28.7 C
Denpasar
Thursday, June 8, 2023

DJ La Nina, Kucing-Kucingan nge-DJ

DENPASAR, BALI EXPRESS – Disk Jockey (DJ) La Nina sudah mencintai dunia musik sejak kecil. Ia dikenali berbagai macam alat musik tradisional oleh sang kakek. Hingga pada SMA, dara bernama lengkap Linda Esty Ningtyas ini tertarik pada profesi DJ dan mulai belajar DJ pada tahun 2017 melalui virtual. Kemudian pada tahun 2018 DJ La Nina mulai mengikuti kursus di Pro DJ School Bali dan fokus pada aliran techno. Hingga saat ini, dirinya sudah manggung ke luar wilayah Bali seperti Surabaya dan Gili Trawangan.

DJ La Nina mengungkapkan, sejatinya dari pihak keluarga melarang ia menggeluti profesi DJ. Sebab, di tanah kelahirannya, DJ dinilai sebagai profesi yang kurang baik. “Jadi saya diem-diem, kucing-kucingan nge-DJ, tapi sekarang mau tidak mau mereka menerima. Karena saya di Bali survive sendiri, cari uang sendiri untuk biaya kuliah dan lain-lain. Tapi dari keluarga menekankan, agar setelah lulus kuliah bisa mencari pekerjaan pasti,” katanya saat diwawancara Minggu (22/8).

Melalui pekerjaannya sebagai DJ, perempuan kelahiran Blitar 29 Februari 1996 ini mengaku memiliki banyak teman. Disamping itu, ia juga bisa menyalurkan hobi serta passionnya dalam hal bermusik. “Dukanya, karena saya naiknya baru-baru saat pandemi, jadi bajet itu masih low banget. Saya banyak nolak klub-klub karena bajetnya tidak sesuai,” katanya.

Baca Juga :  Ririn Dwi Ariyanti Putus Hubungan dengan Anak

Berprofesi yang identik dengan dunia malam, tentu membuatnya tidak lepas dari cemoohan orang-orang di sekitar. Bahkan kalimat buruk ia terima dari saudara-saudaranya sendiri. “(Dibilangnya) pekerjaannya jelek tuh, ada yang bilang haramlah. Tapi karena saya orangnya cuek, jadi saya tidak ambil pusing. Mereka kan tidak mengalami apa yang saya alami,” ungkap mahasiswi aktif Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana ini.

Kendati demikian, tak lantas membuat DJ La Nina mengikuti pergaulan buruk yang sering dicap masyarakat. Seperti halnya merokok atau mengonsumsi obat-obatan terlarang. “Minum pun saya jarang, sekadar menghormati dan menghargai klub yang menawarkan job. Saya akui pressurenya keras dari lingkungan sekitar, tapi saya punya prinsip, jadi tidak sampai terpengaruh,” katanya yang kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Disamping itu, hal tak mengenakkan juga datang dari dunia maya. Tak jarang, ia menerima direct message (DM) di Instagram berupa tawaran booking order (BO) dari sejumlah orang tak dikenal. Sejumlah pesan tersebut menawarkan harga yang beragam, bahkan ada pesan dari bule yang menawarkan Rp 20 juta. “Ada banyak yang ngirim pesan begitu, tapi tidak saya tanggapi. Pernah ada bule yang nawarin sampai Rp 20 juta, saya sudah nolak, tapi dia maksa terus, saya tetap tidak mau,” tuturnya.

Baca Juga :  Weda Dawsky Jalani Hobi yang Dibayar

Sementara itu, untuk tarifnya manggung di klub lokal, normalnya ia mematok Rp 500 ribu. Untuk day club, private party, minimal seharga Rp 2 juta. Sedangkan untuk acara long trip di luar Bali, dirinya memasang tarif Rp 5 juta. “(Harga) Ini di luar akomodasi. Kalau pandemi ada penurunan, karena klub-klub banyak yang tutup. Sebelum pandemi saya mainnya di hotel-hotel, di beach bar, semenjak pandemi berkurang,” katanya.

