alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Angka Kematian Pasien TBC Masih Tinggi

DENPASAR, BALI EXPRESS- Sampai saat ini, penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan kematian 93 ribu per tahun atau setara dengan 11 kematian per jam. Untuk menemukan dan mengobati kasus tersebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berencana melakukan skrining besar-besaran yang akan dilaksanakan di tahun 2022.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes RI, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes mengatakan dari estimasi 824 ribu pasien TBC di Indonesia Baru 49% yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat sebanyak 500 ribuan orang yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan.

“Untuk itu upaya penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan secara tuntas sampai sembuh merupakan salah satu upaya yang terpenting dalam memutuskan penularan TBC di masyarakat,” katanya pada konferensi pers secara virtual, Selasa (22/3).

Didik melanjutkan pihaknya akan menskrining TBC terhadap 500 ribu kasus yang belum ditemukan. Skrining dilakukan dengan peralatan X-Ray Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan lebih efisien.

Sebanyak 91 persen kasus TBC di Indonesia adalah TBC paru yang berpotensi menularkan kepada orang yang sehat di sekitarnya.“Sebenarnya TBC itu biasanya ada di daerah yang padat, daerah kumuh, dan daerah yang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) nya kurang, di situ potensi penularan TBC nya tinggi,” lanjutnya.

Untuk di Denpasar sendiri, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Denpasar, dr. Ketut Widiyasa, MPH., mengakui di Kota Denpasar masih ditemukan adanya penderita TBC. “Namun jumlahnya sudh tidk sebanyak 10 tahun lalu, hal ini karena kedisiplunan penderita TBC untuk melkukan pengobatan sudah sangat tinggi,” jelasnya.

Selain itu, diakui dr. Widiyasa, penderita TBC di Denpasar ataupun di Bali sudah bis menemukan akses pengobatan dengan mudah. Karena fasilitas pengobatan sudah ada di seluruh fasilitas kesehatan masyarakat bahkan sudah sampai ke Puskesmas.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

DENPASAR, BALI EXPRESS- Sampai saat ini, penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan kematian 93 ribu per tahun atau setara dengan 11 kematian per jam. Untuk menemukan dan mengobati kasus tersebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berencana melakukan skrining besar-besaran yang akan dilaksanakan di tahun 2022.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes RI, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes mengatakan dari estimasi 824 ribu pasien TBC di Indonesia Baru 49% yang ditemukan dan diobati sehingga terdapat sebanyak 500 ribuan orang yang belum diobati dan berisiko menjadi sumber penularan.

“Untuk itu upaya penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan secara tuntas sampai sembuh merupakan salah satu upaya yang terpenting dalam memutuskan penularan TBC di masyarakat,” katanya pada konferensi pers secara virtual, Selasa (22/3).

Didik melanjutkan pihaknya akan menskrining TBC terhadap 500 ribu kasus yang belum ditemukan. Skrining dilakukan dengan peralatan X-Ray Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan lebih efisien.

Sebanyak 91 persen kasus TBC di Indonesia adalah TBC paru yang berpotensi menularkan kepada orang yang sehat di sekitarnya.“Sebenarnya TBC itu biasanya ada di daerah yang padat, daerah kumuh, dan daerah yang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) nya kurang, di situ potensi penularan TBC nya tinggi,” lanjutnya.

Untuk di Denpasar sendiri, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Denpasar, dr. Ketut Widiyasa, MPH., mengakui di Kota Denpasar masih ditemukan adanya penderita TBC. “Namun jumlahnya sudh tidk sebanyak 10 tahun lalu, hal ini karena kedisiplunan penderita TBC untuk melkukan pengobatan sudah sangat tinggi,” jelasnya.

Selain itu, diakui dr. Widiyasa, penderita TBC di Denpasar ataupun di Bali sudah bis menemukan akses pengobatan dengan mudah. Karena fasilitas pengobatan sudah ada di seluruh fasilitas kesehatan masyarakat bahkan sudah sampai ke Puskesmas.






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/