alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Asal-usul Badarawuhi: Misteri Alas Danda di Desa Wonontoro (Bagian ke-2)

Hasrat ingin bertemu dengan manusia kembali semakin tak terbendung.  Hingga akhirnya Ratna Nareh sampai ke Desa Wonontoro. Saat itu Desa Wonontoro dipimpin seorang lurah bernama Macan Sikep. Macan Sikep tak terlalu disukai oleh penduduk karena terlalu memiliki hasrat liar terhadap perempuan.  Namun warga Wonontoro tak bisa berbuat banyak karena Lurah Macan Sikep memelihara banyak begundal.

Lurah Singoranu mengungkap bahwa keadaan Desa Wonontoro pada  tahun 1300-an benar-benar sangat terpencil dan dikelilingi hutan serta binatang buas. Jarang ada pendatang maupun warga yang pergi ke luar desa. Tidak seperti saat Surologo yang dapat mengangkses jalan setapak menunju Wonontoro.

Dahulu, satu-satunya jalan utama keluar desa dengan menerabas Alas Danda yang lebat dan nyaris mengurung desa tersebut. Meski demikian, jika terpaksa keluar desa, warga Wonontoro lebih memilih mendaki lereng bukit yang terjal di sisi utara dengan resiko tergelincir kemudian mati, ketimbang melewati Alas Danda.

Surologo pun cukup kaget mendengar pengakuan Lurah Singoranu, mengingat resiko mati lebih besar ketika melewati lereng bukit. Ki Lurah mengatakan bahwa ada yang aneh dari Alas Danda. Setiap kali penduduk Wonontoro membuka jalan setapak, besoknya semak belukar kembali menutupi, seakan-akan belum pernah dibabat.  Selain itu, mereka yang nekat melewati Alas Danda tidak pernah sampai tujuan dan pulang kembali.

Baca Juga :  Asal-usul Badarawuhi: Ratna Nareh Serap Energi Segoro Kidul (Bagian Ke-5)

Sejak saat itu, penduduk sepakat untuk memasang tanda berupa janur dan kain merah di dekat sanggar pamujan Wonotoro yang mengarahkan Alas Danda, sebagai peringatan untuk siapapun agar tidak melewatinya lagi. Meski Wonontoro telah berganti nama dan sanggar pamujan tak lagi digunakan hingga menjadi reruntuhan selama ratuasan tahun, tradisi memasang janur tanda peringatan itu tetap diteruskan hingga sekarang.

Beruntung, pada masa eyang buyut Lurah Singoranu berhasil membuka jalur lain yang lebih aman, walau harus memutari bukit. Bersama warga, eyang buyutnya berhasil membuka jalan setapak yang hingga kini bisa dilalui oleh warga maupun pendatang.

Lurah Singoranu kembali menjelaskan keadaan Alas Danda yang menyimpan misteri itu. Alas berarti hutan, Danda berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti membayar untuk mengganti hukuman atau denda.  Ia mengatakan, ada tumpukan batu dan pohon beringin kembar di dekatnya. Tempat itu dikenal dengan nama Watu Kumalasa karena bentuknya besar namun rata. Ada juga sebuah sendang yang disebut  Sendang Sarpamara yang memiliki air yang sangat segar. Namun siapa sangka di balik kesegaran air itu, keangkeran Sendang Sarpamara begitu menggetarkan siapa pun yang datang ke sana.

Baca Juga :  Tiang Pancang Sering Jatuh, Adhi Karya Bikin Pabrik Mini di Benoa

Ki Lurah Singoranu dan warga lainnya pernah melihat sosok perempuan bermahkota ratu berdiri di pemakaman dekat tepi Alas Danda saat menjelang magrib. Dia menatap warga dengan sangat dalam, lalu menghilang tertelan kabut yang datang. Pesan yang diterima secara turun-temurun, bahwa sosok itu adalah penguasa Sarpamara. Sementara sendang Sarpamara sendiri adalah karaton siluman. Pusat aktivitas kasat mata diwilayah Wonontoro dan sekitarnya. Seperti layaknya keraton, siapa pun yang datang ke tempat itu, harus penuh tata karma, sopan santun dan mengucap permisi. Mereka percaya makhluk kasat mata itu telah berada di sendang selama ribuan tahun lamanya. Sarpamara terdiri atas dua kata, Sarpa berarti ular dan Mara berarti iblis.






Reporter: Wiwin Meliana

Hasrat ingin bertemu dengan manusia kembali semakin tak terbendung.  Hingga akhirnya Ratna Nareh sampai ke Desa Wonontoro. Saat itu Desa Wonontoro dipimpin seorang lurah bernama Macan Sikep. Macan Sikep tak terlalu disukai oleh penduduk karena terlalu memiliki hasrat liar terhadap perempuan.  Namun warga Wonontoro tak bisa berbuat banyak karena Lurah Macan Sikep memelihara banyak begundal.

Lurah Singoranu mengungkap bahwa keadaan Desa Wonontoro pada  tahun 1300-an benar-benar sangat terpencil dan dikelilingi hutan serta binatang buas. Jarang ada pendatang maupun warga yang pergi ke luar desa. Tidak seperti saat Surologo yang dapat mengangkses jalan setapak menunju Wonontoro.

Dahulu, satu-satunya jalan utama keluar desa dengan menerabas Alas Danda yang lebat dan nyaris mengurung desa tersebut. Meski demikian, jika terpaksa keluar desa, warga Wonontoro lebih memilih mendaki lereng bukit yang terjal di sisi utara dengan resiko tergelincir kemudian mati, ketimbang melewati Alas Danda.

Surologo pun cukup kaget mendengar pengakuan Lurah Singoranu, mengingat resiko mati lebih besar ketika melewati lereng bukit. Ki Lurah mengatakan bahwa ada yang aneh dari Alas Danda. Setiap kali penduduk Wonontoro membuka jalan setapak, besoknya semak belukar kembali menutupi, seakan-akan belum pernah dibabat.  Selain itu, mereka yang nekat melewati Alas Danda tidak pernah sampai tujuan dan pulang kembali.

Baca Juga :  Solidaritas dan Empati untuk Anak Penyintas Kanker, Ganjar Cukur Gundul

Sejak saat itu, penduduk sepakat untuk memasang tanda berupa janur dan kain merah di dekat sanggar pamujan Wonotoro yang mengarahkan Alas Danda, sebagai peringatan untuk siapapun agar tidak melewatinya lagi. Meski Wonontoro telah berganti nama dan sanggar pamujan tak lagi digunakan hingga menjadi reruntuhan selama ratuasan tahun, tradisi memasang janur tanda peringatan itu tetap diteruskan hingga sekarang.

Beruntung, pada masa eyang buyut Lurah Singoranu berhasil membuka jalur lain yang lebih aman, walau harus memutari bukit. Bersama warga, eyang buyutnya berhasil membuka jalan setapak yang hingga kini bisa dilalui oleh warga maupun pendatang.

Lurah Singoranu kembali menjelaskan keadaan Alas Danda yang menyimpan misteri itu. Alas berarti hutan, Danda berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti membayar untuk mengganti hukuman atau denda.  Ia mengatakan, ada tumpukan batu dan pohon beringin kembar di dekatnya. Tempat itu dikenal dengan nama Watu Kumalasa karena bentuknya besar namun rata. Ada juga sebuah sendang yang disebut  Sendang Sarpamara yang memiliki air yang sangat segar. Namun siapa sangka di balik kesegaran air itu, keangkeran Sendang Sarpamara begitu menggetarkan siapa pun yang datang ke sana.

Baca Juga :  Asal-usul Badarawuhi dan Kisah Rangda Nateng Girah (Bagian Ke-1)

Ki Lurah Singoranu dan warga lainnya pernah melihat sosok perempuan bermahkota ratu berdiri di pemakaman dekat tepi Alas Danda saat menjelang magrib. Dia menatap warga dengan sangat dalam, lalu menghilang tertelan kabut yang datang. Pesan yang diterima secara turun-temurun, bahwa sosok itu adalah penguasa Sarpamara. Sementara sendang Sarpamara sendiri adalah karaton siluman. Pusat aktivitas kasat mata diwilayah Wonontoro dan sekitarnya. Seperti layaknya keraton, siapa pun yang datang ke tempat itu, harus penuh tata karma, sopan santun dan mengucap permisi. Mereka percaya makhluk kasat mata itu telah berada di sendang selama ribuan tahun lamanya. Sarpamara terdiri atas dua kata, Sarpa berarti ular dan Mara berarti iblis.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/