alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Alpukat Aligator, Hasilkan Buah 1 Ton, Dapat Rp 47 Juta Per Pohon

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mendengar kata alpukat sudah pasti terbayang buah lonjong dengan warna hijau. Bila sudah matang maka warnanya akan berubah menjadi coklat. Biasanya alpukat memiliki diameter seukuran panjang jari kelingking. Namun beda halnya dengan buah alpukat yang ditanam oleh Made Suardana, di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Buah alpukat miliknya sangat besar. Bahkan melebihi ukuran buah alpukat pada umumnya. banyak orang menyebut buah alpukat itu dengan Alpukat Aligator, lantaran porsi buahnya yang berukuran jumbo.

Ditemui di rumahnya, di Desa Sembiran, Made Suardana yang merupakan warga Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan ini menceritakan awal mula ia mendapat bibit alpukat itu. Sembari menghisap rokoknya, Suardana menerawang. Saat itu ia sedang berada di sebuah warung milik kerabatnya. Di warung itu menjual es campur. Lalu ada buah alpukat yang ukurannya tidak biasa. Kemudian ia meminta satu buah kepada kerabatnya tersebut. “Bibit alpukat ini saya dapat minta. Di sini kan ada warung yang jual es campur, terus ada alpukatnya. Penjualnya dapat minta juga dari orang Bondalem. Orang Bondalem itu istri orang Jawa, mungkin bibitnya dari Jawa. Lalu saya minta satu dari dagang es itu,” tuturnya.

Setibanya di rumah, Made Suar lantas menikmati buah alpukat tersebut. Selanjutnya ia berniat untuk menanam biji alpukat itu. Olehnya, biji tersebut diletakkan di samping bak penampungan air yang ada di depan rumahnya. Maksudnya agar ia tak perlu menyirami biji tersebut agar mau tumbuh. Sebab di tempat itu lahannya cukup lembab karena rembesan air dari bak penampungan. “Bijinya saya taruh di samping bak penampungan air. Saya biarin ini. Karena musim panas, di samping bak itu saya taruh biar mau idup. Kalau di samping bak kan ada rembesan air. Agak lembab. Biarin di situ. Sampai sekarang sudah sebesar ini gak pernah saya pindah-pindah,” kata dia.

Hingga kini pohon alpukat itu diperkirakan sudah berumur 30 tahun lebih. Pohonnya menjulang tinggi dengan batang yang kokoh. Ranting-ranting panjangnya menjulur ke halaman rumah bahkan hingga ke jalan. Selain itu masih ada satu phon yang tumbuh di samping rumah. Namun usianya lebih muda. Baru 15 tahun. Dua pohon yang tumbuh murni dari biji itu memiliki buah yang sangat besar. Tidak pernah ada perawatan khusus yang dilakukan Made Suar terhadap pohon-pohon itu. “Yang besar-besar seperti ini ada 2 pohon saja. Yang murni tumbuh dari bijinya. Kalau yang ain banyak, tapi sambungan (stek). Buahnya juga sama, besar-besar. Untuk namanya saya kurang tahu. Saya tidak paham tentang alpukat. Yang penting saya panen, jual dapat uang. Gitu aja. Gak pernah di pupuk atau dirawat macam-macam. Organik semua. Kalau orang bilang sih alpukat alligator. Karena besar,” tandasnya.

Sekali panen, pohon yang memiliki buah yang besar dan lonjong seperti papaya ini pun tak tanggung-tanggung. Pada tahun 2020 lalu, satu pohon mampu menghasilkan buah hingga 1 ton buah alpukat. Menurut Made Suar, di Bali hanya dirinya yang memiliki pohon alpukat dengan buah yang sebesar buah kelapa ini. “Rasanya di Bali cuma saya yang punya alpukat gini. Yang murni tumbuh dari bijinya. Kalau daerah lain banyak. Tapi semuanya sambungan. Tahun lalu hasil panen saya dapat jual Rp 47 juta. Satu pohon. Tahun ini saya gagal karena ada hama mereng. Hasilnya berkurang. Jualannya sekitar Rp 8 juta. Jumlahnya sekitar 6 kuintal dari satu pohon ini. Kalau tidak ada mereng daunnya rimbun sekali. Itu satu pohon,” tuturnya.

Hasil panen dari pohon setinggi kurang lebih 10 meter ini di kirim ke Pulau Jawa. Namun ia belum pernah mengirim hasil panennya ke luar negeri. “Kalau buahnya saya belum kirim ke luar negeri. Hanya sampai ke Jawa saja. Tapi pengepul yang beli mungkin saja pernah di kirim ke luar negeri. Tingginya hampir 10 meter. Dapat patah juga rantingnya karena kebanyakan buah dan besar-besar,” ujarnya. (bersambung)


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mendengar kata alpukat sudah pasti terbayang buah lonjong dengan warna hijau. Bila sudah matang maka warnanya akan berubah menjadi coklat. Biasanya alpukat memiliki diameter seukuran panjang jari kelingking. Namun beda halnya dengan buah alpukat yang ditanam oleh Made Suardana, di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Buah alpukat miliknya sangat besar. Bahkan melebihi ukuran buah alpukat pada umumnya. banyak orang menyebut buah alpukat itu dengan Alpukat Aligator, lantaran porsi buahnya yang berukuran jumbo.

Ditemui di rumahnya, di Desa Sembiran, Made Suardana yang merupakan warga Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan ini menceritakan awal mula ia mendapat bibit alpukat itu. Sembari menghisap rokoknya, Suardana menerawang. Saat itu ia sedang berada di sebuah warung milik kerabatnya. Di warung itu menjual es campur. Lalu ada buah alpukat yang ukurannya tidak biasa. Kemudian ia meminta satu buah kepada kerabatnya tersebut. “Bibit alpukat ini saya dapat minta. Di sini kan ada warung yang jual es campur, terus ada alpukatnya. Penjualnya dapat minta juga dari orang Bondalem. Orang Bondalem itu istri orang Jawa, mungkin bibitnya dari Jawa. Lalu saya minta satu dari dagang es itu,” tuturnya.

Setibanya di rumah, Made Suar lantas menikmati buah alpukat tersebut. Selanjutnya ia berniat untuk menanam biji alpukat itu. Olehnya, biji tersebut diletakkan di samping bak penampungan air yang ada di depan rumahnya. Maksudnya agar ia tak perlu menyirami biji tersebut agar mau tumbuh. Sebab di tempat itu lahannya cukup lembab karena rembesan air dari bak penampungan. “Bijinya saya taruh di samping bak penampungan air. Saya biarin ini. Karena musim panas, di samping bak itu saya taruh biar mau idup. Kalau di samping bak kan ada rembesan air. Agak lembab. Biarin di situ. Sampai sekarang sudah sebesar ini gak pernah saya pindah-pindah,” kata dia.

Hingga kini pohon alpukat itu diperkirakan sudah berumur 30 tahun lebih. Pohonnya menjulang tinggi dengan batang yang kokoh. Ranting-ranting panjangnya menjulur ke halaman rumah bahkan hingga ke jalan. Selain itu masih ada satu phon yang tumbuh di samping rumah. Namun usianya lebih muda. Baru 15 tahun. Dua pohon yang tumbuh murni dari biji itu memiliki buah yang sangat besar. Tidak pernah ada perawatan khusus yang dilakukan Made Suar terhadap pohon-pohon itu. “Yang besar-besar seperti ini ada 2 pohon saja. Yang murni tumbuh dari bijinya. Kalau yang ain banyak, tapi sambungan (stek). Buahnya juga sama, besar-besar. Untuk namanya saya kurang tahu. Saya tidak paham tentang alpukat. Yang penting saya panen, jual dapat uang. Gitu aja. Gak pernah di pupuk atau dirawat macam-macam. Organik semua. Kalau orang bilang sih alpukat alligator. Karena besar,” tandasnya.

Sekali panen, pohon yang memiliki buah yang besar dan lonjong seperti papaya ini pun tak tanggung-tanggung. Pada tahun 2020 lalu, satu pohon mampu menghasilkan buah hingga 1 ton buah alpukat. Menurut Made Suar, di Bali hanya dirinya yang memiliki pohon alpukat dengan buah yang sebesar buah kelapa ini. “Rasanya di Bali cuma saya yang punya alpukat gini. Yang murni tumbuh dari bijinya. Kalau daerah lain banyak. Tapi semuanya sambungan. Tahun lalu hasil panen saya dapat jual Rp 47 juta. Satu pohon. Tahun ini saya gagal karena ada hama mereng. Hasilnya berkurang. Jualannya sekitar Rp 8 juta. Jumlahnya sekitar 6 kuintal dari satu pohon ini. Kalau tidak ada mereng daunnya rimbun sekali. Itu satu pohon,” tuturnya.

Hasil panen dari pohon setinggi kurang lebih 10 meter ini di kirim ke Pulau Jawa. Namun ia belum pernah mengirim hasil panennya ke luar negeri. “Kalau buahnya saya belum kirim ke luar negeri. Hanya sampai ke Jawa saja. Tapi pengepul yang beli mungkin saja pernah di kirim ke luar negeri. Tingginya hampir 10 meter. Dapat patah juga rantingnya karena kebanyakan buah dan besar-besar,” ujarnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/