alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Asal-usul Badarawuhi dan Kisah Rangda Nateng Girah (Bagian Ke-1)

Berawal dari film KKN di Desa Penari yang disutradarai Awi Suryadi, nama tokoh Badarawuhi banyak dipertanyakan. Sosok ini digambarkan sebagai perempuan cantik dengan badan setengah ular. Lalu dari manakah sosok ini berasal dan bagaimana perjalanannya? Ikuti kisahnya berikut ini!.

Dikutif dari Kanal Youtube Jagat Mandala, kisah Badarawuhi bermula dari cerita takluknya Dayu Datu Rangda Nateng Girah sang pemuja Bhatari Durga di tangan Empu Baharadah, seiring dengan terbunuhnya puluhan abdi perempuan yang menjadi murid setianya. Rangda Nateng Girah dan para muridnya dengan mudahnya terduduk lemas, seusai ilmu pangiwa yang mereka pelajari diketahui titik lemahnya.

Ilmu tersebut dihapus dengan mantram-mantram suci. Sayangnya, perempuan belia itu harus jadi bulan-bulanan pasukan Prabu Airlangga yang menaruh dendam. Mereka diahabisi tanpa ampun meski telah menyerah.

Jauh sebelum peristiwa itu terjadi, Rangda Nateng Girah dan para muridnya merapal ilmu hitam mematikan hingga gerubug terjadi di bumi Kediri. Seperempat penduduk Daha Kediri tercabut nyawanya tanpa pilih kasih. Anak kecil dan orang tua secara tiba-tiba memuntahkan duri-duri tajam yang membuat mereka meninggal dengan rasa tersiksa. Inilah yang membuat prajurit Daha Kediri mengamuk dan tak lagi mempunyai welas asih.

Tanpa bisa dicegah oleh Empu Bahula, anak Empu Bharadah yang ditugasi memimpin para prajurit, para abicari cantik yang tak lagi memiliki ilmu kebal dan ajian-ajian sakti dihujami berbagai senjata hingga tak ada satu yang bergerak lagi.

Namun amuk membabi buta itu rupanya  membuat lima murid Rangda Nateng Girah berhasil melarikan diri. Mereka sengaja menyebar agar tak mudah dilacak. Celakanya mereka juga membawa lontar-lontar milik gurunya untuk dipelajari kembali. Salah satu di antaranya adalah Ratna Nareh yang merupakan murid yang paling muda.

Demikianlah kisah yang dituturkan Ki Lurah Singoranu kepada tamu mudanya bernama Surologo, yang terpaksa datang jauh-jauh ke desanya hari itu. Ki Lurah Singoranu mulai membeber kisah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak termasuk oleh Surologo.

Beberapa hari lalu atas izin Adipati  Aryo Nitidininggrat, Surologo telah memohon untuk mencari rombongan dari Pasuruan yang akan menemui Adipati Blambangan Tumenggung Wiroguno, namun sayang rombongan itu hilang dalam perjalanan.

Surologo membutuhkan waktu tujuh hari berkuda untuk menelusuri jejak-jejak rombongan itu hingga sampai di lereng selatan Gunung Rawung. Di sinilah jejak terakhir rombongan Pasuruan diketahui penduduk. Dalam perkiraan Surologo, kemungkinan rombongan yang dilacaknya memang sengaja mencari-cari jalan pintas agar bisa cepat sampai ke Blambangan. Itulah mengapa mereka sampai berada di selatan Gunung Rawung.

Anehnya penduduk menyarankan untuk menghentikan pencarian karena akan sia-sia. Tentu saja hal ini membuat Surologo bertanya-tanya. Rasa penasarannya inilah yang akhirnya membawa ia bertemu dengan Lurah Singoranu yang mengepalai desa terpencil yang letaknya nyaris dikepung kelebatan hutan dan lereng-lereng terjal.

Entah ada hubungan dengan hilangnya pasukan Pasuruan atau tidak, tetapi Surologo harus menelan informasi sebanyak-banyaknya bahkan dari kisah yang tak masuk akal sekalipun untuk mendapat informasi tentang rombogan Pasuruan yang salah satu anggotanya adalah adiknya sendiri.

Dari percakapan Lurah Singoranu dan Surologo diperoleh informasi, bahwa secara turun-temurun terjadi peristiwa aneh dan tak masuk akal di seputar desa itu. Menurut leluhurnya, kisah  aneh tersebut berkaitan dengan perempuan yang bernama Ratna Nareh.

Lima murid Dayu Datu Rangda Nateng Girah yang melarikan diri, empat di antaranya menyebrang ke Bali, sementara Ratna Nareh memilih menerabas lebatnya hutan dari Desa Girah Kediri. Ia berhari-hari mendaki Gunung Kawi, melintasi Bromo, dan terus ke timur dan berusaha menghindari bertemu dengan manusia. Selama dalam pelarian, lontar yang dibawanya terus dipelajari hingga sedikit demi sedikit ilmu hitam ajaran gurunya kembali pulih. Selama pelariannya itu juga berbagai Dhayang Merkayang yang bermukim di kegelapan hutan, lembah dan lereng gunung berhasil ditundukkannya.

Semakin jauh mempelajari lontar milik gurunya itu, dia justru semakin awet muda dan tak tampak tanda-tanda renta. Hingga tak terasa 300 tahun kemudian, Ratna Nareh ingin bertemu manusia kembali. (bersambung)






Reporter: Wiwin Meliana

Berawal dari film KKN di Desa Penari yang disutradarai Awi Suryadi, nama tokoh Badarawuhi banyak dipertanyakan. Sosok ini digambarkan sebagai perempuan cantik dengan badan setengah ular. Lalu dari manakah sosok ini berasal dan bagaimana perjalanannya? Ikuti kisahnya berikut ini!.

Dikutif dari Kanal Youtube Jagat Mandala, kisah Badarawuhi bermula dari cerita takluknya Dayu Datu Rangda Nateng Girah sang pemuja Bhatari Durga di tangan Empu Baharadah, seiring dengan terbunuhnya puluhan abdi perempuan yang menjadi murid setianya. Rangda Nateng Girah dan para muridnya dengan mudahnya terduduk lemas, seusai ilmu pangiwa yang mereka pelajari diketahui titik lemahnya.

Ilmu tersebut dihapus dengan mantram-mantram suci. Sayangnya, perempuan belia itu harus jadi bulan-bulanan pasukan Prabu Airlangga yang menaruh dendam. Mereka diahabisi tanpa ampun meski telah menyerah.

Jauh sebelum peristiwa itu terjadi, Rangda Nateng Girah dan para muridnya merapal ilmu hitam mematikan hingga gerubug terjadi di bumi Kediri. Seperempat penduduk Daha Kediri tercabut nyawanya tanpa pilih kasih. Anak kecil dan orang tua secara tiba-tiba memuntahkan duri-duri tajam yang membuat mereka meninggal dengan rasa tersiksa. Inilah yang membuat prajurit Daha Kediri mengamuk dan tak lagi mempunyai welas asih.

Tanpa bisa dicegah oleh Empu Bahula, anak Empu Bharadah yang ditugasi memimpin para prajurit, para abicari cantik yang tak lagi memiliki ilmu kebal dan ajian-ajian sakti dihujami berbagai senjata hingga tak ada satu yang bergerak lagi.

Namun amuk membabi buta itu rupanya  membuat lima murid Rangda Nateng Girah berhasil melarikan diri. Mereka sengaja menyebar agar tak mudah dilacak. Celakanya mereka juga membawa lontar-lontar milik gurunya untuk dipelajari kembali. Salah satu di antaranya adalah Ratna Nareh yang merupakan murid yang paling muda.

Demikianlah kisah yang dituturkan Ki Lurah Singoranu kepada tamu mudanya bernama Surologo, yang terpaksa datang jauh-jauh ke desanya hari itu. Ki Lurah Singoranu mulai membeber kisah yang belum banyak diketahui oleh orang banyak termasuk oleh Surologo.

Beberapa hari lalu atas izin Adipati  Aryo Nitidininggrat, Surologo telah memohon untuk mencari rombongan dari Pasuruan yang akan menemui Adipati Blambangan Tumenggung Wiroguno, namun sayang rombongan itu hilang dalam perjalanan.

Surologo membutuhkan waktu tujuh hari berkuda untuk menelusuri jejak-jejak rombongan itu hingga sampai di lereng selatan Gunung Rawung. Di sinilah jejak terakhir rombongan Pasuruan diketahui penduduk. Dalam perkiraan Surologo, kemungkinan rombongan yang dilacaknya memang sengaja mencari-cari jalan pintas agar bisa cepat sampai ke Blambangan. Itulah mengapa mereka sampai berada di selatan Gunung Rawung.

Anehnya penduduk menyarankan untuk menghentikan pencarian karena akan sia-sia. Tentu saja hal ini membuat Surologo bertanya-tanya. Rasa penasarannya inilah yang akhirnya membawa ia bertemu dengan Lurah Singoranu yang mengepalai desa terpencil yang letaknya nyaris dikepung kelebatan hutan dan lereng-lereng terjal.

Entah ada hubungan dengan hilangnya pasukan Pasuruan atau tidak, tetapi Surologo harus menelan informasi sebanyak-banyaknya bahkan dari kisah yang tak masuk akal sekalipun untuk mendapat informasi tentang rombogan Pasuruan yang salah satu anggotanya adalah adiknya sendiri.

Dari percakapan Lurah Singoranu dan Surologo diperoleh informasi, bahwa secara turun-temurun terjadi peristiwa aneh dan tak masuk akal di seputar desa itu. Menurut leluhurnya, kisah  aneh tersebut berkaitan dengan perempuan yang bernama Ratna Nareh.

Lima murid Dayu Datu Rangda Nateng Girah yang melarikan diri, empat di antaranya menyebrang ke Bali, sementara Ratna Nareh memilih menerabas lebatnya hutan dari Desa Girah Kediri. Ia berhari-hari mendaki Gunung Kawi, melintasi Bromo, dan terus ke timur dan berusaha menghindari bertemu dengan manusia. Selama dalam pelarian, lontar yang dibawanya terus dipelajari hingga sedikit demi sedikit ilmu hitam ajaran gurunya kembali pulih. Selama pelariannya itu juga berbagai Dhayang Merkayang yang bermukim di kegelapan hutan, lembah dan lereng gunung berhasil ditundukkannya.

Semakin jauh mempelajari lontar milik gurunya itu, dia justru semakin awet muda dan tak tampak tanda-tanda renta. Hingga tak terasa 300 tahun kemudian, Ratna Nareh ingin bertemu manusia kembali. (bersambung)






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/