alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Positif Rate Klaster Keluarga di Bali Tinggi

DENPASAR, BALI EXPRESS- Angka positif rate penularan covid-19 untuk pasien anak di Bali sebagian besar berasal dari rumah tangga. Sehingga positif rate dari klaster keluarga saat ini menjadi salah satu sumber penularan covid-19 untuk pasien anak.

Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Bali, Dr.IGN Sanjaya Putra, Sp.A(K) Kamis (2/2). Dilanjutkan dr. Sanjaya penularan dari klaster keluarga ini memang sudaj terjadi sejak awal pandemi lalu. “Namun pada lonjakan kasus tahun ini, klaster keluarga menjadi klaster dengan positif rate tertinggi,” jelasnya.

Hal ini dilanjutkannya karena sebagian besar anak-anak yang terpapar covid-19 mendapatkan virus covid dari lingkungan keluarga, seperti dari orang tua yang terpapar covid-19 atai dari anggota keluarga lainnya yang sempat mengalami infeksi covid-19.

Dari data IDAI Bali, dr. Sanjaya angka penambahan positif covid-19 pada pasien anak untuk di Bali diakuinya sngat cepat. “Dari data yang kami miliki, penambahan pasien anak yang positif covid-19 sejak tanggal 16 Januari lalu cukup tinggi, rata2 meningkat 10 kali lipat per dua minggu,” lanjutnya.

 

Pada tanggal 16 Januari 2022, jumlah anak yang terpapar covid-19 masih berada dikisaran angka 100 an orang. Namun memasuki minggu pertama bulan Februari 2022, anak yang terpapar covid-19 meningkat menjadi 1000 an orang dan pada minggu kedua bulan Februari 2022, jumlahnya jumlahnya sudah mencapai 2008 orang anak.

Dr. Sanjaya melanjutkan kemungkinan anak ini memang terpapar cobid-19 varian omicron. “Ini mengingat sifat dari varian omicron memang lebih cepat menyebar. “Namun demikian gejala yang ditimbulkan oleh varian omicron ini memang lebih ringan, karena reflikasi virus varian ini di saluran paru-paru lebih lambat jika dibandingkan dengan varian Delta,” urainya.

Meskipun gejala yang ditimbulkan lebih ringan karena replikasi virus covid-19 varian omicron lebih lambat, namun dr. Sanjaya tetap berharap masyarakat tidak abai dalam menerapkan prokes. “Karena jika abai, maka akan membuat jumlah pasien meningkat dan ini berpengaruh pada beban rumah sakit yang akan semakin berat dalam merawat pasien dengan gejala berat,” tambahnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

DENPASAR, BALI EXPRESS- Angka positif rate penularan covid-19 untuk pasien anak di Bali sebagian besar berasal dari rumah tangga. Sehingga positif rate dari klaster keluarga saat ini menjadi salah satu sumber penularan covid-19 untuk pasien anak.

Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Bali, Dr.IGN Sanjaya Putra, Sp.A(K) Kamis (2/2). Dilanjutkan dr. Sanjaya penularan dari klaster keluarga ini memang sudaj terjadi sejak awal pandemi lalu. “Namun pada lonjakan kasus tahun ini, klaster keluarga menjadi klaster dengan positif rate tertinggi,” jelasnya.

Hal ini dilanjutkannya karena sebagian besar anak-anak yang terpapar covid-19 mendapatkan virus covid dari lingkungan keluarga, seperti dari orang tua yang terpapar covid-19 atai dari anggota keluarga lainnya yang sempat mengalami infeksi covid-19.

Dari data IDAI Bali, dr. Sanjaya angka penambahan positif covid-19 pada pasien anak untuk di Bali diakuinya sngat cepat. “Dari data yang kami miliki, penambahan pasien anak yang positif covid-19 sejak tanggal 16 Januari lalu cukup tinggi, rata2 meningkat 10 kali lipat per dua minggu,” lanjutnya.

 

Pada tanggal 16 Januari 2022, jumlah anak yang terpapar covid-19 masih berada dikisaran angka 100 an orang. Namun memasuki minggu pertama bulan Februari 2022, anak yang terpapar covid-19 meningkat menjadi 1000 an orang dan pada minggu kedua bulan Februari 2022, jumlahnya jumlahnya sudah mencapai 2008 orang anak.

Dr. Sanjaya melanjutkan kemungkinan anak ini memang terpapar cobid-19 varian omicron. “Ini mengingat sifat dari varian omicron memang lebih cepat menyebar. “Namun demikian gejala yang ditimbulkan oleh varian omicron ini memang lebih ringan, karena reflikasi virus varian ini di saluran paru-paru lebih lambat jika dibandingkan dengan varian Delta,” urainya.

Meskipun gejala yang ditimbulkan lebih ringan karena replikasi virus covid-19 varian omicron lebih lambat, namun dr. Sanjaya tetap berharap masyarakat tidak abai dalam menerapkan prokes. “Karena jika abai, maka akan membuat jumlah pasien meningkat dan ini berpengaruh pada beban rumah sakit yang akan semakin berat dalam merawat pasien dengan gejala berat,” tambahnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/