alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Demi Gelar Doktor, Anggayana Kerja Keras Jadi Pengasong Susuri Desa

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Setiap orang memiliki keinginan menuntaskan pendidikan setinggi mungkin untuk bisa mencapai cita-citanya. Bagi keluarga berada tentu tak soal, tapi bagi Wayan Agus Anggayana tentu bermasalah karena hanya bermodal semangat dan kerja keras untuk meraih cita cita.

Dr. I Wayan Agus Anggayana, S.Pd., M.Pd, yang akhirnya namanya diikuti banyak titel butuh proses panjang. Harus bekerja keras untuk bisa menuntaskan pendidikannya hingga S3. Sebelum meraih gelar tersebut, banyak perjuangan ia lalui karena harus juga membantu ekonomi keluarga, ketika masih mengenyam pendidikan S1.

Kala itu, ia memberanikan diri untuk memulai berjualan berbagai aksesoris dan alat elektronik lainnya, seperti Power Bank, Flashdisk, dan lainnya.

Hal tersebut ia lakukan demi bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi dan memenuhi biaya pendidikan kedua adiknya yang saat itu masih SMA. “Saya datang ke desa-desa, dimana ada keramaian, seperti tajen atau tempat wisata, saya datang kesana supaya ada yang membeli,” jelasnya.

Pria asal Banjar Dinas Abianjero, Desa Ababi, Abang, Karangasem ini, mengakui sangat senang bersekolah, karena bercita-cita sebagai guru. “Dalam kondisi sakit sekalipun saya tetap sekolah karena memang saya senang sekolah,” lanjutnya.

Selain berjualan asongan yang ia lakukan sampai tamat S2, untuk mendapatkan hasil tambahan, kakak dari I Made Arry Anggabawa dan Ni Nyoman Novita Angginingsih ini juga mengajar di beberapa tempat.

Pekerjaan itu ia lakoni tak mengenal waktu. Dari pagi hingga larut malam ia masih mengajar demi bisa mendapat pemasukan yang mencukupi.

Ketika sudah tamat S2, karena tidak memiliki biaya yang cukup, ia memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan pendidikannya ke S3. Sampai akhirnya di tahun berikutnya mendapat informasi bahwa ada beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S3.

Wayan Agus Anggayana pun mengikuti seleksi untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Dari 16 orang yang mendaftar, hanya dua yang diterima dalam beasiswa itu, dan salah satunya adalah Angga. “Yang ikut seleksi ada dari Aceh, dan daerah lainnya,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan tersebut berhasil ia lewati. Lulus di tahun 2021, dirinya sudah menyandang gelar Doktor di usianya masih terbilang cukup muda, yakni 27 tahun.

Sesudah menyandang gelar tersebut, Angga sempat diejek, ada yang nyinyir karena banyak titel di namanya. Tetapi itu tidak dijadikannya permasalahan yang serius baginya.

“Ada yang bilang anggo apa masuk tegeh-tegeh kanti S3, nyen kal ganti?, kepala sekolah gen S1. Semua itu tidak saya gubris. Saya jadikan motivasi saja,” terangnya.

Maksudnya, buat apa menempuh pendidikan tinggi sampai S3, siapa yang akan diganti, kepala sekolah saja sampai S1.

Meskipun sudah menjadi dosen di Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia, Angga masih mengambil sampingan untuk berjualan elektronik. Tetapi bukan lagi Power Bank ataupun Flashdisk, melainkan memasang CCTV atau mesin kasir. “Barang saya (Power Bank, Flashdisk, dan lain sebagainya) kini masih tersimpan rapi. Saya rindu untuk berjualan lagi,” pungkasnya.(dir)

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Setiap orang memiliki keinginan menuntaskan pendidikan setinggi mungkin untuk bisa mencapai cita-citanya. Bagi keluarga berada tentu tak soal, tapi bagi Wayan Agus Anggayana tentu bermasalah karena hanya bermodal semangat dan kerja keras untuk meraih cita cita.

Dr. I Wayan Agus Anggayana, S.Pd., M.Pd, yang akhirnya namanya diikuti banyak titel butuh proses panjang. Harus bekerja keras untuk bisa menuntaskan pendidikannya hingga S3. Sebelum meraih gelar tersebut, banyak perjuangan ia lalui karena harus juga membantu ekonomi keluarga, ketika masih mengenyam pendidikan S1.

Kala itu, ia memberanikan diri untuk memulai berjualan berbagai aksesoris dan alat elektronik lainnya, seperti Power Bank, Flashdisk, dan lainnya.

Hal tersebut ia lakukan demi bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi dan memenuhi biaya pendidikan kedua adiknya yang saat itu masih SMA. “Saya datang ke desa-desa, dimana ada keramaian, seperti tajen atau tempat wisata, saya datang kesana supaya ada yang membeli,” jelasnya.

Pria asal Banjar Dinas Abianjero, Desa Ababi, Abang, Karangasem ini, mengakui sangat senang bersekolah, karena bercita-cita sebagai guru. “Dalam kondisi sakit sekalipun saya tetap sekolah karena memang saya senang sekolah,” lanjutnya.

Selain berjualan asongan yang ia lakukan sampai tamat S2, untuk mendapatkan hasil tambahan, kakak dari I Made Arry Anggabawa dan Ni Nyoman Novita Angginingsih ini juga mengajar di beberapa tempat.

Pekerjaan itu ia lakoni tak mengenal waktu. Dari pagi hingga larut malam ia masih mengajar demi bisa mendapat pemasukan yang mencukupi.

Ketika sudah tamat S2, karena tidak memiliki biaya yang cukup, ia memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan pendidikannya ke S3. Sampai akhirnya di tahun berikutnya mendapat informasi bahwa ada beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S3.

Wayan Agus Anggayana pun mengikuti seleksi untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Dari 16 orang yang mendaftar, hanya dua yang diterima dalam beasiswa itu, dan salah satunya adalah Angga. “Yang ikut seleksi ada dari Aceh, dan daerah lainnya,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan tersebut berhasil ia lewati. Lulus di tahun 2021, dirinya sudah menyandang gelar Doktor di usianya masih terbilang cukup muda, yakni 27 tahun.

Sesudah menyandang gelar tersebut, Angga sempat diejek, ada yang nyinyir karena banyak titel di namanya. Tetapi itu tidak dijadikannya permasalahan yang serius baginya.

“Ada yang bilang anggo apa masuk tegeh-tegeh kanti S3, nyen kal ganti?, kepala sekolah gen S1. Semua itu tidak saya gubris. Saya jadikan motivasi saja,” terangnya.

Maksudnya, buat apa menempuh pendidikan tinggi sampai S3, siapa yang akan diganti, kepala sekolah saja sampai S1.

Meskipun sudah menjadi dosen di Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan Indonesia, Angga masih mengambil sampingan untuk berjualan elektronik. Tetapi bukan lagi Power Bank ataupun Flashdisk, melainkan memasang CCTV atau mesin kasir. “Barang saya (Power Bank, Flashdisk, dan lain sebagainya) kini masih tersimpan rapi. Saya rindu untuk berjualan lagi,” pungkasnya.(dir)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/