alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Es Puter Sudi di Klungkung, Beken sejak 1975, dari Gerobak Merambah Hotel

Es puter tak pernah lekang. Keberadaannya mampu bersaing dengan es krim yang beredar di pasaran era kini. Ini yang dialami merk es puter “Ketut Sudi” di Klungkung. Bertahan dengan cara tradisional, tapi tetap nyantol di lidah penikmat es puter beragam kelas.

 AGUS EKA PURNA NEGARA, Semarapura  

SUASANA rumah almarhum Ketut Sudi di Banjar Siku, Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung tampak sepi, baru-baru ini. Beberapa anggota keluarga tengah beres-beres rumah, paska dilaksanakannya upacara ngaben Ketut Sudi yang meninggal beberapa waktu lalu.

Nyoman Suda, kakak Ketut Sudi, dan Wayan Gemuh, putra pertama Sudi, terlihat tabah. Saat menjamu kedatangan Bali Express (Jawa Pos Group), Nyoman Suda sangat ramah. Dia menceritakan awal kehadiran Es Puter Ketut Sudi yang beken di Klungkung sejak 1975 itu.

Rupanya, cikal-bakal merk es puter “Ketut Sudi” bermula sekitar tahun 1950-an. Pencetusnya tak lain ayah Ketut Sudi, Wayan Tomblos. Kala itu Wayan Tomblos masih berjualan dengan gerobak, keliling Kota Klungkung (Semarapura). Dari satu sekolah ke sekolah lain. Semua rumah warga pernah dilewati. Itu dilakoni setiap hari.

Dari sana, es puter mulai beken di kalangan anak muda, pada zaman itu. Wayan Tomblos mengolah semua bahan es puter secara manual. Adonan es dituangkan dalam tabung yang diapit es batu dan garam. Prosesnya diputar selama 2-3 jam hingga adonan agak mengeras. Ada banyak varian. Mulai kacang hijau, nangka, dan durian.

“Itu dilakukan sendiri. Saya dan Ketut Sudi masih kecil. Sampai akhirnya kami mulai sekolah, bapak masih jualan. Kalau ditanya rasanya, jaman itu ya disenangi. Tidak ada es krim seperti sekarang. Dari es puter tok, sampai akhirnya dijual pakai roti,” tutur Suda.

Tatkala sang ayah meninggal sekitar 1970-an, praktis tak ada yang meneruskan usaha es puter ini. Suda dan Ketut Sudi juga kena dampaknya. Ketut Sudi memutuskan berhenti sekolah dan memilih meneruskan jualan ayahnya. Jualan es puter. “Waktu itu kalau tidak salah adik saya SMP,” kenang Suda.

Pada 1975, Ketut Sudi mantap melanjutkan usaha ayahnya. Usahanya mulai berkembang. Memang awal-awal juga masih memakai gerobak. Nasibnya sama seperti sang ayah, berjualan keliling kota. Namun, usaha itu membuahkan hasil. Brand yang dibangun dengan nama “Es Puter Ketut Sudi” mulai dikenal.

Menurut Nyoman Suda, sekitar 1980-an, pesanan mulai datang dari beragam kalangan. Saat menjamurnya hotel-hotel dan resto, anak keempat dari enam bersaudara itu juga dapat jatah. Produknya sempat merambah hotel di sekitar Klungkung dan Denpasar. “Saat itu mulailah fokus menerima order. Tidak lagi keliling,” ungkap Suda.

Berkat usaha itu, es puter buatannya makin diminati oleh penikmat es beragam kalangan. Sampai saat ini, usaha rumahan tersebut hanya mempekerjakan anggota keluarga. “Pakai kenang-kenangan. Gerobak yang dipakai awal jualan sekali, itu masih ada. Masih disimpan,” ucap Nyoman Suda yang secara sendiri juga mengembangkan usaha es puter ini.

Almarhum Ketut Sudi juga tak mau ketinggalan dalam hal promosi. Dibantu sang menantu dan anak, promosi juga dilakukan lewat media sosial. Meski dari mulut ke mulut, keberadaan merek lokal Klungkung ini sudah dikenal. Sepeninggal Ketut Sudi, usaha es puter tersebut bakal diteruskan anak-anaknya. Tidak heran juga, jika semua anggota keluarga juga turut andil.

Wayan Gemuh, putra pertama mendiang Ketut Sudi mengakui akan meneruskan usaha ayahnya. Dia mengaku mencari strategi market untuk mendongkrak penjualan di masa pandemi ini. “Supaya bisa produksi setiap hari. Saat ini produksi dilakukan kalau ada pesanan. Misalnya ada upacara pernikahan, atau acara resmi. Pelan-pelan dulu,” tutup pria 35 tahun ini. (*)

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Es puter tak pernah lekang. Keberadaannya mampu bersaing dengan es krim yang beredar di pasaran era kini. Ini yang dialami merk es puter “Ketut Sudi” di Klungkung. Bertahan dengan cara tradisional, tapi tetap nyantol di lidah penikmat es puter beragam kelas.

