alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Sudarmayasa, Juara SEA Games yang Kini Sopir di KONI

DENPASAR, BALI EXPRESS- “Jalani pekerjaanmu. Sportif menerima kerjaan itu, jangan gengsi. Yang penting dijalankan dengan baik,” ucap I Nyoman Sudamayasa,43.

Sudarmayasa adalah mantan atlet judo nasional yang kini menjadi sopir di KONI Bali. Di benak Sudarmayasa, tak terbersit sama sekali ingin menjadi seorang PNS atau pegawai kantoran, meskipun statusnya dulu adalah atlet yang berlaga di level nasional dan internasional dan pernah menjadi juara.

Pria kelahiran Denpasar 29 November 1977 ini dulunya merupakan atlet judo dengan jam terbang tinggi di kelas +100kg putra. Event sekelas SEA Games pernah dicicipi. Itu pertama kali dirasakan pada tahun 1995 di Thailand. Dua tahun berselang, namanya kembali masuk dalam skuad timnas ketika SEA Games di Jakarta. Di tanah sendiri, Sudarmayasa sukses merebut medali perunggu. Sementara untuk level nasional, ia pernah berkiprah di PON 2000, tapi kala itu ia membawa nama Provinsi Jawa Barat. Ironisnya, Sudarmayasa justru meraih emas. “Saya di Bali dari tahun 93 sampai 96. Tahun 97 saya pindah ke Jawa Barat. Alasannya karena pembinaan untuk atlet jaman itu belum diperhatikan seperti sekarang. Akhirnya saya memutuskan pindah,” tuturnya.

Setelah tak aktif menjadi atlet, Sudarmayasa memutuskan pindah ke Bali. Peran I Gusti Bagus Alit Putra dan almarhum I Gusti Ketut Adiputra selaku Ketua Umum dan Ketua Harian KONI Bali saat itu membuat Sudarmayasa akhirnya memutuskan pulang kampung sekitar Maret 2003. “Saya pulang ke Bali diajak kerja, diangkat menjadi staf di KONI Bali. Pertama kali belum menjadi sopir, tapi bertugas untuk kliping koran pemberitaan soal olahraga,” cetusnya. “Ya sangat bahagia. Di benak saya saat itu saya cuman ingin kerja,” sambungnya. 

Setelah satu dekade lebih, dengan pucuk pimpinan KONI Bali yang terus berganti, Sudarmayasa akhirnya ditugaskan menjadi koordinator transportasi KONI Bali di tahun 2015. Kebetulan, saat itu, KONI Bali mendapat bantuan mobil dinas dari Pemprov Bali berupa mobil Hiace jenis SUV tahun 2015.

 

Lantas, apa pengalaman selama menjadi seorang sopir itu? Ia menceritakan, sudah lalu lalang melintasi padatnya lalu lintas. Bukan di Bali saja, tapi hingga ke Pulau Jawa. “Dulu saya dilayani, sekarang saya yang melayani. Tak ada istilah gengsi,” tegasnya.

Jalur Pantura menjadi favorit Sudarmayasa mengantar cabor ketika mengikuti kejuaraan apapun ke Pulau Jawa. Pengalaman ke luar daerah menggunakan mobil dinas ini bukan pertama kali sejak ditugaskan di KONI Bali, tapi jauh sebelumnya, ia sudah sering pulang-pergi Jawa-Bali saat menjadi atlet. Tentu ada pengalaman baik dan buruknya.

Kemudian, yang paling diingat, ketika mengantar salah satu cabor ke Jawa Timur, Sudarmayasa pernah 3 hari 3 malam tidur di mobil. Alasannya karena lokasi hotel menginap itu tidak layak huni. “Saya tak mau menyebutkan itu di mana. Yang jelas itu kurang menyenangkan,” bebernya.

Nah, dalam masa pandemi Covid-19 di tengah persiapan Bali menghadapi PON, Sudarmayasa turut terlibat. Ia ditugaskan menjadi koordinator transportasi untuk antar jemput atlet ke lokasi sentralisasi ke tempat latihan dan sebaliknya. Kebetulan atlet yang ia antar jemput itu tim basket putri PON Bali.

Di luar sebagai sopir di KONI Bali, Sudarmayasa juga menjabat sebagai pelatih kepala di Pengkab Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Badung. Selain itu, ia juga menjadi wasit nasional A di PB PJSI.

