Rabu, 01 Dec 2021
Bali Express
Home / Features
icon featured
Features
Kisah Warga Eks Timtim di Desa Sumberklampok

Pulang Saat Kering, ke Bali Berbekal Pakaian di Badan

22 Oktober 2021, 10: 55: 01 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Pulang Saat Kering, ke Bali Berbekal Pakaian di Badan

I Nengah Kisid saat berada di rumahnya dengan memegang sertifikat atas lahan yang ditempatinya ketika di Timtim. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Suasana panas begitu terasa di Banjar Dinas Bukit Sari, Desa Sumberklampok. Iklim tropis dan kering membuat terik matahari begitu menyengat. I Nengah Kisid salah seorang pengungsi Eks Timor-Timur duduk di sebuah kursi panjang di Balai Masyarakat Desa Sumbeklampok. Ia tengah menghadiri sebuah acara. Usai acara berlalu, Nengah Kisid menyapa Koran Bali Express (Jawa Pos Grup) yang tengah menunggu.

Nengah Kisid pun mencari tempat yang nyaman untu mengobrol. I Nengah Ksiid adalah salah satu warga yang terkena imbas paska referendum Timor Timur 31 Agustus 1999. Referendum itu dimenangkan oleh pro kemerdekaan yang mengakibatkan Nengah Kisid dan beberapa keluarga lainnya harus pulang ke Bali. Sebelum diberangkatkan ke Bali ada pengumuman jajak pendapat tanggal 4 September 1999. Kemudian, Nengah Kisid dan warga lainnya di Desa Beco, Kecamatan Suai Kota, Kabupaten Kovalima dijemput aparat TNI tanggal 10 September 1999. “Situasi saat itu mencekam, kalau tidak dijemut kami tidak bisa keluar,” kenangnya.

Ketika itu, setelah berhasil keluar dari desa Beco, Kisid diinapkan di Tetun selama semalam. Keesokan harinya ia diantar ke Kupang. Sesampainya di Kupang, NTT ia masih ditampung semalan di bundaran PU. Selama 26 jam I Nengah Kisid terombang-ambing di tengah laut hingga akhirnya sampai di pelabuhan Benoa dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Saat kembali ia berusia 36 tahun. Tiba di Benoa, mereka pun dijemput oleh masing-masing kepala daerah. Karena berasal dari Buleleng, maka Nengah Kisid dijemput oleh Bupati Bupati Buleleng. Ia masih ingat betul saat itu ia dijemput oleh Bupati Ketut Wirata Sindhu. Setibanya di Buleleng, Nengah Kisid tak langsung menuju rumah. Sebab ia sudah tak memiliki asset apapun. Saat kembali ke Bali pun ia hanya bersama istri dan keempat anaknya dengan membawa pakaian yang melekat di badan. “Apa yang harus saya bawa. Saya tidak punya apa-apa. Semua yang ada di sana harus saya tinggalkan. Tinggal baju yang ada di badan saja,” tuturnya.

Baca juga: Manfaat Terapi Akupuntur Untuk Kesehatan

Dari instruksi pemerintah, Nengah Kisid bersama ratusan warga lainnya ditampung di Gedung Kesenian selama sepekan. Bupati pun memerintahkan kepala desa masing-masing untuk menjemput warganya dibawa ke desa. Nengah Kisid yang berasal dari Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng ini, saat itu tidak bisa pulang. Sebab ia tak memiliki lahan atau asset apapun untuk ditinggali. Maka ia bersama 107 KK lainnya yang tidak bisa pulang karena tak memiliki lahan, ditampung di Transito, Pemaron. Kini tempat tersebut berubah menjadi Kantor Imigrasi Kelas II B Singaraja. “Karena kami yang jumlahnya 107 KK itu tidak punya tempat di kampungnya akhirnya bertahan tidak bisa pulang dan tidak punya tempat tujuan. Persis setahun kami disana. Kemudian 9 September tahun 2000 baru kami ditempatkan di Sumberklampok. Itu pun melalui berbagai aksi komunikasi dengan pemerintah. Akhirnya kami ditempatkan di HPT Sumberklampok,” jelasnya.

Ketika sampai di Sumberklampok, waktu itu tahun 2000, mereka sama sekali tidak mendapatkan tempat tinggal. Hanya lahan kosong yang dipenuhi semak belukar. Air pun tak ada. Terpaksa ia harus menggali sumur untuk mendapatkan air. “Awal di sini, kondisinya masih semak belukar bukan hutan. Sudah semak-semak. Hutannya sudah tidak ada,” kata dia.

Dengan dibantu masyarakat setempat, mereka tinggal di gubuk seadanya yang terbuat dari daun kelapa. Selama dua bulan lebih mereka bergotong-royong membabat lahan. Membersihkan semak belukar hingga menjadi sebuah lahan yang layak ditempati. Beruntung saat itu, PLN tiba dengan program penerangannya. Sehingga walau masih tinggal di gubuk, keluarga Nengah Kisid dan pengungsi lainnya bisa menikmati listrik. Selama dua tahun menempati gubuk serta menggarap lahan untuk bertahan hidup, pada tahun 2002 barulah mereka menerima bantuan bahan perumahan dari Kementrian Sosial RI. “Ukuran 3x6. Itu bantuannya tahun 2002. Dua tahun kemudian. Selama itu kami bersih-bersih di tanah yang kami tempati. Buka lahan, berkebun. Itu kami bersihkan selama 2 bulan bersama teman-teman sampai jadi lahan yang layak. Lalu kami bangun gubuk. Setelah dapat bantuan kami bangun rumah dan bangunnya gotong-royong juga sama warga lainnya. Saling bantu,” ujarnya.

Saat ini ia bersama warga eks Timtim lainnya menggarap lahan seluas 50 are. Nengah Kisid sendiri menanami lahannya dengan tanaman Palawija. “Sekarang kebunnya saya tanami palawija. Tanaman musiman seperti cabai, ada tumpang sari dengan kacang tanah, ada juga tumpang sari dengan jagung, komak, undis. Itu yang kami tanam. Luasan lahannya masing-masing 50 are untuk garapan, kalau pekarangannya 4 are,” tuturnya.

Kehidupan Nengah Kisid sudah juah berubah. Kendati lahan yang ia miliki saat ini legalitasnya masih belum jelas, setidaknya ia bisa hidup nyaman dan tidur dengan nyenyak. Tidak ada lagi sura tembakan yang mengiringinya sepanjang malam. Kisid juga masih menyimpan dengan rapi sertifikat lahan yang ia miliki selama ada di Timtim. Sertifikat itu masih nampak baru walau sudah dibuat puluhan tahun silam. Ia menyimpannya sebagai kenang-kenangan. (habis

(bx/dhi/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia