alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Dihadang Gerimis, Tiga Duta Seni Lomba Baleganjur Tetap Tampil Maksimal

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lomba Baleganjur Remaja memang selalu menjadi salah satu primadona yang dinanti masyarakat di setiap ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Tak peduli cuaca yang tak mendukung, ribuan masyarakat tetap setia menanti para wakil daerah untuk beratraksi di atas panggung.

Cuaca kurang stabil terjadi saat Lomba Baleganjur Remaja PKB XLIV Tahun 2022 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Selasa (14/6) malam.

Perlombaan sempat diundur 30 menit dari jadwal, karena cuaca yang kurang bersahabat. Meski pada akhirnya gerimis dan kilatan cahaya di langit tetap bermunculan selama perlombaan.

Pada lomba Selasa malam, ada tiga duta daerah yang tampil, yakni Sanggar Chandra Nada Yowana Desa Adat Padang Tegal, Ubud sebagai duta Gianyar. Komunitas Budaya Sanggar Seni Baswaram Desa Adat Semarapura, sebagai duta Klungkung, dan Komunitas Seni Dwaja Ancala Banjar Dinas Pegubungan, Desa Duda, sebagai duta Karangasem.

Tampil pertama, duta Gianyar yang membawakan garapan berjudul WOS (Wave of Springs). Garapan ini menceritakan WOS adalah sebuah sungai suci yang membentang dari hulu wilayah Ubud, juga merupakan sebuah akronim dari penciptaan karya yang berjudul Wave of Spring.

Garapan ini mengacu pada pengolahan sumber gelombang air, dan arah penciptaanya berpijak pada transformasi tematik tetesan, aliran, percikan, gelembung, dan gelombang air menjadi bunyi-bunyi teratur dalam bingkai komposisi dengan media gamelan baleganjur.

Sedangkan duta Klungkung yang diwakili Komunitas Budaya Sanggar Seni Baswaram membawakan garapan berjudul Bulak Bangsing yang bukan hanya perpaduan dua kata untuk bertemu makna.

Bulak Bangsing adalah inspirasi semesta atas sradha anak manusia, sebagai pemantik lahirnya fibrasi energi melodi, yang terangkai dalam kemasan gending baleganjur.

Bulak berarti genangan mata air, dan Bangsing selain berarti juntaian akar yang keluar dari ranting pohon, juga merujuk kepada kemuliaan kesucian bagian Dasaksara, Bang dan Sing.

Sementara duta Karangasem yang diwakili Komunitas Seni Dwaja Ancala mengangkat sebuah tradisi yang unik yang menggambarkan tema PKB tahun ini yakni ritual Makekobok.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lomba Baleganjur Remaja memang selalu menjadi salah satu primadona yang dinanti masyarakat di setiap ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Tak peduli cuaca yang tak mendukung, ribuan masyarakat tetap setia menanti para wakil daerah untuk beratraksi di atas panggung.

Cuaca kurang stabil terjadi saat Lomba Baleganjur Remaja PKB XLIV Tahun 2022 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Selasa (14/6) malam.

Perlombaan sempat diundur 30 menit dari jadwal, karena cuaca yang kurang bersahabat. Meski pada akhirnya gerimis dan kilatan cahaya di langit tetap bermunculan selama perlombaan.

Pada lomba Selasa malam, ada tiga duta daerah yang tampil, yakni Sanggar Chandra Nada Yowana Desa Adat Padang Tegal, Ubud sebagai duta Gianyar. Komunitas Budaya Sanggar Seni Baswaram Desa Adat Semarapura, sebagai duta Klungkung, dan Komunitas Seni Dwaja Ancala Banjar Dinas Pegubungan, Desa Duda, sebagai duta Karangasem.

Tampil pertama, duta Gianyar yang membawakan garapan berjudul WOS (Wave of Springs). Garapan ini menceritakan WOS adalah sebuah sungai suci yang membentang dari hulu wilayah Ubud, juga merupakan sebuah akronim dari penciptaan karya yang berjudul Wave of Spring.

Garapan ini mengacu pada pengolahan sumber gelombang air, dan arah penciptaanya berpijak pada transformasi tematik tetesan, aliran, percikan, gelembung, dan gelombang air menjadi bunyi-bunyi teratur dalam bingkai komposisi dengan media gamelan baleganjur.

Sedangkan duta Klungkung yang diwakili Komunitas Budaya Sanggar Seni Baswaram membawakan garapan berjudul Bulak Bangsing yang bukan hanya perpaduan dua kata untuk bertemu makna.

Bulak Bangsing adalah inspirasi semesta atas sradha anak manusia, sebagai pemantik lahirnya fibrasi energi melodi, yang terangkai dalam kemasan gending baleganjur.

Bulak berarti genangan mata air, dan Bangsing selain berarti juntaian akar yang keluar dari ranting pohon, juga merujuk kepada kemuliaan kesucian bagian Dasaksara, Bang dan Sing.

Sementara duta Karangasem yang diwakili Komunitas Seni Dwaja Ancala mengangkat sebuah tradisi yang unik yang menggambarkan tema PKB tahun ini yakni ritual Makekobok.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/