Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Features
icon featured
Features
Kisah Kakek Sampun asal Blahbatuh

Jualan Canang dari Siang Hingga Malam, Hanya Kantongi Rp 25 Ribu

26 September 2021, 19: 24: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jualan Canang dari Siang Hingga Malam, Hanya Kantongi Rp 25 Ribu

SAMBUNG HIDUP: Kakek Sampun yang menyambung hidupnya dengan berjualan canang di di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. (Rika Riyanti/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Usia senja merupakan kesempatan bagi para lansia untuk menghabiskan waktunya bersama sang cucu atau berkumpul dengan keluarga sekadar menikmati teh di sore hari. Namun, alih-alih menikmati waktunya menimang cucu, nampaknya hal itu hanya angan bagi Kakek Sampun.

Tak ada teh, atau tayangan gosip di sore hari, tetapi hanya ada lapak canang yang mesti digelar Kakek Sampun untuk menyambung hidupnya di usianya yang tak lagi produktif. Mulai dari pukul 12.00 Wita, di saat panas matahari begitu kejam, kakek yang berusia 73 tahun ini sudah membuka lapaknya di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, dekat dengan toko-toko tanaman sampai pukul 20.00 Wita. 

Hanya dengan bermodalkan tatakan yang disangga kursi plastik, Kakek Sampun meletakkan canang-canang dagangannya sambil harap-harap cemas apakah canang-canangnya hari ini laku terjual atau justru sebaliknya. Ia juga menggunakan sebuah payung kecil untuk meneduhkan diri dan canang-canangnya agar tak cepat layu disengat sinar matahari.

Baca juga: Pekerja Migran Indonesia Asal Cianjur Pulang Dalam Kondisi Lumpuh

“Saya sudah jualan canang pukul 12.00 sampai pukul 20.00 Wita. Canangnya buat sendiri, ada canang daun juga canang ceper. Canang daun harganya Rp 5 ribu, kalau canang ceper Rp 15 ribu,” ujarnya, Minggu (26/9).

Seharinya, kakek asal Blahbatuh, Gianyar itu megakui, canangnya hanya terjual Rp 10 ribu. Paling banyak yang bisa ia kantongi hanya sekitar Rp 15 ribu. Hasil berjualan canang ini digunakan Kakek Sampun untuk makan anak-anak dan istrinya. Tak jarang, dari siang ia berjualan hingga menjelang sore, belum ada satupun pembeli yang menghampirinya.

“Sehari jual canang kadang dapat Rp 10 ribu kadang Rp 25 ribu. Daritadi saya jualan belum laku. Sebelumnya saya juga sempat jualan di Jalan Yangbatu, Denpasar, tapi pindah ke sini. Saya tinggal bersama anak dan istri di sini. Anak saya ada empat dan sudah menikah satu orang,” ungkapnya.

Sebelum berjualan canang, Kakek Sampun mengaku pernah berjualan sebagai buruh serabutan. Mulai dari buruh pengirim pasir, hingga buruh pengupas buah kelapa ia lakoni. Namun, seiring berjalannya waktu, kadang Kakek Sampun mendapatkan pekerjaan itu kadang juga tidak. 

“Anak saya tidak bekerja. Dulu sempat bekerja mengantar tamu, tapi sekarang sudah tidak semenjak Covid-19. Kalau canang ini saya sama istri yang buat. Untuk jualan di sini saya tidak bayar uang sewa, dikasih gratis tempat sambil jaga tempatnya katanya yang punya,” jelasnya.(ika)

(bx/ras/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia