27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Kisah Tiga Lansia Kakak Beradik; Timpat Tinggalnya Memprihatinkan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah tua, kayu bakar, sangkar ayam serta pepohonan yang rimbun adalah pemandangan tempat tinggal dari tiga lansia di lingkungan Sangket, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Rumah dengan dinding tanah serta batu bata yang tua menjadi pelindung ketiganya dari panas maupun hujan. Tiga lansia itu yakni Ketut Sasih, 71, Made Sari dan Made Ngurah. Hari-hari mereka lalui bertiga. Sejatinya mereka masih memiliki sanak saudara. Terkadang ketiga lansia ini dikunjungi oleh keluarganya.

Untuk menuju ke rumah para lansia ini harus melewati tebing dengan jalan yang cukup curam. Jalan setapak yang kecil menjadi akses keluar masuk ketiga lansia ini dari rumahnya. Jarak yang jauh dan medan yang cukup sulit menjadi kendala ketiga lansia ini untuk berinteraksi di luar rumah. Mereka harus melewati tebing untuk mengakses desa. Terlebih tubuhnya sudah tidak lagi sanggup untuk berjalan jauh. Kendati demikian, Ketut Sasih yang merupakan adik bungsu dari Made Sari dan Made Ngurah ini harusĀ  berjuang untuk mendapatkan uang agar dapur tetap berproduksi.

Ketut Sasih merupakan anak ke-15. Sementara Made Sari Putri ke-9 dan Made Ngurah putra ke-13. Beberapa saudaranya pun sudah ada yang meninggal. Kini mereka hanya hidup bertiga. Umur kedua kakaknya itu tak lagi diketahui oleh Ketut Sasih. “Kami saudara 15. Sisa kami bertiga. Tiang (saya) paling kecil,” ujarnya saat dikunjungi, Rabu (21/9) pagi.

Sehari-hari Ketut Sasih harus berjalan sekitar 20 menit menyusuri hutan dan sawah. Sebagai tulang punggung keluarga, Sasih harus memenuhi kebutuhan keluarga, sebab kedua kakaknya tidak memungkinkan melakukan pekerjaan. Kendati kaki Sasih kerap sakit saat berjalan dengan jarak yang jauh, ia tidak menyerah. Ia tetap berjuang untuk menghidupi keluarganya. Kedua kakaknya juga sakit-sakitan.

Baca Juga :  Cerita Zainal Tayeb yang Dipenjarakan Keponakan; Sosialnya Tak Pudar

Hidup dalam kesederhanaan tak lantas membuat Sasih menyerah dan menunggu uluran tangan orang lain. Dengan mengandalkan kayu bakar yang dipungut dari hutan serta hasil panen pisang yang ditanam di pekarangan rumah, Sasih berupaya memenuhi kebutuhan. Kayu-kayu bakar itu ia jual. Terkadang kelapa yang jatuh serta daun pisang pemberian dari pemilik kebun juga ia jual agar bisa membeli beras. “Ya supaya bisa beli beras barang sekilo atau dua kilo saja sudah cukup. Kayunya saya jual ke desa Panji, hanya jalan kaki 2 jam dari sini,” ungkapnya.

Jalan setapak yang dilalui Sasih tidak dapat dilalui kendaraan. Bila hujan turun jalan tersebut akan becek dan licin sehingga membuat Sasih memilih untuk berdiam diri di rumah. Perihal makanan, ketiga kakak beradik ini lebih suka makan nasi uyah lengis (nasi dicampur garam dan minyak goreng) daripada berteman lauk. Terang saja, keterbatasan mereka dalam hal ekonomi membuatnya jarang menikmati lauk pauk. Biasanya mereka akan memetik sayur-mayur yang ada di hutan atau memetik sayuran yang di tanam sendiri. “Biasanya nyari sayur paku, atau daun ubi. Tapi kalau terlalu banyak makan daun ubi, juga bikin pusing. Jadi lebih enak makan nasi saja. Atau keponakan biasanya datang membawakan makanan,” tuturnya.

Seingat Ketut Sasih, keluarganya tinggal dibawah jurang itu sejak ia masih berusia lima tahun. Sebab saat itu ia ikut membantu orangtuanya mengangkut seng yang dibeli di kota. “Saya sempat lihat bapak bikin rumah ini dari tanah. Kayu-kayunya diambil dari hutan. Jadi yang dibeli hanya seng dan paku saja,” tuturnya.

Baca Juga :  Soal Buang Hajat Jadi Masalah, Bisa Antre dari Jam 3 Pagi sampai Siang

Apabila mengalami masalah kesehatan, Sasih akan menghubungi keponakannya untuk memanggil Mantri. Mantri itu pun akan merawat mereka dengan ikhlas. Dengan obat-obatan yang diberikan tiga bersaudara itu pun berangsur akan pulih. Keponakan memang menjadi andalan mereka dikala sakit. Sebab ketiga bersaudara ini memutuskan untuk tidak menikah, agar bisa fokus mengurus kedua orangtuanya. “Kalau punya uang kami bayar Mantri, kalau tidak punya uang mantrinya juga bersedia tidak dibayar. Kami dulu mau bantu ibu, kasihan tidak ada yang bantu. Jadi kami memilih untuk menemaninya dan tidak menikah,” ujarnya.

Kendati tinggal jauh dari pedesaan, keluarga Ketut Sasih rutin mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kemensos RI. Akan tetapi Sasih harus ikhlas menerima bantuan yang tidak terlalu banyak karena ia terdaftar dalam KK keponakannya. “Sehingga bantuan juga harus dibagi dengan keponakannya, yang juga tergolong kurang mampu,” ungkap Ketua RT 5, Lingkungan Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng Made Ariada.

Sesegera mungkin Ariada akan mengusulkan kepada Lurah agar KK Ketut Sasih bersama kedua kakaknya dibuat terpisah dari keponakannya. Sehingga dapat menerima bantuan khusus lansia. “Nanti akan kami usulkan agar KKnya dipecah. Tapi kalau bantuan PKH turun, keponakannya pasti datang mengantarkan bantuan itu untuk mereka,” terangnya.

 






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rumah tua, kayu bakar, sangkar ayam serta pepohonan yang rimbun adalah pemandangan tempat tinggal dari tiga lansia di lingkungan Sangket, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Rumah dengan dinding tanah serta batu bata yang tua menjadi pelindung ketiganya dari panas maupun hujan. Tiga lansia itu yakni Ketut Sasih, 71, Made Sari dan Made Ngurah. Hari-hari mereka lalui bertiga. Sejatinya mereka masih memiliki sanak saudara. Terkadang ketiga lansia ini dikunjungi oleh keluarganya.

Untuk menuju ke rumah para lansia ini harus melewati tebing dengan jalan yang cukup curam. Jalan setapak yang kecil menjadi akses keluar masuk ketiga lansia ini dari rumahnya. Jarak yang jauh dan medan yang cukup sulit menjadi kendala ketiga lansia ini untuk berinteraksi di luar rumah. Mereka harus melewati tebing untuk mengakses desa. Terlebih tubuhnya sudah tidak lagi sanggup untuk berjalan jauh. Kendati demikian, Ketut Sasih yang merupakan adik bungsu dari Made Sari dan Made Ngurah ini harusĀ  berjuang untuk mendapatkan uang agar dapur tetap berproduksi.

Ketut Sasih merupakan anak ke-15. Sementara Made Sari Putri ke-9 dan Made Ngurah putra ke-13. Beberapa saudaranya pun sudah ada yang meninggal. Kini mereka hanya hidup bertiga. Umur kedua kakaknya itu tak lagi diketahui oleh Ketut Sasih. “Kami saudara 15. Sisa kami bertiga. Tiang (saya) paling kecil,” ujarnya saat dikunjungi, Rabu (21/9) pagi.

Sehari-hari Ketut Sasih harus berjalan sekitar 20 menit menyusuri hutan dan sawah. Sebagai tulang punggung keluarga, Sasih harus memenuhi kebutuhan keluarga, sebab kedua kakaknya tidak memungkinkan melakukan pekerjaan. Kendati kaki Sasih kerap sakit saat berjalan dengan jarak yang jauh, ia tidak menyerah. Ia tetap berjuang untuk menghidupi keluarganya. Kedua kakaknya juga sakit-sakitan.

