alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Mengenal Seniman Ngakan Karsa Wijaya, Mencintai Topeng dan Wayang Sejak Belia

GIANYAR, BALI EXPRESS  – Topeng dan wayang merupakan seni yang tak bisa dilepaskan dari Ngakan Made Karsa Wijaya. Seniman asal Banjar Pacung, Kelurahan Bitra, Gianyar, tersebut bahkan telah bergelut didunia seni sejak tahun 1995 silam.

 

Terlahir dari keluarga seniman, Karsa Wijaya merupakan generasi ke-4 dalam keluarga tersebut. Ia pun mulai mencintai seni topeng dan wayang sejak usianya masih belia. Hingga kini, kecintaannya terhadap seni topeng dan wayang tak berubah. ““Saya tamat SMA 1989, lalu sempat merantau. Lalu mencari pengalaman, jadi tahun 1995 sudah mulai mencoba menari di pura,” ungkapnya saat ditemui dikediamannya di Jalan Sawo, Gang Anggrek II Nomor 21 Gianyar.

 

Sejak saat itu, Karsa Wijaya pun mulai ada yang mencari dan meminta jasanya untuk menari. Saking banyaknya yang memintanya untuk menari, ia terkadang harus menari topeng pagi, siang hingga malam. “Terus ada yang mencari. Dulu pernah merasakan laris. Kadang pagi nopeng, siang, malam,” imbuhnya.

 

Tak hanya menari topeng, ia juga menggeluti seni wayang yang hingga saat ini menjadi hobi. Terlebih, sambil mewayang atau nopeng, ia bisa sekaligus refreshing. “Misalkan luas mewayang ke Karangasem, dapat refreshing. Rokok, kopi dapat, macam-macam dapat, apalagi lihat orang banyak, dapat juga. Kan menjadi hobi,” tuturnya.

 

Karena dianggap sudah mumpuni, tak sedikit juga ada orang yang mencari dirinya untuk mengajarkan menari topeng atau menjadi dalang wayang. “Sudah biasa banyak yang mengajarkan. Contoh nyata di Suwat ada yang bisa ngender, disini belajar. Memang dia orang konsisten, tiap hari belajar, tetap datang selama 6 bulan,” imbuh Karsa Wijaya.

 

Selama menggeluti seni topeng dan wayang, menurutnya banyak suka dan duka yang ia lalui. Sukanya, dirinya merasa bangga untuk mengikuti perintah leluhur. Disamping itu ia juga menjadi mendapatkan banyak teman dari berbagai wilayah di Bali maupun di luar Bali sekalipun. Sebab ia tak hanya menari di Bali saja namun juga sempat terbang ke Lombok, Nusa Penida, Pura Semeru di Jawa Timur dan berbagai wilayah lainnya.

 

“Seperti kata leluhur ‘Sing kal mekenta’. Astungkara dengan berkesenian ini saya bisa membuat rumah, anak sukses. Anak pertama tentara, kedua kuliah Sastra Jepang di Undiksa. Itu kebanggaan,” tegasnya.

 

Sedangkan dukanya, kata dia juga tak kalah banyak. Diantaranya ada orang yang meminton secara sekala. “Orang tidak tahu, damar dikasih lengis bekas mebat, sigin damar dulu kapas, sekarang sigin kompor dipakai kadang sigin kompor sekarang plastik, dikira ada yang mintonin, ternyata plastik tidak bisa hidup, itu di Angkling pernah seperti itu,” ujarnya.

 

Sedangkan saat ini menurutnya minat generasi muda untuk belajar seni topeng atau wayang cukup banyak. Meskipun mereka ingin belajar untuk bisa sekedar bisa aja, bukan untuk menjadi seniman. Dan belakangan ini meskipun banyak seniman yang muncul, ia tetap berkesenian dengan mempertahankan taksu. “Taksu adalah pican Ida Batara. Jadi biarkan beliau mengatur,” ujarnya.

 

Terakhir, ia berpesan kepada generasi muda untuk senantiasa menjaga pakem dalam berkesenian. “Harus dipegang erat, pakai pakem kita. Misalnya ngewayang ngender, ngigel, mekekawin. Karena kalau mekekawin di wayang ada bahasa Kawi, kalau tidak tahu mekawin, banyak cerita misalnya Bharata Yuda pakai bahasa Kawi,” tandasnya.


GIANYAR, BALI EXPRESS  – Topeng dan wayang merupakan seni yang tak bisa dilepaskan dari Ngakan Made Karsa Wijaya. Seniman asal Banjar Pacung, Kelurahan Bitra, Gianyar, tersebut bahkan telah bergelut didunia seni sejak tahun 1995 silam.

 

Terlahir dari keluarga seniman, Karsa Wijaya merupakan generasi ke-4 dalam keluarga tersebut. Ia pun mulai mencintai seni topeng dan wayang sejak usianya masih belia. Hingga kini, kecintaannya terhadap seni topeng dan wayang tak berubah. ““Saya tamat SMA 1989, lalu sempat merantau. Lalu mencari pengalaman, jadi tahun 1995 sudah mulai mencoba menari di pura,” ungkapnya saat ditemui dikediamannya di Jalan Sawo, Gang Anggrek II Nomor 21 Gianyar.

 

Sejak saat itu, Karsa Wijaya pun mulai ada yang mencari dan meminta jasanya untuk menari. Saking banyaknya yang memintanya untuk menari, ia terkadang harus menari topeng pagi, siang hingga malam. “Terus ada yang mencari. Dulu pernah merasakan laris. Kadang pagi nopeng, siang, malam,” imbuhnya.

 

Tak hanya menari topeng, ia juga menggeluti seni wayang yang hingga saat ini menjadi hobi. Terlebih, sambil mewayang atau nopeng, ia bisa sekaligus refreshing. “Misalkan luas mewayang ke Karangasem, dapat refreshing. Rokok, kopi dapat, macam-macam dapat, apalagi lihat orang banyak, dapat juga. Kan menjadi hobi,” tuturnya.

 

Karena dianggap sudah mumpuni, tak sedikit juga ada orang yang mencari dirinya untuk mengajarkan menari topeng atau menjadi dalang wayang. “Sudah biasa banyak yang mengajarkan. Contoh nyata di Suwat ada yang bisa ngender, disini belajar. Memang dia orang konsisten, tiap hari belajar, tetap datang selama 6 bulan,” imbuh Karsa Wijaya.

 

Selama menggeluti seni topeng dan wayang, menurutnya banyak suka dan duka yang ia lalui. Sukanya, dirinya merasa bangga untuk mengikuti perintah leluhur. Disamping itu ia juga menjadi mendapatkan banyak teman dari berbagai wilayah di Bali maupun di luar Bali sekalipun. Sebab ia tak hanya menari di Bali saja namun juga sempat terbang ke Lombok, Nusa Penida, Pura Semeru di Jawa Timur dan berbagai wilayah lainnya.

 

“Seperti kata leluhur ‘Sing kal mekenta’. Astungkara dengan berkesenian ini saya bisa membuat rumah, anak sukses. Anak pertama tentara, kedua kuliah Sastra Jepang di Undiksa. Itu kebanggaan,” tegasnya.

 

Sedangkan dukanya, kata dia juga tak kalah banyak. Diantaranya ada orang yang meminton secara sekala. “Orang tidak tahu, damar dikasih lengis bekas mebat, sigin damar dulu kapas, sekarang sigin kompor dipakai kadang sigin kompor sekarang plastik, dikira ada yang mintonin, ternyata plastik tidak bisa hidup, itu di Angkling pernah seperti itu,” ujarnya.

 

Sedangkan saat ini menurutnya minat generasi muda untuk belajar seni topeng atau wayang cukup banyak. Meskipun mereka ingin belajar untuk bisa sekedar bisa aja, bukan untuk menjadi seniman. Dan belakangan ini meskipun banyak seniman yang muncul, ia tetap berkesenian dengan mempertahankan taksu. “Taksu adalah pican Ida Batara. Jadi biarkan beliau mengatur,” ujarnya.

 

Terakhir, ia berpesan kepada generasi muda untuk senantiasa menjaga pakem dalam berkesenian. “Harus dipegang erat, pakai pakem kita. Misalnya ngewayang ngender, ngigel, mekekawin. Karena kalau mekekawin di wayang ada bahasa Kawi, kalau tidak tahu mekawin, banyak cerita misalnya Bharata Yuda pakai bahasa Kawi,” tandasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/