Selain nge-DJ, untuk menambah pundi-pundi uangnya, juga menerima endors dan belakangan nyambi sebagai foto model. Ia juga menggarap bisnis makanan bersama rekannya. “Saya berharap pandemi segera berakhir, agar pariwisata bangkit kembali. Klub-klub bisa buka, kami para DJ bisa main lagi,” tutupnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Disk Jockey (DJ) La Nina sudah mencintai dunia musik sejak kecil. Ia dikenali berbagai macam alat musik tradisional oleh sang kakek. Hingga pada SMA, dara bernama lengkap Linda Esty Ningtyas ini tertarik pada profesi DJ dan mulai belajar DJ pada tahun 2017 melalui virtual. Kemudian pada tahun 2018 DJ La Nina mulai mengikuti kursus di Pro DJ School Bali dan fokus pada aliran techno. Hingga saat ini, dirinya sudah manggung ke luar wilayah Bali seperti Surabaya dan Gili Trawangan.

DJ La Nina mengungkapkan, sejatinya dari pihak keluarga melarang ia menggeluti profesi DJ. Sebab, di tanah kelahirannya, DJ dinilai sebagai profesi yang kurang baik. “Jadi saya diem-diem, kucing-kucingan nge-DJ, tapi sekarang mau tidak mau mereka menerima. Karena saya di Bali survive sendiri, cari uang sendiri untuk biaya kuliah dan lain-lain. Tapi dari keluarga menekankan, agar setelah lulus kuliah bisa mencari pekerjaan pasti,” katanya saat diwawancara Minggu (22/8).

Melalui pekerjaannya sebagai DJ, perempuan kelahiran Blitar 29 Februari 1996 ini mengaku memiliki banyak teman. Disamping itu, ia juga bisa menyalurkan hobi serta passionnya dalam hal bermusik. “Dukanya, karena saya naiknya baru-baru saat pandemi, jadi bajet itu masih low banget. Saya banyak nolak klub-klub karena bajetnya tidak sesuai,” katanya.

Baca Juga :  Putri Maharani Belajar Mandiri, walaupun Di-bully

Berprofesi yang identik dengan dunia malam, tentu membuatnya tidak lepas dari cemoohan orang-orang di sekitar. Bahkan kalimat buruk ia terima dari saudara-saudaranya sendiri. “(Dibilangnya) pekerjaannya jelek tuh, ada yang bilang haramlah. Tapi karena saya orangnya cuek, jadi saya tidak ambil pusing. Mereka kan tidak mengalami apa yang saya alami,” ungkap mahasiswi aktif Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana ini.

Kendati demikian, tak lantas membuat DJ La Nina mengikuti pergaulan buruk yang sering dicap masyarakat. Seperti halnya merokok atau mengonsumsi obat-obatan terlarang. “Minum pun saya jarang, sekadar menghormati dan menghargai klub yang menawarkan job. Saya akui pressurenya keras dari lingkungan sekitar, tapi saya punya prinsip, jadi tidak sampai terpengaruh,” katanya yang kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Disamping itu, hal tak mengenakkan juga datang dari dunia maya. Tak jarang, ia menerima direct message (DM) di Instagram berupa tawaran booking order (BO) dari sejumlah orang tak dikenal. Sejumlah pesan tersebut menawarkan harga yang beragam, bahkan ada pesan dari bule yang menawarkan Rp 20 juta. “Ada banyak yang ngirim pesan begitu, tapi tidak saya tanggapi. Pernah ada bule yang nawarin sampai Rp 20 juta, saya sudah nolak, tapi dia maksa terus, saya tetap tidak mau,” tuturnya.

Baca Juga :  Weda Dawsky Jalani Hobi yang Dibayar

Sementara itu, untuk tarifnya manggung di klub lokal, normalnya ia mematok Rp 500 ribu. Untuk day club, private party, minimal seharga Rp 2 juta. Sedangkan untuk acara long trip di luar Bali, dirinya memasang tarif Rp 5 juta. “(Harga) Ini di luar akomodasi. Kalau pandemi ada penurunan, karena klub-klub banyak yang tutup. Sebelum pandemi saya mainnya di hotel-hotel, di beach bar, semenjak pandemi berkurang,” katanya.

Selain nge-DJ, untuk menambah pundi-pundi uangnya, juga menerima endors dan belakangan nyambi sebagai foto model. Ia juga menggarap bisnis makanan bersama rekannya. “Saya berharap pandemi segera berakhir, agar pariwisata bangkit kembali. Klub-klub bisa buka, kami para DJ bisa main lagi,” tutupnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru