alexametrics
28.7 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Asal-usul Badarawuhi: Ratna Nareh Tantang Penghuni Alas Danda (Bagian Ke-4)

Mendengar cerita kematian Lurah Macan Sikep oleh ilmu Pangiwa yang dimiliki Ratna Nareh, bulu kuduk Surologo sontak berdiri. Sebagian hatinya menyuruhnya pergi dari desa aneh itu. Namun hatinya yang lain bak menggenggam kedua kakinya untuk bertahan hingga teka-teki hilangnya Pasukan Pasuruan terjawab.

Ki Lurah Singoranu kembali melanjutkan ceritanya. Ratna Nareh yang baru satu malam datang ke desanya sudah mampu membuat seluruh masyarakat  merasa tertekan dengan peristiwa tewasnya Macan Sikep secara mengenaskan. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa karena letak desa begitu terpencil sehingga menyulitkan berhubungan dengan dunia luar. Meski jumlah penduduk lebih banyak, namun tak satu pun warga yang berani melawannya. Ini membuat Ratna Nareh semakin berkuasa. Tak ada di benak penduduk Wonontoro yang berniat membantah perintah Ratna Nareh.

Lurah Singoranu kembali melanjutkan ceritanya. Sejak saat itu, Ratna Nareh berubah menjadi raja. Penduduk laki-laki dipaksa menanam makanan kegemarannya, sementara para wanita disuruh memasak makanan enak-enak. Padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka saja tidak bisa, akan tetapi Ratna Nareh tidak peduli.

Baca Juga :  Kocak! Lucinta Luna Ikuti Tarian Badarawuhi

Ketika ingin jalan-jalan, Ratna Nareh meminta penduduk menandunya. Hingga suatu saat ia melihat janur dan kain merah di Sanggar Pamujan. Setelah mendapat informasi dari penandunya, bahwa itu adalah penanda larangan masuk Alas Danda, Ratna Nareh justru meremehkan dan menyuruh untuk membuangnya saja.

Menggunakan lontar yang ditulis oleh gurunya Dayu Datuk Nateng Girah, Ratna Nareh memaksa merekrut para perempuan untuk dijadikan muridnya. Ia kemudian mengajarkan  murid-muridnya ilmu Pangiwa. Mantram kuno yang bersifat kerohanian yang berkembang sejak masa Sriwijaya hingga Singasari dan dianut oleh raja-raja, disesatkan oleh Calonarang hingga condong menjadi Aji Wegig atau ilmu hitam tingkat tinggi. Ajaran Aji Wegig inilah yang digunakan oleh Ratna Nareh untuk mencuci otak murid-muridnya dan meracuninya dengan pemahaman-pemahaman menyeleweng.

Suatu malam bertepatan dengan Anggoro Kasih, Ratna Nareh memerintahkan muridnya untuk mengumpulkan seluruh penduduk di Sanggar Pamujan. Mereka dipaksa membuat tetabuhan bagi para lelaki, sementara para gadis dipaksa untuk menari. Ini hal yang tak sepantasnya dilalukan. Sanggar Pamujan seharusnya digunakan untuk memuja Tuhan, bukan untuk melakukan pertunjukkan.

Baca Juga :  Baruna Murthi, Kolaborasi Drama Calonarang Sekaligus Macaru

Desa Wonontoro telah lama sekali tidak menggelar pertunjukan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dikarenakan setiap ada pertunjukan, para penunggu Alas Danda akan datang untuk menyaksikan. Jika pertunjukan usai, penghuni Alas Danda akan membawa sukma salah satu penari untuk dijadikan penari di sana. Itu artinya akan ada kematian yang terjadi.

Mengetahui hal ini, Ratna Nareh meremehkan larangan itu dan tetap nekat menggelar pertunjukan. Ia dengan tegas mengatakan akan menunggu penghuni Alas Danda datang. Dengan jumawa ia berkata, jika makhluk gaib itu berniat mengambil sukma salah satu penarinya, maka Alas Danda akan diobrak-abriknya.






Reporter: Wiwin Meliana

Mendengar cerita kematian Lurah Macan Sikep oleh ilmu Pangiwa yang dimiliki Ratna Nareh, bulu kuduk Surologo sontak berdiri. Sebagian hatinya menyuruhnya pergi dari desa aneh itu. Namun hatinya yang lain bak menggenggam kedua kakinya untuk bertahan hingga teka-teki hilangnya Pasukan Pasuruan terjawab.

Ki Lurah Singoranu kembali melanjutkan ceritanya. Ratna Nareh yang baru satu malam datang ke desanya sudah mampu membuat seluruh masyarakat  merasa tertekan dengan peristiwa tewasnya Macan Sikep secara mengenaskan. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa karena letak desa begitu terpencil sehingga menyulitkan berhubungan dengan dunia luar. Meski jumlah penduduk lebih banyak, namun tak satu pun warga yang berani melawannya. Ini membuat Ratna Nareh semakin berkuasa. Tak ada di benak penduduk Wonontoro yang berniat membantah perintah Ratna Nareh.

Lurah Singoranu kembali melanjutkan ceritanya. Sejak saat itu, Ratna Nareh berubah menjadi raja. Penduduk laki-laki dipaksa menanam makanan kegemarannya, sementara para wanita disuruh memasak makanan enak-enak. Padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka saja tidak bisa, akan tetapi Ratna Nareh tidak peduli.

Baca Juga :  Asal-usul Badarawuhi dan Kisah Rangda Nateng Girah (Bagian Ke-1)

Ketika ingin jalan-jalan, Ratna Nareh meminta penduduk menandunya. Hingga suatu saat ia melihat janur dan kain merah di Sanggar Pamujan. Setelah mendapat informasi dari penandunya, bahwa itu adalah penanda larangan masuk Alas Danda, Ratna Nareh justru meremehkan dan menyuruh untuk membuangnya saja.

Menggunakan lontar yang ditulis oleh gurunya Dayu Datuk Nateng Girah, Ratna Nareh memaksa merekrut para perempuan untuk dijadikan muridnya. Ia kemudian mengajarkan  murid-muridnya ilmu Pangiwa. Mantram kuno yang bersifat kerohanian yang berkembang sejak masa Sriwijaya hingga Singasari dan dianut oleh raja-raja, disesatkan oleh Calonarang hingga condong menjadi Aji Wegig atau ilmu hitam tingkat tinggi. Ajaran Aji Wegig inilah yang digunakan oleh Ratna Nareh untuk mencuci otak murid-muridnya dan meracuninya dengan pemahaman-pemahaman menyeleweng.

Suatu malam bertepatan dengan Anggoro Kasih, Ratna Nareh memerintahkan muridnya untuk mengumpulkan seluruh penduduk di Sanggar Pamujan. Mereka dipaksa membuat tetabuhan bagi para lelaki, sementara para gadis dipaksa untuk menari. Ini hal yang tak sepantasnya dilalukan. Sanggar Pamujan seharusnya digunakan untuk memuja Tuhan, bukan untuk melakukan pertunjukkan.

Baca Juga :  Film Leak; Penampakan Terekam Kamera, Ary Kakul Takut Jalan Sendiri

Desa Wonontoro telah lama sekali tidak menggelar pertunjukan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dikarenakan setiap ada pertunjukan, para penunggu Alas Danda akan datang untuk menyaksikan. Jika pertunjukan usai, penghuni Alas Danda akan membawa sukma salah satu penari untuk dijadikan penari di sana. Itu artinya akan ada kematian yang terjadi.

Mengetahui hal ini, Ratna Nareh meremehkan larangan itu dan tetap nekat menggelar pertunjukan. Ia dengan tegas mengatakan akan menunggu penghuni Alas Danda datang. Dengan jumawa ia berkata, jika makhluk gaib itu berniat mengambil sukma salah satu penarinya, maka Alas Danda akan diobrak-abriknya.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/