28.7 C
Denpasar
Friday, December 9, 2022

Jro Dalang Suartana Racik Minyak Wayang Tualen Pancadatu Sekala Niskala

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemegang Hak Cipta Desain Wayang Pancadatu, Jro Dalang I Gede Suartana, 62, tak henti-hentinya berkarya. Kali ini dalang yang juga pengerajin perak asal Banjar/Desa Celuk, Kecamatan Sukawati ini menciptakan empat produk berkaitan dengan wayang. Diantaranya racikan Minyak Wayang Tualen Pancadatu, Wayang Baruna, Seselet Belati dan Gedebong modifikasi.

Jro Dalang Suartana menjelaskan bahwa, produk racikan minyak itu ia buat berawal dari pada zaman dahulu minyak wayang diyakini secara niskala sebagai obat. Dimana masyarakat biasanya nunas beberapa tetes minyak wayang dari Damar Blencong Jro Dalang setelah pertunjukan wayang peteng (malam hari, red) selesai.

“Lalu ekstrak minyak wayang yang ditunas itu dicampur dengan minyak tanusan asli. Oleh masyarakat jaman dahulu, racikan ini biasa dipakai minyak urut. Kalau untuk penurun panas diisi bawang merah, untuk penghangat diisi jahe merah, sere, isin ceraken, jadi diracik sesuai tujuan,” ujarnya Selasa (27/9).

Hanya saja di era globalisasi ini, hiburan masyarakat semakin banyak. Sehingga pertunjukan wayang peteng kurang diminati lagi. Dan kini pertunjukan wayang peteng pun cukup langka. Hanya saja Jro Dalang Suartana tetap ingin melestarikan kearifan lokal khususnya obat tradisional minyak wayang. Sehingga ia pun meracik minyak wayang dengan harapan keyakinan masyarakat jaman dahulu tentang khasiat minyak wayang ini tetap terjaga. Minyak urut itu sendiri merupakan perpaduan minyak tanusan asli yang sudah diproses hangat bersama jahe merah, pohon bokasi, sere, cengkeh dan bahan penghangat lainnya.

Baca Juga :  Kisah Sam Jay Gold; Dalang Amerika yang Piawai Mainkan Wayang Kulit

“Melihat saat ini sangat jarang ada wayang tradisi peteng, jadi jarang pakai damar blencong. Ngaben saja tidak ada wayang peteng. Kalau dulu Ngaben dan Nyekah pasti diadakan wayang peteng karena ada kaitannya juga untuk nunas Tirta Sudamala, itu Tirta utama. Jadi saya ingin wayang itu selalu mendapat tempat di hati masyarakat,” imbuhnya.

Selanjutnya, minyak yang sudah diracik dengan memadukan unsur sekala niskala ini dikemas dalam botol ukuran 25 ml. Dan kini minyak yang diproduksi oleh PT Vision Bali, Denpasar telah mendapatkan izin BPOM RI POM TR226051141 sehingga bisa didapatkan di apotek-apotek terdekat.

Minyak tersebut dipercaya dapat membantu meredakan sakit pinggang, hangatkan lemaskan otot menjelang olahraga, jelang akitivitas, digigit serangga dan sebagainya. “Pilek, sakit kepala, keseleo, perut kembung. Dan sangat cocok bagi orang yang lahir di wuku wayang,” paparnya lagi.

Keberadaan minyak wayang ini pula kata dia sejalan dengan pengukuhan pengurus Gotra Pangusada Bali yang selaras dengan ekonomi Kerthi Bali melalui kebijakan peraturan Gubernur Bali No. 55 Tahun 2019 tentang pelayananan kesehatan tradisional Bali dan Peraturan Daerah Provinsi Bali No.6 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan kesehatan.

