29.8 C
Denpasar
Tuesday, December 6, 2022

Sapi Rp 10 Juta Ditawar Rp 3 Juta, Akhirnya Ditinggal Mengungsi

BALI EXPRESS, TEJAKULA – Naiknya satus Gunung Agung ke Level III (Siaga) seolah mengingatkan kembali peristiwa erupsi Gunung terbesar di Bali pada tahun 1963. Terutama bagi Wayan Tinek, 64. Lansia asal Dusun Pucang, Desa Ban, Kecamatan Kubu Karangasem, ini masih terbayang erupsi yang sudah terjadi 54 tahun. Kini ia pun harus kembali mengungsi, seolah mengulang kisah puluhan tahun silam yang pernah ia alami semasa kecil dulu.

 

Wayan Tinek, adalah satu dari ratusan pengungsi asal Desa Ban, Kecamatan Kubu Karangasem yang terpaksa pergi dari rumahnya untuk menghindari bahaya erupsi Gunung Agung. Tinek tiba di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, setelah berdesak-desakkan dengan pengungsi lainnya menaiki truk, sekitar pukul 10.00 Wita, Kamis (21/9).

Dadong Tinek tidak sendirian. Dia mengungsi bersama anak serta menantu dan dua cucunya. Setelah sampai di posko pengungsian, Tinek langsung menata barang bawaannya. Ada kompor, kasur dan pakaian.

“Bedik barang tiange ane dadi abe. Utamaang ngabe baju (cuma sedikit barang yang dibawa, diutamakan bawa baju yang banyak, Red),” ujarnya sambil merapikan barang.

Namun setelah sampai di posko pengungsian, ada beban pikiran yang mengganjal hatinya. Dadong Tinek ingat dengan hewan piaraannya. Ada 5 ekor sapi dan 8 ekor kambing yang membuatnya merasa tak ikhlas mengungsi. Dadong Tinek begitu bimbang, lantaran tak ada yang memberi makan hewan ternaknya. Padahal, dirinya hendak menjual, tetapi apa daya, harga yang begitu murah membuat dirinya enggan menjual sapi-sapinya. Dan, sapi-sapinya pun ditinggal begitu saja.

Baca Juga :  Bagaimana Penanganan Nyeri Pasca Operasi ?

“Sampin tiange 5 ekor, kambing 8 ekor. Ukane tiang adep, tapi mudah gati hargane. Biasane Rp 10 juta aukud, tagihe tuah Rp 3 juta. (Sapi saya 5 ekor, dan kambing 8 ekor. Maunya saya jual, tapi harganya murah. Normalnya 10 juta per ekor, tapi hanya dihargai 3 juta),” sesalnya.

Menariknya, Dadong Tinek nyatanya masih terbayang dengan peristiwa erupsi Gunung Agung tahun 1963 silam. Dia pun sempat berbagi sedikit cerita yang masih diingatnya saat meletusnya Gunung Agung kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kala itu, dirinya masih kecil. Usianya sekitar 10 tahunan. Ia pun mengungsi bersama seluruh warga Desa Ban menuju Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Dari penuturannya, Dadong Tinek saat berusia 10 tahun memang belum tahu pasti kronologinya. Namun dirinya hanya mengikuti kemana orang tuanya pergi bersama saudaranya untuk mengungsi.

“Tiang nak nutug kemanten, kija je ajake. Ciri-ciri gununge lakar meletus ade gempa. Tiang nu inget, pas meplalian ade gempa di kubune. Enggalan tiang ajake ngungsi. Ngungsi ne ke Tembok. (Saya hanya ikut orang tua saja, kemana diajak. Ciri-ciri gunung akan meletus ditandai dengan gempa. Saya masih ingat pas bermain di gubuk ada gempa. Secepatnya saya diajak mengungsi. Mengungsinya ke (Desa) Tembok, Red),” ujarnya dengan logat Karangasem kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Apa yang dialaminya pada tahun 1.963 silam dengan sekarang, membuat Dadong Tinek seolah-olah kembali “bernonstalgia” akan kejadian meletusnya Gunung Agung. Hanya saja, Dadong Tinek tak menampik jika peralatan untuk evakuasi jauh lebih modern, sehingga banyak nyawa bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Diusulkan PAW, Sujanayasa Klarifikasi ke DPW NasDem

“Jani alate serba canggih. Yen ade gempa be tawange. Gununge lakar meletus masi tawange, lewat HP umumange, mekejang nawang masyarakate. Yen dugas tahun 63 ngungsi, sing ade HP. Motor bedik, yeh kenyat, sengsara gati asane mengungsi. Serba keweh. (Sekarang alatnya serba canggih. Kalau ada gempa sudah dideteksi. Gunung Agung mau meletus sudah diketahui. Diumumkan lewat HP, semua tahu masyarakatnya. Kalau dulu tahun 1963, mengungsi tidak ada HP, kendaraan sedikit, air sulit, sangat sengsara dan serba sulit, Red),” imbuhnya.

Bahkan seingatnya, kondisi jelang meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 silam selalu diawali dengan gempa yang polanya naik turun. Ciri-cirinya yang dialaminya kini sama dengan 54 tahun silam. “Tiang takut, kejadiane care ipidan (1963, Red). Mudah-mudahan letusane sing care ipidan kerasne. Tiang hampir atiban ngungsi. (Saya sangat takut, mudah-mudahan erupsinya tak sekeras dulu. Saya hampir setahun lamanya mengungsi, Red),” ujarnya.

Tinek pun berharap agar kejadian erupsi tahun 1963 silam tak terulang di tahun ini. Dirinya mengaku hanya pasrah berdoa agar pengungsian di Kabupaten Buleleng tak berlangsung lama, seperti pengalamannya 54 tahun silam.

“Tiang mepinunas manten, mangde ten sekadi dumun. Pang kesep manten tiang di pengungsian, pedalem ubuhan tiange. Nak nike pengupa jiwan tiange. (Saya hanya berdoa saja, semoga tak seperti dulu kejadiannya. Kasihan ternak saya. itu sumber penghasilannya),” tutupnya. 


BALI EXPRESS, TEJAKULA – Naiknya satus Gunung Agung ke Level III (Siaga) seolah mengingatkan kembali peristiwa erupsi Gunung terbesar di Bali pada tahun 1963. Terutama bagi Wayan Tinek, 64. Lansia asal Dusun Pucang, Desa Ban, Kecamatan Kubu Karangasem, ini masih terbayang erupsi yang sudah terjadi 54 tahun. Kini ia pun harus kembali mengungsi, seolah mengulang kisah puluhan tahun silam yang pernah ia alami semasa kecil dulu.

 

Wayan Tinek, adalah satu dari ratusan pengungsi asal Desa Ban, Kecamatan Kubu Karangasem yang terpaksa pergi dari rumahnya untuk menghindari bahaya erupsi Gunung Agung. Tinek tiba di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, setelah berdesak-desakkan dengan pengungsi lainnya menaiki truk, sekitar pukul 10.00 Wita, Kamis (21/9).

Dadong Tinek tidak sendirian. Dia mengungsi bersama anak serta menantu dan dua cucunya. Setelah sampai di posko pengungsian, Tinek langsung menata barang bawaannya. Ada kompor, kasur dan pakaian.

“Bedik barang tiange ane dadi abe. Utamaang ngabe baju (cuma sedikit barang yang dibawa, diutamakan bawa baju yang banyak, Red),” ujarnya sambil merapikan barang.

Namun setelah sampai di posko pengungsian, ada beban pikiran yang mengganjal hatinya. Dadong Tinek ingat dengan hewan piaraannya. Ada 5 ekor sapi dan 8 ekor kambing yang membuatnya merasa tak ikhlas mengungsi. Dadong Tinek begitu bimbang, lantaran tak ada yang memberi makan hewan ternaknya. Padahal, dirinya hendak menjual, tetapi apa daya, harga yang begitu murah membuat dirinya enggan menjual sapi-sapinya. Dan, sapi-sapinya pun ditinggal begitu saja.

Baca Juga :  Fadli Zon Diberi Penghargaan Sri Paduka Raja dari Raja Buleleng

“Sampin tiange 5 ekor, kambing 8 ekor. Ukane tiang adep, tapi mudah gati hargane. Biasane Rp 10 juta aukud, tagihe tuah Rp 3 juta. (Sapi saya 5 ekor, dan kambing 8 ekor. Maunya saya jual, tapi harganya murah. Normalnya 10 juta per ekor, tapi hanya dihargai 3 juta),” sesalnya.

Menariknya, Dadong Tinek nyatanya masih terbayang dengan peristiwa erupsi Gunung Agung tahun 1963 silam. Dia pun sempat berbagi sedikit cerita yang masih diingatnya saat meletusnya Gunung Agung kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kala itu, dirinya masih kecil. Usianya sekitar 10 tahunan. Ia pun mengungsi bersama seluruh warga Desa Ban menuju Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Dari penuturannya, Dadong Tinek saat berusia 10 tahun memang belum tahu pasti kronologinya. Namun dirinya hanya mengikuti kemana orang tuanya pergi bersama saudaranya untuk mengungsi.

“Tiang nak nutug kemanten, kija je ajake. Ciri-ciri gununge lakar meletus ade gempa. Tiang nu inget, pas meplalian ade gempa di kubune. Enggalan tiang ajake ngungsi. Ngungsi ne ke Tembok. (Saya hanya ikut orang tua saja, kemana diajak. Ciri-ciri gunung akan meletus ditandai dengan gempa. Saya masih ingat pas bermain di gubuk ada gempa. Secepatnya saya diajak mengungsi. Mengungsinya ke (Desa) Tembok, Red),” ujarnya dengan logat Karangasem kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Apa yang dialaminya pada tahun 1.963 silam dengan sekarang, membuat Dadong Tinek seolah-olah kembali “bernonstalgia” akan kejadian meletusnya Gunung Agung. Hanya saja, Dadong Tinek tak menampik jika peralatan untuk evakuasi jauh lebih modern, sehingga banyak nyawa bisa diselamatkan.

Baca Juga :  Niat Membantu Orang, Balian Jro Komang Meneng Tampik Sesari

“Jani alate serba canggih. Yen ade gempa be tawange. Gununge lakar meletus masi tawange, lewat HP umumange, mekejang nawang masyarakate. Yen dugas tahun 63 ngungsi, sing ade HP. Motor bedik, yeh kenyat, sengsara gati asane mengungsi. Serba keweh. (Sekarang alatnya serba canggih. Kalau ada gempa sudah dideteksi. Gunung Agung mau meletus sudah diketahui. Diumumkan lewat HP, semua tahu masyarakatnya. Kalau dulu tahun 1963, mengungsi tidak ada HP, kendaraan sedikit, air sulit, sangat sengsara dan serba sulit, Red),” imbuhnya.

Bahkan seingatnya, kondisi jelang meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 silam selalu diawali dengan gempa yang polanya naik turun. Ciri-cirinya yang dialaminya kini sama dengan 54 tahun silam. “Tiang takut, kejadiane care ipidan (1963, Red). Mudah-mudahan letusane sing care ipidan kerasne. Tiang hampir atiban ngungsi. (Saya sangat takut, mudah-mudahan erupsinya tak sekeras dulu. Saya hampir setahun lamanya mengungsi, Red),” ujarnya.

Tinek pun berharap agar kejadian erupsi tahun 1963 silam tak terulang di tahun ini. Dirinya mengaku hanya pasrah berdoa agar pengungsian di Kabupaten Buleleng tak berlangsung lama, seperti pengalamannya 54 tahun silam.

“Tiang mepinunas manten, mangde ten sekadi dumun. Pang kesep manten tiang di pengungsian, pedalem ubuhan tiange. Nak nike pengupa jiwan tiange. (Saya hanya berdoa saja, semoga tak seperti dulu kejadiannya. Kasihan ternak saya. itu sumber penghasilannya),” tutupnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/