupakan penyelidikan berbasis ilmiah. Dari kasus tersebut, polisi menyita barang bukti berupa perhiasan yang dikenakan korban, satu buah seprai, satu buah kemben warna coklat, satu buah baju kaos, satu buah celana pendek yang disita dari rumah korban Nenek Mintaning. Sementara dari pelaku polisi meyita satu buah baju kaos abu hitam dan celana pendek hijau.

Atas perbuatannya pelaku dikenakan pasal 338 KUHP dan atau pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman penjara 15 tahun.


Most Read

Artikel Terbaru

/