 


DENPASAR, BALI EXPRESS- “Jalani pekerjaanmu. Sportif menerima kerjaan itu, jangan gengsi. Yang penting dijalankan dengan baik,” ucap I Nyoman Sudamayasa,43.

Sudarmayasa adalah mantan atlet judo nasional yang kini menjadi sopir di KONI Bali. Di benak Sudarmayasa, tak terbersit sama sekali ingin menjadi seorang PNS atau pegawai kantoran, meskipun statusnya dulu adalah atlet yang berlaga di level nasional dan internasional dan pernah menjadi juara.

Pria kelahiran Denpasar 29 November 1977 ini dulunya merupakan atlet judo dengan jam terbang tinggi di kelas +100kg putra. Event sekelas SEA Games pernah dicicipi. Itu pertama kali dirasakan pada tahun 1995 di Thailand. Dua tahun berselang, namanya kembali masuk dalam skuad timnas ketika SEA Games di Jakarta. Di tanah sendiri, Sudarmayasa sukses merebut medali perunggu. Sementara untuk level nasional, ia pernah berkiprah di PON 2000, tapi kala itu ia membawa nama Provinsi Jawa Barat. Ironisnya, Sudarmayasa justru meraih emas. “Saya di Bali dari tahun 93 sampai 96. Tahun 97 saya pindah ke Jawa Barat. Alasannya karena pembinaan untuk atlet jaman itu belum diperhatikan seperti sekarang. Akhirnya saya memutuskan pindah,” tuturnya.

Setelah tak aktif menjadi atlet, Sudarmayasa memutuskan pindah ke Bali. Peran I Gusti Bagus Alit Putra dan almarhum I Gusti Ketut Adiputra selaku Ketua Umum dan Ketua Harian KONI Bali saat itu membuat Sudarmayasa akhirnya memutuskan pulang kampung sekitar Maret 2003. “Saya pulang ke Bali diajak kerja, diangkat menjadi staf di KONI Bali. Pertama kali belum menjadi sopir, tapi bertugas untuk kliping koran pemberitaan soal olahraga,” cetusnya. “Ya sangat bahagia. Di benak saya saat itu saya cuman ingin kerja,” sambungnya. 

Setelah satu dekade lebih, dengan pucuk pimpinan KONI Bali yang terus berganti, Sudarmayasa akhirnya ditugaskan menjadi koordinator transportasi KONI Bali di tahun 2015. Kebetulan, saat itu, KONI Bali mendapat bantuan mobil dinas dari Pemprov Bali berupa mobil Hiace jenis SUV tahun 2015.

 

Lantas, apa pengalaman selama menjadi seorang sopir itu? Ia menceritakan, sudah lalu lalang melintasi padatnya lalu lintas. Bukan di Bali saja, tapi hingga ke Pulau Jawa. “Dulu saya dilayani, sekarang saya yang melayani. Tak ada istilah gengsi,” tegasnya.

Jalur Pantura menjadi favorit Sudarmayasa mengantar cabor ketika mengikuti kejuaraan apapun ke Pulau Jawa. Pengalaman ke luar daerah menggunakan mobil dinas ini bukan pertama kali sejak ditugaskan di KONI Bali, tapi jauh sebelumnya, ia sudah sering pulang-pergi Jawa-Bali saat menjadi atlet. Tentu ada pengalaman baik dan buruknya.

Kemudian, yang paling diingat, ketika mengantar salah satu cabor ke Jawa Timur, Sudarmayasa pernah 3 hari 3 malam tidur di mobil. Alasannya karena lokasi hotel menginap itu tidak layak huni. “Saya tak mau menyebutkan itu di mana. Yang jelas itu kurang menyenangkan,” bebernya.

Nah, dalam masa pandemi Covid-19 di tengah persiapan Bali menghadapi PON, Sudarmayasa turut terlibat. Ia ditugaskan menjadi koordinator transportasi untuk antar jemput atlet ke lokasi sentralisasi ke tempat latihan dan sebaliknya. Kebetulan atlet yang ia antar jemput itu tim basket putri PON Bali.

Di luar sebagai sopir di KONI Bali, Sudarmayasa juga menjabat sebagai pelatih kepala di Pengkab Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Badung. Selain itu, ia juga menjadi wasit nasional A di PB PJSI.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/