 AGUS EKA PURNA NEGARA, Semarapura  

SUASANA rumah almarhum Ketut Sudi di Banjar Siku, Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung tampak sepi, baru-baru ini. Beberapa anggota keluarga tengah beres-beres rumah, paska dilaksanakannya upacara ngaben Ketut Sudi yang meninggal beberapa waktu lalu.

Nyoman Suda, kakak Ketut Sudi, dan Wayan Gemuh, putra pertama Sudi, terlihat tabah. Saat menjamu kedatangan Bali Express (Jawa Pos Group), Nyoman Suda sangat ramah. Dia menceritakan awal kehadiran Es Puter Ketut Sudi yang beken di Klungkung sejak 1975 itu.

Rupanya, cikal-bakal merk es puter “Ketut Sudi” bermula sekitar tahun 1950-an. Pencetusnya tak lain ayah Ketut Sudi, Wayan Tomblos. Kala itu Wayan Tomblos masih berjualan dengan gerobak, keliling Kota Klungkung (Semarapura). Dari satu sekolah ke sekolah lain. Semua rumah warga pernah dilewati. Itu dilakoni setiap hari.

Dari sana, es puter mulai beken di kalangan anak muda, pada zaman itu. Wayan Tomblos mengolah semua bahan es puter secara manual. Adonan es dituangkan dalam tabung yang diapit es batu dan garam. Prosesnya diputar selama 2-3 jam hingga adonan agak mengeras. Ada banyak varian. Mulai kacang hijau, nangka, dan durian.

“Itu dilakukan sendiri. Saya dan Ketut Sudi masih kecil. Sampai akhirnya kami mulai sekolah, bapak masih jualan. Kalau ditanya rasanya, jaman itu ya disenangi. Tidak ada es krim seperti sekarang. Dari es puter tok, sampai akhirnya dijual pakai roti,” tutur Suda.

Tatkala sang ayah meninggal sekitar 1970-an, praktis tak ada yang meneruskan usaha es puter ini. Suda dan Ketut Sudi juga kena dampaknya. Ketut Sudi memutuskan berhenti sekolah dan memilih meneruskan jualan ayahnya. Jualan es puter. “Waktu itu kalau tidak salah adik saya SMP,” kenang Suda.

Pada 1975, Ketut Sudi mantap melanjutkan usaha ayahnya. Usahanya mulai berkembang. Memang awal-awal juga masih memakai gerobak. Nasibnya sama seperti sang ayah, berjualan keliling kota. Namun, usaha itu membuahkan hasil. Brand yang dibangun dengan nama “Es Puter Ketut Sudi” mulai dikenal.

Menurut Nyoman Suda, sekitar 1980-an, pesanan mulai datang dari beragam kalangan. Saat menjamurnya hotel-hotel dan resto, anak keempat dari enam bersaudara itu juga dapat jatah. Produknya sempat merambah hotel di sekitar Klungkung dan Denpasar. “Saat itu mulailah fokus menerima order. Tidak lagi keliling,” ungkap Suda.

Berkat usaha itu, es puter buatannya makin diminati oleh penikmat es beragam kalangan. Sampai saat ini, usaha rumahan tersebut hanya mempekerjakan anggota keluarga. “Pakai kenang-kenangan. Gerobak yang dipakai awal jualan sekali, itu masih ada. Masih disimpan,” ucap Nyoman Suda yang secara sendiri juga mengembangkan usaha es puter ini.

Almarhum Ketut Sudi juga tak mau ketinggalan dalam hal promosi. Dibantu sang menantu dan anak, promosi juga dilakukan lewat media sosial. Meski dari mulut ke mulut, keberadaan merek lokal Klungkung ini sudah dikenal. Sepeninggal Ketut Sudi, usaha es puter tersebut bakal diteruskan anak-anaknya. Tidak heran juga, jika semua anggota keluarga juga turut andil.

Wayan Gemuh, putra pertama mendiang Ketut Sudi mengakui akan meneruskan usaha ayahnya. Dia mengaku mencari strategi market untuk mendongkrak penjualan di masa pandemi ini. “Supaya bisa produksi setiap hari. Saat ini produksi dilakukan kalau ada pesanan. Misalnya ada upacara pernikahan, atau acara resmi. Pelan-pelan dulu,” tutup pria 35 tahun ini. (*)

 






Reporter: AGUS EKA PURNA NEGARA

Most Read

Artikel Terbaru

/