Sementara itu untuk karyanya yang lain, yakni berupa Wayang Baruna yang bertatahkan logam pancadatu menurutnya sekaligus diciptakan untuk merespon tema Pesta Kesenian Bali Tahun 2023 mendatang yakni Segara Kertih. Wujudnya Baruna sendiri diterjemahkan dari sebuah mantra suci. Dimana berdasarkan mantra tersebut, wujud wayang Baruna dibuat seperti naga yang mengagumkan, bermulut gajah, dan berbadan ikan.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Menerima Vaksin Covid-19 Perdana

Selanjutnya, untuk karya ketiga berupa Seselet Belati bentuk luarnya seperti tongkat komando yang didalamnya berisi pisau belati. “Kalau petani bawa arit, nak Lingsir pakai teteken, pemimpin bawa tongkat komando, raja bawa keris. Kalau dalang bawa apa? Biar ada tatad (dibawa), tyang ciptakan perpaduan tongkat komando dengan tiuk (pisau) belati dan keris. Luar tongkat, dalam tiuk belati, namakan tiuk seselet dalang,” jelasnya.

Ditambahkannya jika seselet belati ini berfungsi selain sebagai pebungah juga untuk memotong benang selesai pertunjukan wayang lemah yang menandakan bahwa upacara sudah selesai.

Sedangkan karya keempat, Gedebong modifikasi, dibuat dari bahan dasar kayu yang dilubangi dan dicat. Menurutnya, Gedebong adalah simbol bumi. “Saya buat ini karena saat ini semakin sulit cari pohon pisang yang besar. Apalagi kasihan harus ditebang saat sedang berbuah. Jadi menurut saya, kayu sudah bergambar Gedebong ini akan sangat membantu,” tandasnya.

Jro Dalang I Gede Suartana juga seorang pengrajin perak di Banjar Celuk Desa Celuk Kecamatan Sukawati ini. Kecintaannya dengan seni pedalangan dipadukan dengan aktifitasnya sebagai pengrajin emas dan perak sekaligus sebagai sumbangsihnya terhadap Desa Celuk sebagai pusat kerajinan emas dan perak. Jro Dalang menciptakan disain ukiran tetatahan logam Pancadatu ada wayang kulit.


GIANYAR, BALI EXPRESS – Pemegang Hak Cipta Desain Wayang Pancadatu, Jro Dalang I Gede Suartana, 62, tak henti-hentinya berkarya. Kali ini dalang yang juga pengerajin perak asal Banjar/Desa Celuk, Kecamatan Sukawati ini menciptakan empat produk berkaitan dengan wayang. Diantaranya racikan Minyak Wayang Tualen Pancadatu, Wayang Baruna, Seselet Belati dan Gedebong modifikasi.

Jro Dalang Suartana menjelaskan bahwa, produk racikan minyak itu ia buat berawal dari pada zaman dahulu minyak wayang diyakini secara niskala sebagai obat. Dimana masyarakat biasanya nunas beberapa tetes minyak wayang dari Damar Blencong Jro Dalang setelah pertunjukan wayang peteng (malam hari, red) selesai.

“Lalu ekstrak minyak wayang yang ditunas itu dicampur dengan minyak tanusan asli. Oleh masyarakat jaman dahulu, racikan ini biasa dipakai minyak urut. Kalau untuk penurun panas diisi bawang merah, untuk penghangat diisi jahe merah, sere, isin ceraken, jadi diracik sesuai tujuan,” ujarnya Selasa (27/9).

Hanya saja di era globalisasi ini, hiburan masyarakat semakin banyak. Sehingga pertunjukan wayang peteng kurang diminati lagi. Dan kini pertunjukan wayang peteng pun cukup langka. Hanya saja Jro Dalang Suartana tetap ingin melestarikan kearifan lokal khususnya obat tradisional minyak wayang. Sehingga ia pun meracik minyak wayang dengan harapan keyakinan masyarakat jaman dahulu tentang khasiat minyak wayang ini tetap terjaga. Minyak urut itu sendiri merupakan perpaduan minyak tanusan asli yang sudah diproses hangat bersama jahe merah, pohon bokasi, sere, cengkeh dan bahan penghangat lainnya.

Baca Juga :  Divonis Sembilan Tahun, Pasangan Kumpul Kebo Pingsan

“Melihat saat ini sangat jarang ada wayang tradisi peteng, jadi jarang pakai damar blencong. Ngaben saja tidak ada wayang peteng. Kalau dulu Ngaben dan Nyekah pasti diadakan wayang peteng karena ada kaitannya juga untuk nunas Tirta Sudamala, itu Tirta utama. Jadi saya ingin wayang itu selalu mendapat tempat di hati masyarakat,” imbuhnya.

Selanjutnya, minyak yang sudah diracik dengan memadukan unsur sekala niskala ini dikemas dalam botol ukuran 25 ml. Dan kini minyak yang diproduksi oleh PT Vision Bali, Denpasar telah mendapatkan izin BPOM RI POM TR226051141 sehingga bisa didapatkan di apotek-apotek terdekat.

Minyak tersebut dipercaya dapat membantu meredakan sakit pinggang, hangatkan lemaskan otot menjelang olahraga, jelang akitivitas, digigit serangga dan sebagainya. “Pilek, sakit kepala, keseleo, perut kembung. Dan sangat cocok bagi orang yang lahir di wuku wayang,” paparnya lagi.

Keberadaan minyak wayang ini pula kata dia sejalan dengan pengukuhan pengurus Gotra Pangusada Bali yang selaras dengan ekonomi Kerthi Bali melalui kebijakan peraturan Gubernur Bali No. 55 Tahun 2019 tentang pelayananan kesehatan tradisional Bali dan Peraturan Daerah Provinsi Bali No.6 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan kesehatan.

Sementara itu untuk karyanya yang lain, yakni berupa Wayang Baruna yang bertatahkan logam pancadatu menurutnya sekaligus diciptakan untuk merespon tema Pesta Kesenian Bali Tahun 2023 mendatang yakni Segara Kertih. Wujudnya Baruna sendiri diterjemahkan dari sebuah mantra suci. Dimana berdasarkan mantra tersebut, wujud wayang Baruna dibuat seperti naga yang mengagumkan, bermulut gajah, dan berbadan ikan.

Baca Juga :  Tahun 2021, Temuan BBPOM menurun

Selanjutnya, untuk karya ketiga berupa Seselet Belati bentuk luarnya seperti tongkat komando yang didalamnya berisi pisau belati. “Kalau petani bawa arit, nak Lingsir pakai teteken, pemimpin bawa tongkat komando, raja bawa keris. Kalau dalang bawa apa? Biar ada tatad (dibawa), tyang ciptakan perpaduan tongkat komando dengan tiuk (pisau) belati dan keris. Luar tongkat, dalam tiuk belati, namakan tiuk seselet dalang,” jelasnya.

Ditambahkannya jika seselet belati ini berfungsi selain sebagai pebungah juga untuk memotong benang selesai pertunjukan wayang lemah yang menandakan bahwa upacara sudah selesai.

Sedangkan karya keempat, Gedebong modifikasi, dibuat dari bahan dasar kayu yang dilubangi dan dicat. Menurutnya, Gedebong adalah simbol bumi. “Saya buat ini karena saat ini semakin sulit cari pohon pisang yang besar. Apalagi kasihan harus ditebang saat sedang berbuah. Jadi menurut saya, kayu sudah bergambar Gedebong ini akan sangat membantu,” tandasnya.

Jro Dalang I Gede Suartana juga seorang pengrajin perak di Banjar Celuk Desa Celuk Kecamatan Sukawati ini. Kecintaannya dengan seni pedalangan dipadukan dengan aktifitasnya sebagai pengrajin emas dan perak sekaligus sebagai sumbangsihnya terhadap Desa Celuk sebagai pusat kerajinan emas dan perak. Jro Dalang menciptakan disain ukiran tetatahan logam Pancadatu ada wayang kulit.


Most Read

Artikel Terbaru

/