Baca Juga :  Waterblow Dibuka Lagi, Tiket Rp 10 Ribu sampai Rp 25 Ribu Per Orang

Hidup dalam kesederhanaan tak lantas membuat Sasih menyerah dan menunggu uluran tangan orang lain. Dengan mengandalkan kayu bakar yang dipungut dari hutan serta hasil panen pisang yang ditanam di pekarangan rumah, Sasih berupaya memenuhi kebutuhan. Kayu-kayu bakar itu ia jual. Terkadang kelapa yang jatuh serta daun pisang pemberian dari pemilik kebun juga ia jual agar bisa membeli beras. “Ya supaya bisa beli beras barang sekilo atau dua kilo saja sudah cukup. Kayunya saya jual ke desa Panji, hanya jalan kaki 2 jam dari sini,” ungkapnya.

Jalan setapak yang dilalui Sasih tidak dapat dilalui kendaraan. Bila hujan turun jalan tersebut akan becek dan licin sehingga membuat Sasih memilih untuk berdiam diri di rumah. Perihal makanan, ketiga kakak beradik ini lebih suka makan nasi uyah lengis (nasi dicampur garam dan minyak goreng) daripada berteman lauk. Terang saja, keterbatasan mereka dalam hal ekonomi membuatnya jarang menikmati lauk pauk. Biasanya mereka akan memetik sayur-mayur yang ada di hutan atau memetik sayuran yang di tanam sendiri. “Biasanya nyari sayur paku, atau daun ubi. Tapi kalau terlalu banyak makan daun ubi, juga bikin pusing. Jadi lebih enak makan nasi saja. Atau keponakan biasanya datang membawakan makanan,” tuturnya.

Seingat Ketut Sasih, keluarganya tinggal dibawah jurang itu sejak ia masih berusia lima tahun. Sebab saat itu ia ikut membantu orangtuanya mengangkut seng yang dibeli di kota. “Saya sempat lihat bapak bikin rumah ini dari tanah. Kayu-kayunya diambil dari hutan. Jadi yang dibeli hanya seng dan paku saja,” tuturnya.

Baca Juga :  Membantu Ribuan Kehidupan Baru, tapi Tak Bisa Menolong Diri Sendiri

Apabila mengalami masalah kesehatan, Sasih akan menghubungi keponakannya untuk memanggil Mantri. Mantri itu pun akan merawat mereka dengan ikhlas. Dengan obat-obatan yang diberikan tiga bersaudara itu pun berangsur akan pulih. Keponakan memang menjadi andalan mereka dikala sakit. Sebab ketiga bersaudara ini memutuskan untuk tidak menikah, agar bisa fokus mengurus kedua orangtuanya. “Kalau punya uang kami bayar Mantri, kalau tidak punya uang mantrinya juga bersedia tidak dibayar. Kami dulu mau bantu ibu, kasihan tidak ada yang bantu. Jadi kami memilih untuk menemaninya dan tidak menikah,” ujarnya.

Kendati tinggal jauh dari pedesaan, keluarga Ketut Sasih rutin mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kemensos RI. Akan tetapi Sasih harus ikhlas menerima bantuan yang tidak terlalu banyak karena ia terdaftar dalam KK keponakannya. “Sehingga bantuan juga harus dibagi dengan keponakannya, yang juga tergolong kurang mampu,” ungkap Ketua RT 5, Lingkungan Sangket, Kelurahan/Kecamatan Sukasada, Buleleng Made Ariada.

Sesegera mungkin Ariada akan mengusulkan kepada Lurah agar KK Ketut Sasih bersama kedua kakaknya dibuat terpisah dari keponakannya. Sehingga dapat menerima bantuan khusus lansia. “Nanti akan kami usulkan agar KKnya dipecah. Tapi kalau bantuan PKH turun, keponakannya pasti datang mengantarkan bantuan itu untuk mereka,” terangnya.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/