Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Features
icon featured
Features

Mengenal Epilepsi pada Anak Dan Cara Menanganinya

26 November 2021, 09: 02: 52 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Mengenal Epilepsi pada Anak Dan Cara Menanganinya

ilustrasi (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS- Epilepsi atau penyakit gangguan saraf sampai saat ini di Indonesia masih menjadi jenis penyakit kambuhan yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun biasanya penyakit ini lebih rentan menyerang anak-anak. Apa sebenarnya epilepsi dan apakah epilepsi ini bisa dicegah?

Dokter Spesialis Anak, dr. Pandu Caesaria Lestari, Sp.A ketika ditemui di RSUP Sanglah mengatakan epilepsi yang merupakan gangguan neurologis yang menyebabkan kejang berulang yang disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di dalam otak ini juga bisa menyerang anak-anak. "Saat ini epilepsi menjadi penyakit yang paling umum di derita oleh abak-anak, tidak saja di Indonesia tapi juga diseluruh dunia," jelasnya.

Khusus pada anak, penyakit epilepsi ini dijelaskan dr. Pandu selain disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidakseimbangan neurotransmiter, juga disebabkan karena genetika, tumor otak, stroke, kerusakan otak akibat penyakit bawaan, termasuk saat lahir dan obat-obatan terlarang.

Baca juga: Mengenal Melasma, Gangguan Kulit Musuh Para Wanita

Selain itu, seorang anak juga bis mengalami epilepsi ketika anak-anak ini mengalami demam atau infeksi, kelahiran yang prematur hingga cedera kepala. "Untuk itu, para orang tua perlu kewaspadaan jika seorang anak mengalami kejang ketika sedang demam," lanjutnya.

Ada beberapa gejala kejang yang perlu diwaspadai oleh orang tua, seperti ketika kejang, anak mulai menyentakkan lengan dan kaki, mengalami sesak napas, jatuh tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, tidak menanggapi kebisingan atau kata-kata untuk periode singkat, tampak bingung, mata berkedip cepat dan menatap, dan selama kejang bibir anak berwarna biru dan pernapasannya mungkin tidak normal.

Epilepsi pada anak-anak didiagnosis melalui pengujian dapat meliputi tes darah dan tes urine, EEG atau electroencephalography untuk melihat gelombang otak atau aktivitas listrik di otak, VEEG atau video electroencephalography, EEG dengan perekaman video, CAT scan, MRI, dan PET untuk melihat ke dalam otak.

Jika diteksi sejak dini, epilepsi biasanya diobati dengan memberikan beberapa obat anti-epilepsi (AED) atau obat antikonvulsan. Akan tetapi, jika obat masih tidak mempan biasanya dilakukan diet khusus, seperti diet ketogenik.

Diet ketogenik atau keto adalah diet ketat tinggi lemak, rendah karbohidrat dan kadang-kadang dapat mengurangi kejang. "Untuk kejang yang sulit dikendalikan, dokter biasanya merekomendasikan stimulasi saraf vagal (VNS), yang merupakan alat yang merangsang saraf vagal, atau pembedahan," tambahnya. 

(bx/gek/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia