Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mendengar Curhat Para Penunggu Pasien di RS Sanglah

I Putu Suyatra • Senin, 6 Agustus 2018 | 18:41 WIB
Ini Mendengar Curhat Para Penunggu Pasien di RS Sanglah
Ini Mendengar Curhat Para Penunggu Pasien di RS Sanglah

BALI EXPRESS, DENPASAR - Para penunggu pasien di rumah sakit harus benar-benar sabar. Selain harus rela capek dan begadang, waktu tersita, tak sedikit harus keluar duit.


Jika di tempat - tempat publik saja seperti lapangan olah raga bisa dipasang sumber air minum gratis, mengapa di rumah sakit pemerintah tidak. Begitulah kira - kira isi pikiran sejumlah penunggu pasien di RSU Sanglah saat ditemui koran ini beberapa waktu lalu di depan Ruang ICU RSU Sanglah.


Pasalnya mereka merasa bertambah beban lantaran selain keluarganya sakit, air minum pun menjadi kebutuhan pokok. Yang notabene harus membeli air bersih untuk minum, tak cukup sebotol dua botol. Lebih miris lagi, banyak pasien dan penunggu pasien yang berasal dari luar Bali dan tidak memiliki tempat tinggal sementara.


"Ya kenapa enggak. Ini rumah sakit pemerintah. Sebagai layanan publik katanya. Untuk kesejahteraan masyarakatnya bukankah lebih baik begitu. Di beberapa tempat publik aja ada," terang pria yang namanya enggan disebut ini.


Sumber menjabarkan bahwa gajinya kerja sehari pun tak cukup untuk membiayai kebutuhan penunggu. Belum lagi jika pasien menginginkan sesuatu. Ia juga yakin hal ini pun dialami para penunggu pasien lainnya. Pihaknya merinci bahwa untuk menekan pengeluaran hanya membeli 2 botol air mineral kemasan 1500 mililiter saja untuk 24 jam.


"Harusnya lebih diringankan beban penunggu pasien. Untuk masalah air minum dululah. Adanya layanan gratis seperti di lapangan umum paling tidak 2 atau 3 titik saja. Dirumah sakit sebesar ini. Biar nggak ditempat olah raga saja. Karena ini sangat membantu kami," terangnya kemarin.


Dalam sehari saja pria asal Gianyar ini menyampaikan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 50 sampai Rp 60 ribu pe rharinya hanya untuk menunggu keluarganya yang sakit. Biaya tersebut pun sudah termasuk tiket parkir wara - wirinya masuk RS Sanglah. Sedangkan gajinya bekerja hanya kisaran Rp 50 ribu sehari.


"Heran saja kami di sini ini menunggu keluarga yang sakit. Rumah sakit juga milik pemerintah. Tapi semuanya serba bayar, termasuk parkir kendaraan. Jujur beban kami bertambah," ungkapnya.


Sementara itu penunggu pasien lainnya pun juga mengiyakan. Seorang wanita asal Jawa Barat yang bernama Rahayu merasa sangat perlu sumber air minum gratis ini di kawasan rumah sakit. Lantaran dalam sehari dia rutin membeli paling tidak 4 botol air minum ukuran tanggung. Jadi, sekitar Rp 280 ribu yang harus dikeluarkan saat menunggu keluarganya selama dua minggu di rawat di rumah sakit. "Pertama pasti menunggu itu haus. Sementara tempat membeli air dengan jarak rumah sakit jauh. Seandainya ada penyediaan kan kami sangat terbantu. Juga dapat mengurangi uang jajan. Jujur saja membawa uang Rp 10 ribu ke rumah sakit itu minimal banget," jelasnya.


Pihaknya berharap, setidaknya pemerintah akan terbuka untuk mempertimbangkan ini. "Supaya untuk urusan air minum bisa ngerem beli. Karena nggak ada pemasukan juga, kami kan nunggu jadi nggak kerja," ungkapnya.


Sementara itu pihak Kasubag Bagian Penyebaran Informasi Humas Pemprov Bali I Ketut Yadnya Winarta saat dihubungi menyampaikan bahwa untuk kewenangan tersebut milik pemerintah pusat, bukan provinsi. 

Editor : I Putu Suyatra
#denpasar