alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, January 26, 2022

Spirit Artefak Nusantara, Pertemukan Ide, Gagasan dan Olah Seni

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Batu Belah Art Space di Desa Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung gelar karya dan diskusi seni “Spirit Artefak Nusantara”, Senin (18/10). Kegiatan ini melibatkan sejumlah seniman untuk mempertemukan ide, gagasan dan olah seni.

Semula akan diikuti tiga seniman, yaitu pegiat seni dan lingkungan dengan pendekatan spiritual-meditatif Iwan Wijono, penari kontemporer Tebo Umbara, dan perupa Made Kaek Susila. Kemudian bertambah kehadiran Pandu, I Kadek Dedy Samantha, Ketut Sugantika Lekung, dan seniman lainnya.

Pertunjukan dimulai sekitar 09.00 sampai pukul 18.00 ini menghasilkan beberapa pertunjukan atas reaksi konsep yang didapatkan melalui riset mendalam di tiga artefak ritus yang dilakukan sehari sebelumnya. Seperti ke Candi Gunung Kawi, relief Yeh Pulu serta Kertha Gosa.

Founder Batu Belah Art Space I Wayan Sujana Suklu mengatakan, napak tilas ke tiga tempat tersebut dalam upaya menangkap energi masa lampau di Bali yang dinilai memiliki konsep luar biasa dan jarang diangkat menjadi seni pertunjukan. “Ideologi kami di Batu Belah Art Space adalah bagaimana penciptaan karya seni itu berangkat dari konsep lokal,” ujar Suklu.

Baca Juga :  Menjelajah Gugusan Energi Alam Batin Putu Wirantawan

Pertunjukan diawali oleh Made Kaek dengan demo lukis di atas pelat. Lanjut performance (pertunjukan) dari penari kontemporer, Tebo Umbara dengan “Manah-memanah”, Kadek Dedy Samantha menghadirkan “Dharma” dan penampilan seniman lainnya.

Suklu mengatakan, hasil performance itu selanjutnya menjadi rekomendasi pengetahuan sebagai proses kebudayaan yang terus berproses. “Selanjutnya merancang konsep-konsep menjadi activity aksi sosial yang bermanfaat di kemudian hari,” terang dosen ISI Denpasar ini.

Lebih lanjut seniman asal Desa Lepang ini menegaskan bahwa Batu Belah Art Space secara rutin menjalankan aktivitas seni. Bisa sampai enam kali dalam setahun. Seperti seni pertunjukan, workshop, festival dan lainnya. Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan. “Event jangka pendek kami juga punya komunitas patung padas,” tandas Suklu.

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS- Batu Belah Art Space di Desa Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung gelar karya dan diskusi seni “Spirit Artefak Nusantara”, Senin (18/10). Kegiatan ini melibatkan sejumlah seniman untuk mempertemukan ide, gagasan dan olah seni.

Semula akan diikuti tiga seniman, yaitu pegiat seni dan lingkungan dengan pendekatan spiritual-meditatif Iwan Wijono, penari kontemporer Tebo Umbara, dan perupa Made Kaek Susila. Kemudian bertambah kehadiran Pandu, I Kadek Dedy Samantha, Ketut Sugantika Lekung, dan seniman lainnya.

Pertunjukan dimulai sekitar 09.00 sampai pukul 18.00 ini menghasilkan beberapa pertunjukan atas reaksi konsep yang didapatkan melalui riset mendalam di tiga artefak ritus yang dilakukan sehari sebelumnya. Seperti ke Candi Gunung Kawi, relief Yeh Pulu serta Kertha Gosa.

Founder Batu Belah Art Space I Wayan Sujana Suklu mengatakan, napak tilas ke tiga tempat tersebut dalam upaya menangkap energi masa lampau di Bali yang dinilai memiliki konsep luar biasa dan jarang diangkat menjadi seni pertunjukan. “Ideologi kami di Batu Belah Art Space adalah bagaimana penciptaan karya seni itu berangkat dari konsep lokal,” ujar Suklu.

Baca Juga :  DJ Jade Rasif Getarkan Sky Garden

Pertunjukan diawali oleh Made Kaek dengan demo lukis di atas pelat. Lanjut performance (pertunjukan) dari penari kontemporer, Tebo Umbara dengan “Manah-memanah”, Kadek Dedy Samantha menghadirkan “Dharma” dan penampilan seniman lainnya.

Suklu mengatakan, hasil performance itu selanjutnya menjadi rekomendasi pengetahuan sebagai proses kebudayaan yang terus berproses. “Selanjutnya merancang konsep-konsep menjadi activity aksi sosial yang bermanfaat di kemudian hari,” terang dosen ISI Denpasar ini.

Lebih lanjut seniman asal Desa Lepang ini menegaskan bahwa Batu Belah Art Space secara rutin menjalankan aktivitas seni. Bisa sampai enam kali dalam setahun. Seperti seni pertunjukan, workshop, festival dan lainnya. Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan. “Event jangka pendek kami juga punya komunitas patung padas,” tandas Suklu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru