alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Kaki Diabetes, Ini Penjelasan Dokter Agar Tak Sampai Amputasi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Selain merupakan salah satu jenis penyakit yang bisa diderita oleh kelompok umur berapa saja, diabetes juga mempengaruhi setiap bagian tubuh, tetapi sering melibatkan kaki terlebih dahulu, atau dikenal dengan istilah Kaki Diabetes/ Diabetic Foot Ulcer (DFU).

Dokter Spesialis Bedah Umum RS Garbamed, I GB Dharma Prakasa M.,Sp.B., menjelaskan Diabetic Foot Ulcer (DFU) merupakan salah satu komplikasi kronik dari diabetes melitus. “DFU merupakan penyakit pada kaki penderita diabetes dengan karakteristik adanya neuropati sensorik, motorik, otonom serta gangguan makrovaskuler dan mikrovaskuler,” jelasnya.

Luka yang terjadi lebih dari 3 hari akibat adanya kerusakan epitelium dan membran basalis (Ulkus), infeksi, gangren, amputasi, dan kematian merupakan komplikasi signifikan yang bisa terjadi pada penderita kaki diabetes. Adapun faktor patogenesis kaki diabetes antara lain, hiperglikemia, neuropati, keterbatasan sendi dan deformitas, dan kadar glukosa yang tinggi menyebabkan membran sel kehilangan fungsinya.

Perubahan fisiologis yang diinduksi oleh hiperglikemia pada jaringan ekstremitas bawah termasuk penurunan potensial pertukaran oksigen dengan membatasi proses pertukaran atau melalui induksi kerusakan pada sistem saraf otonom yang menyebabkan shunting darah yang kaya oksigen menjauhi permukaan kulit. “Defisiensi oksigen yang disebabkan oleh patologi makrovaskuler dan mikrovaskuler menjadi hal yang paling penting dalam mekanisme terjadinya kaki diabetes,” urainya.

Lantas seperti apa terapi pada penderita kaki diabetes ini? dr. Pras menjelaskan sebelum penatalaksanaan Diabetic Foot Ulcer (DFU) dilakukan, ada sistem klasifikasi dari kaki diabetes ini, mulai dari tidak ada lesi terbuka, dapat berupa deformitas atau selulitis Ulkus superfisial, Ulkus dalam hingga ke tendon atau kapsul sendi,  Ulkus dalam dengan abses, osteomielitis, atau sepsis sendi, Gangren lokal pada kaki depan atau tumit, Gangren pada semua kaki.

Selanjutnya penatalaksanaan kaki diabetik dilanjutkan dr. Pras  dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar. “Yaitu pencegahan primer pencegahan sebelum terjadi perlukaan pada kulit) dan pencegahan sekunder (pencegahan dan penatalaksanaan ulkus/gangren diabetik yang sudah terjadi) agar tidak terjadi kecacatan yang lebih parah,” lanjutnya.

Pencegahan primer biasa dalam bentuk sosialisasi kepada pasien diabetes dengan kondisi kaki yang masih baik (belum tampak luka atau gangren) selama mungkin dan tidak berlanjut ke tingkat yang lebih berat. Upaya ini dilanjutkan dr. Pras juga harus dilakukan beriringan dengan sosialisasi  mengenai kontrol gula darah untuk pasien diabetes melitus, seperti diet, olahraga, dan perubahan  gaya hidup.

Karena menurutnya, edukasi pasien dan praktek mandiri pasien sangat penting. “Khususnya mengenai  perawatan kaki bagi pasien dengan resiko, seperti menjaga kebersihan kaki, mempertahankan kelembaban kulit kaki dengan pelembab, dan perawatan kuku sebaiknya dipromosikan,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah pencegahan skunder ini meliputi, aktivitas kontrol berkala, seperti kontrol metabolik, kontrol neuropati, kontrol vaskuler, kontrol mekanis-tekanan, kontrol luka dan mikrobiologi- infeksi. “Karena deteksi dini patologi kaki, khususnya pada pasien dengan risiko tinggi, membantu untuk menentukan intervensi awal dan mengurangi potensi perawatan dirumah sakit atau amputasi,” tambahnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Selain merupakan salah satu jenis penyakit yang bisa diderita oleh kelompok umur berapa saja, diabetes juga mempengaruhi setiap bagian tubuh, tetapi sering melibatkan kaki terlebih dahulu, atau dikenal dengan istilah Kaki Diabetes/ Diabetic Foot Ulcer (DFU).

Dokter Spesialis Bedah Umum RS Garbamed, I GB Dharma Prakasa M.,Sp.B., menjelaskan Diabetic Foot Ulcer (DFU) merupakan salah satu komplikasi kronik dari diabetes melitus. “DFU merupakan penyakit pada kaki penderita diabetes dengan karakteristik adanya neuropati sensorik, motorik, otonom serta gangguan makrovaskuler dan mikrovaskuler,” jelasnya.

Luka yang terjadi lebih dari 3 hari akibat adanya kerusakan epitelium dan membran basalis (Ulkus), infeksi, gangren, amputasi, dan kematian merupakan komplikasi signifikan yang bisa terjadi pada penderita kaki diabetes. Adapun faktor patogenesis kaki diabetes antara lain, hiperglikemia, neuropati, keterbatasan sendi dan deformitas, dan kadar glukosa yang tinggi menyebabkan membran sel kehilangan fungsinya.

Perubahan fisiologis yang diinduksi oleh hiperglikemia pada jaringan ekstremitas bawah termasuk penurunan potensial pertukaran oksigen dengan membatasi proses pertukaran atau melalui induksi kerusakan pada sistem saraf otonom yang menyebabkan shunting darah yang kaya oksigen menjauhi permukaan kulit. “Defisiensi oksigen yang disebabkan oleh patologi makrovaskuler dan mikrovaskuler menjadi hal yang paling penting dalam mekanisme terjadinya kaki diabetes,” urainya.

Lantas seperti apa terapi pada penderita kaki diabetes ini? dr. Pras menjelaskan sebelum penatalaksanaan Diabetic Foot Ulcer (DFU) dilakukan, ada sistem klasifikasi dari kaki diabetes ini, mulai dari tidak ada lesi terbuka, dapat berupa deformitas atau selulitis Ulkus superfisial, Ulkus dalam hingga ke tendon atau kapsul sendi,  Ulkus dalam dengan abses, osteomielitis, atau sepsis sendi, Gangren lokal pada kaki depan atau tumit, Gangren pada semua kaki.

Selanjutnya penatalaksanaan kaki diabetik dilanjutkan dr. Pras  dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar. “Yaitu pencegahan primer pencegahan sebelum terjadi perlukaan pada kulit) dan pencegahan sekunder (pencegahan dan penatalaksanaan ulkus/gangren diabetik yang sudah terjadi) agar tidak terjadi kecacatan yang lebih parah,” lanjutnya.

Pencegahan primer biasa dalam bentuk sosialisasi kepada pasien diabetes dengan kondisi kaki yang masih baik (belum tampak luka atau gangren) selama mungkin dan tidak berlanjut ke tingkat yang lebih berat. Upaya ini dilanjutkan dr. Pras juga harus dilakukan beriringan dengan sosialisasi  mengenai kontrol gula darah untuk pasien diabetes melitus, seperti diet, olahraga, dan perubahan  gaya hidup.

Karena menurutnya, edukasi pasien dan praktek mandiri pasien sangat penting. “Khususnya mengenai  perawatan kaki bagi pasien dengan resiko, seperti menjaga kebersihan kaki, mempertahankan kelembaban kulit kaki dengan pelembab, dan perawatan kuku sebaiknya dipromosikan,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah pencegahan skunder ini meliputi, aktivitas kontrol berkala, seperti kontrol metabolik, kontrol neuropati, kontrol vaskuler, kontrol mekanis-tekanan, kontrol luka dan mikrobiologi- infeksi. “Karena deteksi dini patologi kaki, khususnya pada pasien dengan risiko tinggi, membantu untuk menentukan intervensi awal dan mengurangi potensi perawatan dirumah sakit atau amputasi,” tambahnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/