alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Zainal Tayeb Dipenjarakan Keponakan; Istri: Dia Diberi Pekerjaan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Hari Kamis tanggal 2 September 2021 menjadi hari paling memberatkan bagi seorang promotor tinju Internasional, Zainal Tayeb. Di hari itu, pengusaha sektor pariwisata itu harus menjalani pemeriksaan marathon hingga akhirnya dilakukan penahanan di Polres Badung.

Tuduhannya tidak main-main. Zainal dituduh memasukkan keterangan palsu dalam akta autentik dan penipuan. Satu perbuatan yang menurut Zainal tak ada dalam kamus hidup. Apalagi, yang menuduh menipu adalah keponakannya sendiri, Hedar Giacomo Boy Sam.

Tuduhan Hedar itu terkait dengan kerjasama pengelolaan dan penjualan tanah di Cemagi, Badung, Bali. Zainal selaku pemilik tanah dengan Sertipikat Hak Milik (SHM) mengangkat Hedar sebagai direktur dibawah bendera PT Mirah Bali Property yang sahamnya dimiliki Zainal dan istrinya, Dewi Anggreni. Selaku direktur, Hedar mendapat tugas menjalankan operasional perusahaan, membangun serta menjual perumahan. Kerjasama tertuang dalam akta 33 itu, Zainal  disebut Hedar telah melakukan penipuan terkait luas tanah.

“Saya tidak menipu, ayo kita ukur ulang,” bantah Zainal usai ditetapkan sebagai tersangka 12 April 2021 lalu.  

Keputusan penyidik melakukan penahanan ini membuat shock seluruh keluarga besar Zainal. Pihak kepolisian ibarat memainkan bola pingpong, tidak ada yang memberikan keterangan resmi. Sumber informasi utama ada Kasubag Humas namun hanya sepotong. Polres janji merilis kasus tersebut pada 6 September namun tetap tidak terlaksana.

Anehnya lagi, baru beberapa hari di tanganpenyidik, proses hukum Zainal beralih tanggungjawab ke jaksa di Kejari Badung. Anehnya lagi, sehari kemudian berkas perkara sudah sampai ke PN Denpasar.  Mila Tayeb selaku kordinator tim penasihat hukum terdakwa turut bungkam. Beberapa kali dikonfirmasi wartawan tidak meberikan jawaban.

“Saya no comment,” jawab Mila singkat.

Disisi lain, pihak keluarga ikut kebingungan. Keluarga dekat Zainal memilih diam. Istri Zainal beserta anak-anaknya pun shock. Dia tidak menyangka ayahnya menjadi tahanan. “Saya tidak bisa makan. Tidur di sofa, lantai selama beberapa hari,” tutur Dewi Anggreni atau akrab dipanggil Dewi Tayeb.

Kendati tidak jelas perkaranya, setiap hari Dewi bersama anaknya, Marina, Karina dan Nabila membesuk Zainal di Polres Badung. “Awalnya kita tidak bisa temui bapak, kami hanya titip makanan lewat penjaga,”ungkap Dewi. 

“Kadang kita hanya sampai parkiran depan polres, cukup melihat gedung tempat bapak ditahan saja sudah senang. Kita anggap piknik tiap hari ke kantor polisi,”sambung Karina.

Dewi mengaku bingung atas kasus yang menimpa suaminya. Dia tidak menduga, pelapor yang selama ini sering ke rumah, diberi pekerjaan malah melaporkan suaminya. “Saya yakin suami saya tidak bersalah, tidak menipu seperti dituduhkan,”sebut Dewi.

Wanita kelahiran Buleleng itu berharap majelis hakim yang mengadili perkara suaminya bertindak adil. Ia khawatir bila proses hukum berlarut-larut akan berimbas pada kondisi kesehatan suaminya. Selama ini, Zainal diketahui mengidap penyakit diabetes. Gula darah serta kolesterolnya tidak setabil apalagi berada dalam ruang tahanan yang sempit dengan sirkulasi udara kurang memadai.

“Semoga bapak kuat menghadapi masalah ini, proses hukum cepat selesai. Kami yakin bapak tidak bersalah,”kata Dewi.

Selama dalam proses penyidikan hingga persidangan, Dewi telah mengajukan penangguhan penahanan. Permohonan itu ditolak penyidik termasuk majelis hakim yang mengadilinya. “Kita pasrah saja, semoga bapak baik-baik saja meski setiap hari harus meminum obat sesuai anjuran dokter,”imbuh Dewi.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Hari Kamis tanggal 2 September 2021 menjadi hari paling memberatkan bagi seorang promotor tinju Internasional, Zainal Tayeb. Di hari itu, pengusaha sektor pariwisata itu harus menjalani pemeriksaan marathon hingga akhirnya dilakukan penahanan di Polres Badung.

Tuduhannya tidak main-main. Zainal dituduh memasukkan keterangan palsu dalam akta autentik dan penipuan. Satu perbuatan yang menurut Zainal tak ada dalam kamus hidup. Apalagi, yang menuduh menipu adalah keponakannya sendiri, Hedar Giacomo Boy Sam.

Tuduhan Hedar itu terkait dengan kerjasama pengelolaan dan penjualan tanah di Cemagi, Badung, Bali. Zainal selaku pemilik tanah dengan Sertipikat Hak Milik (SHM) mengangkat Hedar sebagai direktur dibawah bendera PT Mirah Bali Property yang sahamnya dimiliki Zainal dan istrinya, Dewi Anggreni. Selaku direktur, Hedar mendapat tugas menjalankan operasional perusahaan, membangun serta menjual perumahan. Kerjasama tertuang dalam akta 33 itu, Zainal  disebut Hedar telah melakukan penipuan terkait luas tanah.

“Saya tidak menipu, ayo kita ukur ulang,” bantah Zainal usai ditetapkan sebagai tersangka 12 April 2021 lalu.  

Keputusan penyidik melakukan penahanan ini membuat shock seluruh keluarga besar Zainal. Pihak kepolisian ibarat memainkan bola pingpong, tidak ada yang memberikan keterangan resmi. Sumber informasi utama ada Kasubag Humas namun hanya sepotong. Polres janji merilis kasus tersebut pada 6 September namun tetap tidak terlaksana.

Anehnya lagi, baru beberapa hari di tanganpenyidik, proses hukum Zainal beralih tanggungjawab ke jaksa di Kejari Badung. Anehnya lagi, sehari kemudian berkas perkara sudah sampai ke PN Denpasar.  Mila Tayeb selaku kordinator tim penasihat hukum terdakwa turut bungkam. Beberapa kali dikonfirmasi wartawan tidak meberikan jawaban.

“Saya no comment,” jawab Mila singkat.

Disisi lain, pihak keluarga ikut kebingungan. Keluarga dekat Zainal memilih diam. Istri Zainal beserta anak-anaknya pun shock. Dia tidak menyangka ayahnya menjadi tahanan. “Saya tidak bisa makan. Tidur di sofa, lantai selama beberapa hari,” tutur Dewi Anggreni atau akrab dipanggil Dewi Tayeb.

Kendati tidak jelas perkaranya, setiap hari Dewi bersama anaknya, Marina, Karina dan Nabila membesuk Zainal di Polres Badung. “Awalnya kita tidak bisa temui bapak, kami hanya titip makanan lewat penjaga,”ungkap Dewi. 

“Kadang kita hanya sampai parkiran depan polres, cukup melihat gedung tempat bapak ditahan saja sudah senang. Kita anggap piknik tiap hari ke kantor polisi,”sambung Karina.

Dewi mengaku bingung atas kasus yang menimpa suaminya. Dia tidak menduga, pelapor yang selama ini sering ke rumah, diberi pekerjaan malah melaporkan suaminya. “Saya yakin suami saya tidak bersalah, tidak menipu seperti dituduhkan,”sebut Dewi.

Wanita kelahiran Buleleng itu berharap majelis hakim yang mengadili perkara suaminya bertindak adil. Ia khawatir bila proses hukum berlarut-larut akan berimbas pada kondisi kesehatan suaminya. Selama ini, Zainal diketahui mengidap penyakit diabetes. Gula darah serta kolesterolnya tidak setabil apalagi berada dalam ruang tahanan yang sempit dengan sirkulasi udara kurang memadai.

“Semoga bapak kuat menghadapi masalah ini, proses hukum cepat selesai. Kami yakin bapak tidak bersalah,”kata Dewi.

Selama dalam proses penyidikan hingga persidangan, Dewi telah mengajukan penangguhan penahanan. Permohonan itu ditolak penyidik termasuk majelis hakim yang mengadilinya. “Kita pasrah saja, semoga bapak baik-baik saja meski setiap hari harus meminum obat sesuai anjuran dokter,”imbuh Dewi.


Most Read

Artikel Terbaru

/