26.5 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

Infeksi Kulit, Ditinggal Orangtua, Dirawat Kakek-Nenek Meski Pas-Pasan

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Selama kurang lebih empat bulan, Made Kuta alami infeksi kulit. Bocah 4 tahun itu tak tahan dengan rasa gatal dan perih di tubuhnya. Sebab, kulitnya tampak seperti melepuh dan bernanah. Beruntung, kakek dan neneknya selalu setia merawat walaupun keadaan ekonomi berkecukupan.

 

Wajah bocah asal Banjar Dinas Bonyoh, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, itu amat polos. Dia tetap ceria meski menahan rasa gatal. Dia sangat patuh tatkala dokter di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Karangasem, itu memeriksa luka gatal di kulitnya, Rabu (20/1).

 

Made Kuta, tumbuh bersama keluarga petani yang sederhana. Sang kakek, I Nyoman Keceg adalah petani mente. Sementara si nenek, Ni Nengah Milah tetap di rumah menjaganya. Made Kuta juga masih ditemani kakak perempuannya, Ni Luh Santi, 6.

 

Nasib Made Kuta amat malang. Sejak berusia 6 bulan, dia sudah ditinggal sang ayah, Ketut Mertajaya yang pergi entah ke mana. Sementara si ibu, Nyoman Suka menikah lagi dengan seorang di desa tetangga, sekitar 7 bulan lalu. Meski begitu, ibunya selalu menjenguk tiap bulan untuk memberi makanan atau kebutuhan lain anaknya.

 

Paman Made Kuta, I Nyoman Salia menuturkan, kedua keponakannya tak mendapat kasih sayang sejak kecil. Terutama Made Kuta. Bayangkan, kedua orangtuanya sempat mengungsi ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat Gunung Agung erupsi, 2017 silam. Tepat saat itu pula, Made Kuta lahir dan tinggal selama 3 bulan di sana.

 

Saat usia Made Kuta beranjak 3 bulan itu, mereka kembali ke Karangasem. Namun sayang, ayahnya hanya bertahan menemani sampai usia Made Kuta 6 bulan, kemudian pergi meninggalkannya. Setelah itu, Made Kuta diasuh ibu, kakek, dan neneknya. “Ibu anak ini adalah adik saya. Ibunya adik kandung saya paling kecil. Karena sudah menikah lagi, ya menjenguk tetap ke rumah (Desa Ban) untuk beri makanan, nginap juga sempat,” tutur Salia.

Baca Juga :  45 Tahun Keliling Indonesia, Bule Swiss Kumpulkan Seribu Pusaka

 

Kemarin, Made Kuta diantar berobat oleh paman, Nyoman Salia dan kepala dusun Bonyoh Nyoman Seken, ke RSUD Karangasem. Di sana, dia juga didampingi sejumlah dokter, pegawai rumah sakit, dan staf Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Karangasem. “Semoga saja makin baikan. Sembuh,” ujar Salia, usai mengantar Made Kuta berobat.

 

Pria yang juga petani mente ini menceritakan asal mula Made Kuta alami infeksi, 4 bulan lalu. Gatal yang dialami berawal ada bintik kecil di bagian perut. Beberapa minggu kemudian, bintik itu membesar seperti korengan. Salia menduga bintik itu melebar akibat sering digaruk. Maklum, Made Kuta tak mampu menahan. 

 

Kata Salia, karena gatal ini, keponakannya sulit tidur. Kakek dan neneknya juga tidak tahu apa yang membuat lukanya makin lebar. Padahal, kata Salia, Made Kuta tak pernah makan makanan yang aneh. Bahkan makan daging, telur dan ikan pun jarang. Saat ini saja, Made Kuta hanya diberi makan nasi dan sayur-sayuran. “Karena uang untuk beli lauk juga tidak punya,” ungkapnya.

 

Bintik gatal itu tetap saja makin parah. Menyebar ke bagian tubuh lain seperti paha, lutut, tangan, dan perut. Kakek dan neneknya tak mampu mengajak Made Kuta berobat ke rumah sakit. Akan tetapi, luka di kulit anak itu makin lebar. Made Kuta lantas diajak berobat ke klinik dekat rumah.

 

Salia mengakui, sebenarnya mereka ingin mengajak Made Kuta ke rumah sakit dari awal namun takut tidak punya biaya. “Awalnya diberi salep dan sirup. Tapi belum mereda. Malah tambah parah. Keponakan saya juga gak kuat. Kalau gatal pasti digaruk,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lontar Kala Tattwa: Metatah Belum Tuntas sebelum Mejaya-jaya

 

Kisah kondisi Made Kuta dan keluarganya di Desa Ban akhirnya memantik beberapa pihak untuk membantu. Beberapa yayasan sosial juga pernah membantu memberikan mereka makanan dan kebutuhan pokok lain. Alhasil, beberapa pihak berbaik hati membantu Made Kuta berobat ke RSUD Karangasem. Bahkan untuk administrasinya telah diurus.

 

Kepala Dusun Bonyoh Desa Ban, Nyoman Seken membenarkan, saat ini administrasi kependudukan Made Kuta dan kakaknya, Ni Luh Santi akan diupayakan agar mereka mendapat bantuan. Sebab saat ini mereka belum terdata di kartu keluarga kakek-neneknya. Rencananya anak tersebut bakal dimasukkan ke KK kakek-neneknya dan menunggu kelengkapan administrasi dan data yang dibutuhkan.

 

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Karangasem tengah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, termasuk Dinas Sosial untuk bantuan keluarga ini. Nyoman Seken mengakui, keluarga yang mengasuh Made Kuta memang kurang mampu. Namun mereka tetap gigih merawat cucu-cucunya. “Mereka petani dan penghasilan tidak menentu. Kami upayakan agar mereka dapat bantuan,” sebutnya.

 

Kakek dan nenek Made Kuta, kata Nyoman Seken, telah mendapat bantuan pangan non tunai (BPNT). Kini tinggal mengurus administrasi si anak. Sehingga ke depan, keperluan apapun yang menyangkut data si anak agar terakomodir. Misalnya bantuan dan jaminan kesehatan. “Saya terima kasih kepada yang sudah bantu. Beryukur saat ini ada yang bantu pengobatan,” sambung Nyoman Salia, paman Made Kuta mengakhiri.


AMLAPURA, BALI EXPRESS – Selama kurang lebih empat bulan, Made Kuta alami infeksi kulit. Bocah 4 tahun itu tak tahan dengan rasa gatal dan perih di tubuhnya. Sebab, kulitnya tampak seperti melepuh dan bernanah. Beruntung, kakek dan neneknya selalu setia merawat walaupun keadaan ekonomi berkecukupan.

 

Wajah bocah asal Banjar Dinas Bonyoh, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, itu amat polos. Dia tetap ceria meski menahan rasa gatal. Dia sangat patuh tatkala dokter di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Karangasem, itu memeriksa luka gatal di kulitnya, Rabu (20/1).

 

Made Kuta, tumbuh bersama keluarga petani yang sederhana. Sang kakek, I Nyoman Keceg adalah petani mente. Sementara si nenek, Ni Nengah Milah tetap di rumah menjaganya. Made Kuta juga masih ditemani kakak perempuannya, Ni Luh Santi, 6.

 

Nasib Made Kuta amat malang. Sejak berusia 6 bulan, dia sudah ditinggal sang ayah, Ketut Mertajaya yang pergi entah ke mana. Sementara si ibu, Nyoman Suka menikah lagi dengan seorang di desa tetangga, sekitar 7 bulan lalu. Meski begitu, ibunya selalu menjenguk tiap bulan untuk memberi makanan atau kebutuhan lain anaknya.

 

Paman Made Kuta, I Nyoman Salia menuturkan, kedua keponakannya tak mendapat kasih sayang sejak kecil. Terutama Made Kuta. Bayangkan, kedua orangtuanya sempat mengungsi ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat Gunung Agung erupsi, 2017 silam. Tepat saat itu pula, Made Kuta lahir dan tinggal selama 3 bulan di sana.

 

Saat usia Made Kuta beranjak 3 bulan itu, mereka kembali ke Karangasem. Namun sayang, ayahnya hanya bertahan menemani sampai usia Made Kuta 6 bulan, kemudian pergi meninggalkannya. Setelah itu, Made Kuta diasuh ibu, kakek, dan neneknya. “Ibu anak ini adalah adik saya. Ibunya adik kandung saya paling kecil. Karena sudah menikah lagi, ya menjenguk tetap ke rumah (Desa Ban) untuk beri makanan, nginap juga sempat,” tutur Salia.

Baca Juga :  45 Tahun Keliling Indonesia, Bule Swiss Kumpulkan Seribu Pusaka

 

Kemarin, Made Kuta diantar berobat oleh paman, Nyoman Salia dan kepala dusun Bonyoh Nyoman Seken, ke RSUD Karangasem. Di sana, dia juga didampingi sejumlah dokter, pegawai rumah sakit, dan staf Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Karangasem. “Semoga saja makin baikan. Sembuh,” ujar Salia, usai mengantar Made Kuta berobat.

 

Pria yang juga petani mente ini menceritakan asal mula Made Kuta alami infeksi, 4 bulan lalu. Gatal yang dialami berawal ada bintik kecil di bagian perut. Beberapa minggu kemudian, bintik itu membesar seperti korengan. Salia menduga bintik itu melebar akibat sering digaruk. Maklum, Made Kuta tak mampu menahan. 

 

Kata Salia, karena gatal ini, keponakannya sulit tidur. Kakek dan neneknya juga tidak tahu apa yang membuat lukanya makin lebar. Padahal, kata Salia, Made Kuta tak pernah makan makanan yang aneh. Bahkan makan daging, telur dan ikan pun jarang. Saat ini saja, Made Kuta hanya diberi makan nasi dan sayur-sayuran. “Karena uang untuk beli lauk juga tidak punya,” ungkapnya.

 

Bintik gatal itu tetap saja makin parah. Menyebar ke bagian tubuh lain seperti paha, lutut, tangan, dan perut. Kakek dan neneknya tak mampu mengajak Made Kuta berobat ke rumah sakit. Akan tetapi, luka di kulit anak itu makin lebar. Made Kuta lantas diajak berobat ke klinik dekat rumah.

 

Salia mengakui, sebenarnya mereka ingin mengajak Made Kuta ke rumah sakit dari awal namun takut tidak punya biaya. “Awalnya diberi salep dan sirup. Tapi belum mereda. Malah tambah parah. Keponakan saya juga gak kuat. Kalau gatal pasti digaruk,” ungkapnya.

Baca Juga :  Disenggol Truk, Pria Asal Tianyar Barat Tewas di Tempat

 

Kisah kondisi Made Kuta dan keluarganya di Desa Ban akhirnya memantik beberapa pihak untuk membantu. Beberapa yayasan sosial juga pernah membantu memberikan mereka makanan dan kebutuhan pokok lain. Alhasil, beberapa pihak berbaik hati membantu Made Kuta berobat ke RSUD Karangasem. Bahkan untuk administrasinya telah diurus.

 

Kepala Dusun Bonyoh Desa Ban, Nyoman Seken membenarkan, saat ini administrasi kependudukan Made Kuta dan kakaknya, Ni Luh Santi akan diupayakan agar mereka mendapat bantuan. Sebab saat ini mereka belum terdata di kartu keluarga kakek-neneknya. Rencananya anak tersebut bakal dimasukkan ke KK kakek-neneknya dan menunggu kelengkapan administrasi dan data yang dibutuhkan.

 

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Karangasem tengah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, termasuk Dinas Sosial untuk bantuan keluarga ini. Nyoman Seken mengakui, keluarga yang mengasuh Made Kuta memang kurang mampu. Namun mereka tetap gigih merawat cucu-cucunya. “Mereka petani dan penghasilan tidak menentu. Kami upayakan agar mereka dapat bantuan,” sebutnya.

 

Kakek dan nenek Made Kuta, kata Nyoman Seken, telah mendapat bantuan pangan non tunai (BPNT). Kini tinggal mengurus administrasi si anak. Sehingga ke depan, keperluan apapun yang menyangkut data si anak agar terakomodir. Misalnya bantuan dan jaminan kesehatan. “Saya terima kasih kepada yang sudah bantu. Beryukur saat ini ada yang bantu pengobatan,” sambung Nyoman Salia, paman Made Kuta mengakhiri.


Most Read

Artikel Terbaru