alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Desa Tihingan, Sentra Gamelan Bali; Belajar Nada Otodidak meski Tak Bisa Main

Papan bertuliskan “Perajin Gamelan” mendominasi sepanjang jalan Desa Adat Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Tak ayal, suara lempeng yang dipukul sudah jadi hal lumrah tiap pagi. Dari sini, ratusan lebih perangkat gamelan sudah dihasilkan.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Klungkung  

“PLANG“, suara lempeng tembaga yang dipukul terdengar keras. Bersahut-sahutan. Seiring dengan itu, terdengar suara besi yang dihaluskan. Namun tidak banyak aktivitas di gudang gamelan milik Komang Wira Jaya. Salah satu perajin gemalan di Tihingan yang sudah melalang buana di kalangan seniman tabuh.

Senin (24/1) pagi, Komang tak begitu sibuk. Dia hanya mengerjakan satu riong milik konsumen yang retak. Retakan itu hanya ditambal. Salah seorang pekerja juga tengah membantunya merapikan riong yang sudah dilebur dalam bara api.

Belakangan ini, tidak banyak aktivitas yang dilakukan Komang di bengkel milik ayahnya, Sutama. Pandemi Covid-19 juga memengaruhi pesanan gamelan. Pesanan hanya sebatas memperbaiki gamelan yang retak. Tidak lebih dari itu. Alhasil, penghasilan dari penjualan gamelan pas-pasan.

Komang Wira menuturkan, penjualan gamelan saat situasi normal tergolong fantastis. Satu perangkat gamelan lengkap bisa bernilai Rp 300 juta lebih. Sedangkan untuk paket gamelan baleganjur dijual Rp 80 juta untuk seperangkat lengkap. “Pesanan itu biasanya ramai jelang Nyepi. Ada saja yang mengganti perangkat gamelan di desanya,” tutur Komang.






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Papan bertuliskan “Perajin Gamelan” mendominasi sepanjang jalan Desa Adat Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Tak ayal, suara lempeng yang dipukul sudah jadi hal lumrah tiap pagi. Dari sini, ratusan lebih perangkat gamelan sudah dihasilkan.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Klungkung  

“PLANG“, suara lempeng tembaga yang dipukul terdengar keras. Bersahut-sahutan. Seiring dengan itu, terdengar suara besi yang dihaluskan. Namun tidak banyak aktivitas di gudang gamelan milik Komang Wira Jaya. Salah satu perajin gemalan di Tihingan yang sudah melalang buana di kalangan seniman tabuh.

Senin (24/1) pagi, Komang tak begitu sibuk. Dia hanya mengerjakan satu riong milik konsumen yang retak. Retakan itu hanya ditambal. Salah seorang pekerja juga tengah membantunya merapikan riong yang sudah dilebur dalam bara api.

Belakangan ini, tidak banyak aktivitas yang dilakukan Komang di bengkel milik ayahnya, Sutama. Pandemi Covid-19 juga memengaruhi pesanan gamelan. Pesanan hanya sebatas memperbaiki gamelan yang retak. Tidak lebih dari itu. Alhasil, penghasilan dari penjualan gamelan pas-pasan.

Komang Wira menuturkan, penjualan gamelan saat situasi normal tergolong fantastis. Satu perangkat gamelan lengkap bisa bernilai Rp 300 juta lebih. Sedangkan untuk paket gamelan baleganjur dijual Rp 80 juta untuk seperangkat lengkap. “Pesanan itu biasanya ramai jelang Nyepi. Ada saja yang mengganti perangkat gamelan di desanya,” tutur Komang.






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Most Read

Artikel Terbaru

/