alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Mengenal Gong “Tridatu”, Murah Namun Tak Murahan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Berbagai lempengan logam berjejer di salh satu ruangan. Lempengan logam itu telah terbentuk. Logam-logam yang diolah itu berubah menjadi sebuah benda seperti gong. Salah satu gamelan Bali yang banyak digunakan tatkala terdapat upacara keagamaan maupun upacara non keagamaan. Instrumen yang dihasilkan mendayu berpadu dengan komponen gong lainnya. Suara nyaring an merdu sangat enak didengar bila dimainkan dengan nada yang tepat. Gong dengan hasil terbaik salah satunya adalah buatan Pande Gong dari Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Pande Gong ini telah ada sejak 1998.

Perajinnya sendiri, Made Suwanda adalah generasi penerus dari ayahnya yang lebih dulu menjadi Pande Gong. Suwanda kemudian merintis usaha tersebut dengan nama Surya Nada Gong. Perjalanan Suwanda dalam memulai usaha tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia berusaha jatuh bangun agar usahanya dapat berkembang. “Banyak sekali kendalanya. Saya berusaha agar kerajinan ini bisa dikenal tidak saja di Buleleng,” tuturnya, saat ditemui Minggu (19/6) siang.

Empat tahun berjalan akhirnya usaha Suwanda berkembang. Pada tahun 2002 silam, Suwanda mendapat pelanggan hampir di seluruh wilayah Bali. Dengan bantuan enam orang pekerja, Suwanda yang hanya bermodal tekad ini berhasil memenuhi pesanan. “Semua jenis ada. Dari angklung, gong kebyar, baleganjur, serta souvenir, saya buat. Banyak yang dari luar Buleleng yang beli. Kadang mereka beli bahan setengah jadi, lalu mereka yang lanjut finishing,” terangnya.

Gong Tridatu inovasi Suwanda ini dibanderol cukup murah. Terang saja, Suwanda menggunakan bahan yang non perunggu. Ia menggabungkan tiga unsur logam yakni timah, tembaga dan besi. Akan tetapi, meski harga yang dipatok lebih murah dari bahan perunggu, namun soal kualitas Suwanda berani bersaing. Selama tiga bulan ia coba garap dengan bahan tersebut. Alhasil tidak mengecewakan. Bahan tridatu itu ia pilih karena dirasa bahan perunggu lebih maha. Terlebih omset penjualannya menurun akibat pandemic Covid-19. “Kalau perunggu per buah Rp 2,5 juta. Tapi kalau Tridatu ini Rp 1,8 juta per buah. Hasilnya sama. Suara dan bentuknya juga sama. Hanya beda bahan saja. Kualitasnya berani diadu,” tegasnya.

Prosesnya dalam menciptakan hasil karya gong ini tahapannya mulai dari peleburan bahan baku dengan panas mencapai 800 derajat celcius. Selanjutnya dituang kedalam cetakan gong dan ditempa atau dipukul terus menerus agar tidak sampai kehitaman. Kemudian gong itu disepuh dengan air dan langsung ditempa untuk kedua kalinya. Hingga pada proses akhir finishing dengan amplas dan melakukan tes bunyi yang dilakukan oleh dirinya. Dalam sehari ia hanya dapat mencetak 2 buah gong saja. Jika dihitung secara keseluruhan untuk membuat 1 unit gong barung dibutuhkan waktu mencapai 6 bulan lamanya. “Kalau gong ini dibuat berdasar permintaan karena terkendala permodalan. Bayangkan saja, untuk membuat satu set barung gong kebyar berbahan perunggu bisa mencapai 400 juta rupiah, sedangkan yang berbahan tridatu mencapai 230 juta rupiah itu pun harus dengan tanda jadi juga, jadi tidak bisa sama sekali membuat stok lebih,” tegas Suwanda.

Usaha yang dijalani Suwanda ini juga didukung oleh pemerintah Desa Sawan. Para pekerja Pande Gong ini kerap diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan terkait pembuatan gong. Anak-anak dari perajin gong ini juga dilibatkan dalam proses pelatihan. Generasi milenial yang dijaring dari anak-anak pande gong ini nantinya dapat meneruskan usaha yang dirintis orangtua mereka. “Kami berupaya agar usaha gong di desa Sawan terus maju. Dalam pelatihan itu juga nantinya mereka belajar terkait pengembangan teknologi untuk industri. Jadi nanti calon pembeli yang ingin beli gong, bisa langsung ke desa Sawan. Langsung dengan perajinnya. Tidak lagi lewat perantara,” ujar Perbekel Desa Sawan, Nyoman Wira.

Bukan saja melalui pelatihan, dukungan dari pihak desa untuk kemajuan usaha kerajinan ini yaitu melalui dana Bumdes menyiapkan permodalan seperti pembelian mesin, sarana prasarana, dan lain-lain. Meskipun dirasa dengan modal yang kecil namun dari pemerintah desa tetap berusaha penuh selalu memberikan dukungan demi keberlangsungan usaha yang merupakan unggulan di daerah ini. “Kalau penjualan perajin sudah memiliki teknik pemasarannya sendiri, serta wilayah yang menjadi target pemasarannya masing-masing. Dan tidak main-main, usaha dari perangkat desa serta segala pihak yang mendukung guna mempublikasikan produk kerajinan ini membuahkan hasil hingga dapat menjual sampai Sumatera, Sulawesi, NTB, dan NTT. Produk yang dipasarkan pun meliputi alat pendukung pertanian, peralatan dapur, instrumen gong, dan lain-lain,” jelas Wira.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Berbagai lempengan logam berjejer di salh satu ruangan. Lempengan logam itu telah terbentuk. Logam-logam yang diolah itu berubah menjadi sebuah benda seperti gong. Salah satu gamelan Bali yang banyak digunakan tatkala terdapat upacara keagamaan maupun upacara non keagamaan. Instrumen yang dihasilkan mendayu berpadu dengan komponen gong lainnya. Suara nyaring an merdu sangat enak didengar bila dimainkan dengan nada yang tepat. Gong dengan hasil terbaik salah satunya adalah buatan Pande Gong dari Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Pande Gong ini telah ada sejak 1998.

Perajinnya sendiri, Made Suwanda adalah generasi penerus dari ayahnya yang lebih dulu menjadi Pande Gong. Suwanda kemudian merintis usaha tersebut dengan nama Surya Nada Gong. Perjalanan Suwanda dalam memulai usaha tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia berusaha jatuh bangun agar usahanya dapat berkembang. “Banyak sekali kendalanya. Saya berusaha agar kerajinan ini bisa dikenal tidak saja di Buleleng,” tuturnya, saat ditemui Minggu (19/6) siang.

Empat tahun berjalan akhirnya usaha Suwanda berkembang. Pada tahun 2002 silam, Suwanda mendapat pelanggan hampir di seluruh wilayah Bali. Dengan bantuan enam orang pekerja, Suwanda yang hanya bermodal tekad ini berhasil memenuhi pesanan. “Semua jenis ada. Dari angklung, gong kebyar, baleganjur, serta souvenir, saya buat. Banyak yang dari luar Buleleng yang beli. Kadang mereka beli bahan setengah jadi, lalu mereka yang lanjut finishing,” terangnya.

Gong Tridatu inovasi Suwanda ini dibanderol cukup murah. Terang saja, Suwanda menggunakan bahan yang non perunggu. Ia menggabungkan tiga unsur logam yakni timah, tembaga dan besi. Akan tetapi, meski harga yang dipatok lebih murah dari bahan perunggu, namun soal kualitas Suwanda berani bersaing. Selama tiga bulan ia coba garap dengan bahan tersebut. Alhasil tidak mengecewakan. Bahan tridatu itu ia pilih karena dirasa bahan perunggu lebih maha. Terlebih omset penjualannya menurun akibat pandemic Covid-19. “Kalau perunggu per buah Rp 2,5 juta. Tapi kalau Tridatu ini Rp 1,8 juta per buah. Hasilnya sama. Suara dan bentuknya juga sama. Hanya beda bahan saja. Kualitasnya berani diadu,” tegasnya.

Prosesnya dalam menciptakan hasil karya gong ini tahapannya mulai dari peleburan bahan baku dengan panas mencapai 800 derajat celcius. Selanjutnya dituang kedalam cetakan gong dan ditempa atau dipukul terus menerus agar tidak sampai kehitaman. Kemudian gong itu disepuh dengan air dan langsung ditempa untuk kedua kalinya. Hingga pada proses akhir finishing dengan amplas dan melakukan tes bunyi yang dilakukan oleh dirinya. Dalam sehari ia hanya dapat mencetak 2 buah gong saja. Jika dihitung secara keseluruhan untuk membuat 1 unit gong barung dibutuhkan waktu mencapai 6 bulan lamanya. “Kalau gong ini dibuat berdasar permintaan karena terkendala permodalan. Bayangkan saja, untuk membuat satu set barung gong kebyar berbahan perunggu bisa mencapai 400 juta rupiah, sedangkan yang berbahan tridatu mencapai 230 juta rupiah itu pun harus dengan tanda jadi juga, jadi tidak bisa sama sekali membuat stok lebih,” tegas Suwanda.

Usaha yang dijalani Suwanda ini juga didukung oleh pemerintah Desa Sawan. Para pekerja Pande Gong ini kerap diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan terkait pembuatan gong. Anak-anak dari perajin gong ini juga dilibatkan dalam proses pelatihan. Generasi milenial yang dijaring dari anak-anak pande gong ini nantinya dapat meneruskan usaha yang dirintis orangtua mereka. “Kami berupaya agar usaha gong di desa Sawan terus maju. Dalam pelatihan itu juga nantinya mereka belajar terkait pengembangan teknologi untuk industri. Jadi nanti calon pembeli yang ingin beli gong, bisa langsung ke desa Sawan. Langsung dengan perajinnya. Tidak lagi lewat perantara,” ujar Perbekel Desa Sawan, Nyoman Wira.

Bukan saja melalui pelatihan, dukungan dari pihak desa untuk kemajuan usaha kerajinan ini yaitu melalui dana Bumdes menyiapkan permodalan seperti pembelian mesin, sarana prasarana, dan lain-lain. Meskipun dirasa dengan modal yang kecil namun dari pemerintah desa tetap berusaha penuh selalu memberikan dukungan demi keberlangsungan usaha yang merupakan unggulan di daerah ini. “Kalau penjualan perajin sudah memiliki teknik pemasarannya sendiri, serta wilayah yang menjadi target pemasarannya masing-masing. Dan tidak main-main, usaha dari perangkat desa serta segala pihak yang mendukung guna mempublikasikan produk kerajinan ini membuahkan hasil hingga dapat menjual sampai Sumatera, Sulawesi, NTB, dan NTT. Produk yang dipasarkan pun meliputi alat pendukung pertanian, peralatan dapur, instrumen gong, dan lain-lain,” jelas Wira.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/