alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Bengkel Suami Sepi, Mertiasih Bertahan Hidup Dari Anyam Ingke

BULELENG, BALI EXPRESS – Kerajinan ingka atau peralatan makan dari lidi masih diminati. Pun demikian pembuat kerajinan ini sangat sedikit. bahkan bisa dibilang langka.

Di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamata Tejakula terdapat perajin ingka yang masih eksis. Made Mertiasih, 45 yang masih melakukannya. Saat dijumapi di The Kirana Tembok Kamis (2/12) lalu, Mertiasih nampak tengah merancang sebuah ingka. Ia menggunakan lidi dari lontar. Lidi-lidi itu ia susun berdasarkan rumus khusus. Kemudian dianyam hingga membentuk wadah.

Mertiasih pun telah lama menekuni kerajinan ingka ini. Bahkan sedari ia belum menikah. Ia belajar membuat ingka dari ibunya yang juga seorang pembuat ingka handal di desanya. Ingka yang dibuat Mertiasih berbeda dari biasanya. Jika biasanya ingka yang dibuat berbahab dari lidi daun kelapa, Mertiasih justru membuatnya dengan lidi dari daun lontar. “Sudah dari sebelum menikah. Belajarnya dari ibu,” ujar peremuan asli Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula ini sembari menganyam lidi menjadi ingka.

Keuletannya membuat ingka pun mendatangkan pundi-pundi rupiah. Kini membuat ingka menjadi salah satu mata pencaharian Mertiasih di tengah pandemi. Terlebih usaha suami yang membuka bengkel kondisinya sepi lantaran Covid-19. Ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja di sektor pariwisata pun akhirnya fokus mengurus rumah tangga sembari membuat ingka. “Bengkel suami lagi sepi. Jadi cukup membantu dengan mebuat ini. Lumayan juga kalau dijual,” singkatnya sambil tetap fokus pada anyamannya.

Satu buah ingka bila dijual dihargai Rp 5 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung ukuran yang dipesan. Karena kualitas ingka lontar lebih baik dari ingka kelapa, maka haranya pun lebih mahal. Disamping itu, bahan baku yang digunakan juga terbatas. “Bervariasi ya, ada untuk tempat kue. Itu yang ukurannya kecil, ada yang untuk makan, untuk banten, ingka buat keben jua ada,” paparnya.






Reporter: Dian Suryantini

BULELENG, BALI EXPRESS – Kerajinan ingka atau peralatan makan dari lidi masih diminati. Pun demikian pembuat kerajinan ini sangat sedikit. bahkan bisa dibilang langka.

Di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamata Tejakula terdapat perajin ingka yang masih eksis. Made Mertiasih, 45 yang masih melakukannya. Saat dijumapi di The Kirana Tembok Kamis (2/12) lalu, Mertiasih nampak tengah merancang sebuah ingka. Ia menggunakan lidi dari lontar. Lidi-lidi itu ia susun berdasarkan rumus khusus. Kemudian dianyam hingga membentuk wadah.

Mertiasih pun telah lama menekuni kerajinan ingka ini. Bahkan sedari ia belum menikah. Ia belajar membuat ingka dari ibunya yang juga seorang pembuat ingka handal di desanya. Ingka yang dibuat Mertiasih berbeda dari biasanya. Jika biasanya ingka yang dibuat berbahab dari lidi daun kelapa, Mertiasih justru membuatnya dengan lidi dari daun lontar. “Sudah dari sebelum menikah. Belajarnya dari ibu,” ujar peremuan asli Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula ini sembari menganyam lidi menjadi ingka.

Keuletannya membuat ingka pun mendatangkan pundi-pundi rupiah. Kini membuat ingka menjadi salah satu mata pencaharian Mertiasih di tengah pandemi. Terlebih usaha suami yang membuka bengkel kondisinya sepi lantaran Covid-19. Ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja di sektor pariwisata pun akhirnya fokus mengurus rumah tangga sembari membuat ingka. “Bengkel suami lagi sepi. Jadi cukup membantu dengan mebuat ini. Lumayan juga kalau dijual,” singkatnya sambil tetap fokus pada anyamannya.

Satu buah ingka bila dijual dihargai Rp 5 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung ukuran yang dipesan. Karena kualitas ingka lontar lebih baik dari ingka kelapa, maka haranya pun lebih mahal. Disamping itu, bahan baku yang digunakan juga terbatas. “Bervariasi ya, ada untuk tempat kue. Itu yang ukurannya kecil, ada yang untuk makan, untuk banten, ingka buat keben jua ada,” paparnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/