alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Ngeri Ada Sindrom Nefrotik, Sakit Ginjal Usia Muda

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sakit ginjal saat ini tidak saja menyerang mereka yamg berusia lansia, namun penyakit ginjal juga bisa dialami oleh mereka yabg berusia produktif bahkan anak-anak. Penyebabnya juga beragam, salah satunya adalah sindrom nefrotik.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Sanglah, dr. Gede Wira Mahadita, M. Biomed, Sp.PD., menjelaskan sindrom nefrotik adalah gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urin. “Sindrom ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada kluster pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi menyaring limbah dan kelebihan air dari darah,” jelasnya.

Sindrom nefrotik menyebabkan pembengkakan (edema), terutama di kaki dan pergelangan kaki, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya. Selain itu, sindrom nefrotik biasanya disebabkan oleh kerusakan pada kluster pembuluh darah kecil (glomeruli) ginjal.

Glomeruli menyaring darah saat melewati ginjal, memisahkan hal-hal yang dibutuhkan tubuh. Glomeruli yang sehat menjaga protein darah (terutama albumin) yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah cairan yang tepat dalam tubuh agar tidak bercampur ke dalam urin. Ketika rusak, glomeruli ini dilanjutkan dr. Wira menyebabkan terlalu banyak protein masuk ke dalam darah. 

Baca Juga :  Pria Gangguan Jiwa di Bangli Racuni Ayah dan Ibunya

Penyebab kerusakan glomerulus dan menyebabkan sindrom nefrotik dikatakan dr. Wira ada beberapa faktor. “Salah satunya adalah penyakit diabetes, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal (nefropati diabetik) yang mempengaruhi glomeruli,” lanjutnya. 

Selain diabetes, kerusakan glomeruli juga bisa disebabkan oleh proses penebalan selaput dalam glomeruli. Penyebab penebalan tidak diketahui pasti, tetapi kadang dikaitkan dengan kondisi medis lainnya, seperti hepatitis B, malaria, lupus dan kanker.

Sindrom neofrotik ini, menurut dr. Wira bisa dialami oleh siapa saja, namun 60 persen lebih banyak terjadi pada pria daripada pada wanita. “Sedangkan pada anak-anak, biasnya sindrom ini memang sudah dialami sejak usia bayi dan biasnya terditeksi pada ysia 2-6 tahun,” tambahnya. 

Untuk gejalanya sendiri, dr. Wira mengakui cukup sulit diketahui, karena harus melalui pemeriksaan yang cukup, salah satunya adalah test darah. Namun demikian ada beberapa tanda dari sindrom nefrotik, yakni pembengkakan kaki, bahkan pembengkakan wajah dan tangan, berat badan bertambah, sering merasa lelah, urin berbusa atau berbuih, dan tidak merasa lapar.

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sakit ginjal saat ini tidak saja menyerang mereka yamg berusia lansia, namun penyakit ginjal juga bisa dialami oleh mereka yabg berusia produktif bahkan anak-anak. Penyebabnya juga beragam, salah satunya adalah sindrom nefrotik.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Sanglah, dr. Gede Wira Mahadita, M. Biomed, Sp.PD., menjelaskan sindrom nefrotik adalah gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urin. “Sindrom ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada kluster pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi menyaring limbah dan kelebihan air dari darah,” jelasnya.

Sindrom nefrotik menyebabkan pembengkakan (edema), terutama di kaki dan pergelangan kaki, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya. Selain itu, sindrom nefrotik biasanya disebabkan oleh kerusakan pada kluster pembuluh darah kecil (glomeruli) ginjal.

Glomeruli menyaring darah saat melewati ginjal, memisahkan hal-hal yang dibutuhkan tubuh. Glomeruli yang sehat menjaga protein darah (terutama albumin) yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah cairan yang tepat dalam tubuh agar tidak bercampur ke dalam urin. Ketika rusak, glomeruli ini dilanjutkan dr. Wira menyebabkan terlalu banyak protein masuk ke dalam darah. 

Baca Juga :  Kanker Ovarium, Rentan Saat Menginjak Usia 45 Tahun

Penyebab kerusakan glomerulus dan menyebabkan sindrom nefrotik dikatakan dr. Wira ada beberapa faktor. “Salah satunya adalah penyakit diabetes, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal (nefropati diabetik) yang mempengaruhi glomeruli,” lanjutnya. 

Selain diabetes, kerusakan glomeruli juga bisa disebabkan oleh proses penebalan selaput dalam glomeruli. Penyebab penebalan tidak diketahui pasti, tetapi kadang dikaitkan dengan kondisi medis lainnya, seperti hepatitis B, malaria, lupus dan kanker.

Sindrom neofrotik ini, menurut dr. Wira bisa dialami oleh siapa saja, namun 60 persen lebih banyak terjadi pada pria daripada pada wanita. “Sedangkan pada anak-anak, biasnya sindrom ini memang sudah dialami sejak usia bayi dan biasnya terditeksi pada ysia 2-6 tahun,” tambahnya. 

Untuk gejalanya sendiri, dr. Wira mengakui cukup sulit diketahui, karena harus melalui pemeriksaan yang cukup, salah satunya adalah test darah. Namun demikian ada beberapa tanda dari sindrom nefrotik, yakni pembengkakan kaki, bahkan pembengkakan wajah dan tangan, berat badan bertambah, sering merasa lelah, urin berbusa atau berbuih, dan tidak merasa lapar.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru