28.7 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

Cerita Komang Wira, Pedagang Gerabah yang Mantan Pekerja Pariwisata

Berkunjung ke wilayah Kelurahan Kapal, Badung, tak jarang akan menemukan penjual gerabah. Mulai dari jalan utama hingga memasuki gang kecil. Salah satunya Komang Wira, karyawan hotel yang kini banting setir menjadi penjual gerabah. Usaha turun-temurun keluarganya di Banjar Basang Tamiang, Kelurahan Kapal.

PUTU RESA KERTAWEDANGGA, Badung

SAAT ditemui belum lama ini, Komang Wira mengaku, jika profesi sebagai penjual gerabah ternyata baru digelutinya sekitar dua tahun. Sebelumnya ia merupakan karyawan swasta di salah satu hotel di Badung. Namun akibat pandemi Covid-19, maka ia memilih untuk berjualan gerabah, usaha keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Wira mengaku, kerajinan gerabah yang dibuat merupakan warisan nenek moyangnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan alat upacara yang bertuliskan tahun 1960. Kerajinan tersebut pun merupakan gerabah sangat antik dan terhalus yang ia pernah lihat.

Baca Juga :  Sepi Job, Persatuan Dukun se-Indonesia Laporkan Pesulap Merah

Usaha yang dilakoninya saat ini juga sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya. Ayah dari dua anak ini mengungkapkan, orang tuanya sudah berjualan selama 45 tahun.

“Dulunya ibu saya yang jualan sudah 45 tahun lamanya. Sekarang saya yang melanjutkan agar ada generasi penerus,” ujar Wira saat ditemui Jumat (25/3).

Untuk pembuatan gerabah, ternyata Wira tidak terjun langsung dalam setiap prosesnya. Karena istri dan iparnya yang ternyata menjadi eksekutor pembuat gerabah. Ia hanya menyiapkan bahan dasar yang dibeli dari pengepul.

Dulunya bahan dasar dari kerajinan ini biasanya dibuat sendiri. Karena dalam pembuatannya tidak hanya menggunakan tanah liat. Saat ini sudah ada penyuplai bahan dasar dengan harga yang murah. Selain menghemat biaya produksi, hal ini juga dapat mengurangi waktu pembuatan gerabah. Wira pun mengungkapkan, perbedaan bahan dasar ini sekaligus menurunkan kualitas gerabah tersebut.

Baca Juga :  KMHDI Salurkan Bantuan untuk Korban PHK dan Mahasiswa Rantauan

“Kalau dulu sebelum membuat gerabah bahan dasarnya juga harus dibuat, mulai dari menyiapkan tanah liat, dicampur, dijemur, ditumbuk, dan dicampur dengan paras. Dua hari bahannya baru jadi, ditambah prose penjemuran dan pembakaran gerabah, maksimal satu gerabah baru bisa dijual setelah empat hari. Tapi sekarang sudah ada yang jual sekotak dengan harga Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, dari warung Payuk Sari miliknya, kini ia menjual beberapa kerajinan gerabah. Mulai sarana upacara, pot bunga, celengan, dan yang lainnya. Harga dari setiap kerajinan tersebut pun berbeda-beda, tergantung dari kerumitan proses pembuatan. Untuk harga termurah, yakni Rp 5 ribu dan termahal Rp 200 ribu.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Berkunjung ke wilayah Kelurahan Kapal, Badung, tak jarang akan menemukan penjual gerabah. Mulai dari jalan utama hingga memasuki gang kecil. Salah satunya Komang Wira, karyawan hotel yang kini banting setir menjadi penjual gerabah. Usaha turun-temurun keluarganya di Banjar Basang Tamiang, Kelurahan Kapal.

PUTU RESA KERTAWEDANGGA, Badung

SAAT ditemui belum lama ini, Komang Wira mengaku, jika profesi sebagai penjual gerabah ternyata baru digelutinya sekitar dua tahun. Sebelumnya ia merupakan karyawan swasta di salah satu hotel di Badung. Namun akibat pandemi Covid-19, maka ia memilih untuk berjualan gerabah, usaha keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Wira mengaku, kerajinan gerabah yang dibuat merupakan warisan nenek moyangnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan alat upacara yang bertuliskan tahun 1960. Kerajinan tersebut pun merupakan gerabah sangat antik dan terhalus yang ia pernah lihat.

Baca Juga :  Penarikan Vaksin Astrazeneca Dinilai Wajar

Usaha yang dilakoninya saat ini juga sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya. Ayah dari dua anak ini mengungkapkan, orang tuanya sudah berjualan selama 45 tahun.

“Dulunya ibu saya yang jualan sudah 45 tahun lamanya. Sekarang saya yang melanjutkan agar ada generasi penerus,” ujar Wira saat ditemui Jumat (25/3).

Untuk pembuatan gerabah, ternyata Wira tidak terjun langsung dalam setiap prosesnya. Karena istri dan iparnya yang ternyata menjadi eksekutor pembuat gerabah. Ia hanya menyiapkan bahan dasar yang dibeli dari pengepul.

Dulunya bahan dasar dari kerajinan ini biasanya dibuat sendiri. Karena dalam pembuatannya tidak hanya menggunakan tanah liat. Saat ini sudah ada penyuplai bahan dasar dengan harga yang murah. Selain menghemat biaya produksi, hal ini juga dapat mengurangi waktu pembuatan gerabah. Wira pun mengungkapkan, perbedaan bahan dasar ini sekaligus menurunkan kualitas gerabah tersebut.

Baca Juga :  Ratusan Siswa SD Tak Tertampung di SMP, Dewan Minta Sekolah di Kutra

“Kalau dulu sebelum membuat gerabah bahan dasarnya juga harus dibuat, mulai dari menyiapkan tanah liat, dicampur, dijemur, ditumbuk, dan dicampur dengan paras. Dua hari bahannya baru jadi, ditambah prose penjemuran dan pembakaran gerabah, maksimal satu gerabah baru bisa dijual setelah empat hari. Tapi sekarang sudah ada yang jual sekotak dengan harga Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, dari warung Payuk Sari miliknya, kini ia menjual beberapa kerajinan gerabah. Mulai sarana upacara, pot bunga, celengan, dan yang lainnya. Harga dari setiap kerajinan tersebut pun berbeda-beda, tergantung dari kerumitan proses pembuatan. Untuk harga termurah, yakni Rp 5 ribu dan termahal Rp 200 ribu.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru