Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Hiburan
icon featured
Hiburan

RSPON Tegaskan Tukul Arwana Tidak Menderita KIPI Vaksinasi

24 September 2021, 21: 21: 26 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

RSPON Tegaskan Tukul Arwana Tidak Menderita KIPI Vaksinasi

OTAK : Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan Tukul Arwana. (Antara/Ida Nurcahyani/Tangkapan layar.)

Share this      

JAKARTA, BALI EXPRESS - Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS mengatakan, kondisi pelawak yang juga presentet Tukul Arwana yang mengalami pendarahan otak bukan disebabkan oleh kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) Covid-19.

"Tidak ada korelasi antara stroke pendarahan otak dengan vaksinasi Covid-19, apalagi disebutkan stroke pendarahan akibat KIPI Covid-19. Apapun merek vaksinnya, belum ada yang mengatakan bahwa ada risiko terjadinya stroke pendarahan akibat vaksin. Ini perlu kami klarifikasi. Secara ilmiah pun tidak ada hubungannya," kata dr. Mursyid menegaskan dalam konferensi pers daring, Jumat (24/9).

KIPI yang biasa terjadi akibat vaksinasi, kata dr. Mursyid diantaranya adalah demam beberapa hari hingga rasa nyeri di bekas suntikan. "Itu efek biasa. Dan akan hilang, tidak akan menimbulkan dampak sama sekali," paparnya.

Baca juga: DJKI Kemenkumham Bantu Mediasi Sengketa Lagu Payung Hitam

Sementara itu, terkait kabar vaksinasi meningkatkan kekentalan darah sehingga bisa menimbulkan pecahnya pembuluh darah, dr. Mursyid menyangkalnya.

"Kami tidak pernah menerima pasien pascavaksin itu mengalami stroke, dari beberapa laporan yang kami dapatkan dari teman-teman spesialis syaraf juga tidak ada pasien yang mengalami stroke setelah vaksin.

Beberapa perhimpunan yang berhubungan dengan vaksin sudah menyusun SOP terkait vaksin ini, kata dia.

Tukul Arwana saat ini sedang menjalani perawatan di RSPON, Kramat Jati, Kota Jakarta Timur karena stroke akibat pendarahan otak yang dia alami beberapa waktu lalu.

Ada sejumlah faktor penyebab seseorang mengalami stroke pendarahan otak, diantaranya adalah faktor-faktor yang bisa dikontrol dan tidak.

"Kalau yang bisa dikontrol adalah gaya hidup, sementara yang tidak bisa dikontrol ya usia atau misalnya ras, ras kulit hitam jauh lebih berisiko dibanding ras kulit putih," kata dr. Mursyid.

Pembuluh darah, lanjut dr Mursyid, sejatinya memiliki titik lemah yang pada waktu tertentu bisa meningkat. Ketika terdapat pembekuan pada darah, maka darah bisa keluar dari pembuluh darah lemah tersebut dan mengganggu fungsi otak.

"Stroke jenis pendarahan otak ini hanya 20 persenan dibanding stroke jenis penyumbatan pembuluh darah," terangnya.

Lebih lanjut dr. Mursyid mengingatkan agar masyarakat untuk bisa mengenali tanda-tanda dari penyakit stroke melalui metode FAST (wajah terkulai, tangan lemah, sulit bicara, panggil bantuan).

Tanda pertama orang dapat diduga terkena stroke yang mudah dikenali, yakni wajah nampak terkulai. Pada tanda ini, wajah seseorang akan terlihat tidak simetris. Tanda kedua dapat terlihat dari lemahnya satu sisi tangan yang terjadi secara tiba-tiba.

Dia menjelaskan saat seseorang beraktivitas, kemudian salah satu lengan sulit untuk digerakkan atau tidak mampu terangkat secara simetris, maka dapat diduga orang tersebut tersuspek stroke.

Tanda ketiga, kata Mursyid, orang yang mengalami stroke cenderung sulit untuk berbicara, berbicara tidak jelas atau bahkan menjadi cadel (sulit melafalkan suatu kata).

“Kemudian, pada saat bicara, mungkin cadel bicaranya, bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan baik,” kata dia.

Ia mengimbau kepada masyarakat, apabila telah mengenali ketiga tanda tersebut, maka harus segera dibawa ke rumah sakit agar pasien stroke mendapatkan penanganan yang optimal sesuai dengan golden period (waktu penanganan terbaik) pasien.

“Jadi, kalau terjadi stroke segera ke rumah sakit. Apapun, kapanpun, jangan menunggu sesuatu. Kenali gejalanya, kalau ada seperti itu pergi ke UGD rumah sakit. Makin cepat ditangani, makin baik hasilnya,” tegas dia.

Terkait kondisi Tukul Arwana saat ini, RS PON menolak memberikan penjelasan rinci karena terkait dengan kode etik kedokteran."Terkait kondisi, silakan konfirmasi dengan anggota keluarga beliau," kata dr. Mursyid. (ant)

(bx/rin/rin/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia