alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Biasanya untuk Prosesi Ngaben, Angklung Khas Buleleng Kini Iringi Joged

DENPASAR, BALI EXPRESS – Angklung sebagai salah satu tabuh Bali berlaras slendro kerap digunakan untuk mengiringi upacara pangabenan, yang identik dengan alunan nada sendu atau sedih. Namun dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 ini ditampilkan dengan alunan bernuansa gembira.

Tabuh angklung ini dibawakan Sanggar Seni Karya Remaja, Desa Sarimekar, Buleleng, Selasa (28/6) di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar. Bahkan mengiringi sejumlah tari penyambutan dan tari pergaulan dengan gerak-gerak yang lincah dan dinamis.

“Angklung kebyar dengan daun kutus (bilah delapan) ini memang menjadi ciri khas dari Buleleng. Biasanya di daerah lain, gambelan angklung bilahnya ada empat,” kata Ketua Sanggar Seni Karya Remaja Ni Luh Made Fitri Yudiastuti usai pementasan.

Sesuai namanya, sanggar yang didominasi kaum remaja itu menghibur para penonton PKB dengan menampilkan dua jenis tabuh, yakni Tabuh Paangklungan Lalemesan dan Tabuh Kreasi Lalah Manis, serta mengiringi empat jenis tarian.

Baca Juga :  Disebut Mirip, Rapper Amerika Anderson Paak Pakai Foto Pak Tarno

“Untuk lebih menghibur penonton, tabuh angklung digunakan untuk mengiringi Tari Kembang Deeng, Tabuh Kreasi Lalah Manis, Tari Palawakya, Joged Sekar Jepun dan Joged Genjek Kreasi,” ujar Fitri.

Penonton yang memadati Kalangan Ayodya itu pun antusias dengan penampilan penari Joged Sekar Jepun. Tarian joged ini menggambarkan indahnya bunga jepun (kamboja).

Joged genjek kreasi menjadi tarian pamungkas. Tari ini berawal dari kawasan Buleleng Barat, tepatnya di Desa Lokapaksa. “Tari ini berawal dari kegembiraan petani saat panen raya, mereka menari bersama-sama yang lama-kelamaan seiring dengan perkembangannya di kemaslah dalam bentuk seni pertunjukan joged bumbung,” kata Fitri.

Meskipun angklung daun kutus bisa dibawakan dengan nada gembira, lanjut Fitri, fungsi gambelan ini di Buleleng tetap tidak jauh berbeda dengan angklung di kabupaten lainnya di Bali, yang biasanya untuk mengiringi upacara Pitra Yadnya.

Baca Juga :  Rektor ISBI Tanah Papua: Ada Kemiripan Antara Papua dengan Bali

Oleh karena itu, dalam pementasan yang berlangsung hampir dua jam tersebut, juga tetap menampilkan tabuh angklung yang biasanya digunakan untuk mengiringi prosesi pangabenan yang dinamakan Tabuh Paangklungan Lalemesan.

“Dalam penampilan kali ini, kami juga melibatkan delapan penabuh legendaris. Mereka ini pernah tampil pada Pesta Kesenian Bali tahun 2004. Mereka sengaja kami kolaborasikan dengan para penabuh yang muda-muda,” kata Fitri.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Angklung sebagai salah satu tabuh Bali berlaras slendro kerap digunakan untuk mengiringi upacara pangabenan, yang identik dengan alunan nada sendu atau sedih. Namun dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 ini ditampilkan dengan alunan bernuansa gembira.

Tabuh angklung ini dibawakan Sanggar Seni Karya Remaja, Desa Sarimekar, Buleleng, Selasa (28/6) di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar. Bahkan mengiringi sejumlah tari penyambutan dan tari pergaulan dengan gerak-gerak yang lincah dan dinamis.

“Angklung kebyar dengan daun kutus (bilah delapan) ini memang menjadi ciri khas dari Buleleng. Biasanya di daerah lain, gambelan angklung bilahnya ada empat,” kata Ketua Sanggar Seni Karya Remaja Ni Luh Made Fitri Yudiastuti usai pementasan.

Sesuai namanya, sanggar yang didominasi kaum remaja itu menghibur para penonton PKB dengan menampilkan dua jenis tabuh, yakni Tabuh Paangklungan Lalemesan dan Tabuh Kreasi Lalah Manis, serta mengiringi empat jenis tarian.

Baca Juga :  Pilih Bali Jadi Lokasi Muktamar PKB, Cak Imin Sowan ke Koster

“Untuk lebih menghibur penonton, tabuh angklung digunakan untuk mengiringi Tari Kembang Deeng, Tabuh Kreasi Lalah Manis, Tari Palawakya, Joged Sekar Jepun dan Joged Genjek Kreasi,” ujar Fitri.

Penonton yang memadati Kalangan Ayodya itu pun antusias dengan penampilan penari Joged Sekar Jepun. Tarian joged ini menggambarkan indahnya bunga jepun (kamboja).

Joged genjek kreasi menjadi tarian pamungkas. Tari ini berawal dari kawasan Buleleng Barat, tepatnya di Desa Lokapaksa. “Tari ini berawal dari kegembiraan petani saat panen raya, mereka menari bersama-sama yang lama-kelamaan seiring dengan perkembangannya di kemaslah dalam bentuk seni pertunjukan joged bumbung,” kata Fitri.

Meskipun angklung daun kutus bisa dibawakan dengan nada gembira, lanjut Fitri, fungsi gambelan ini di Buleleng tetap tidak jauh berbeda dengan angklung di kabupaten lainnya di Bali, yang biasanya untuk mengiringi upacara Pitra Yadnya.

Baca Juga :  15 Band Hardcore Indonesia Menyatu, 2 Grup Bali Ikut Andil

Oleh karena itu, dalam pementasan yang berlangsung hampir dua jam tersebut, juga tetap menampilkan tabuh angklung yang biasanya digunakan untuk mengiringi prosesi pangabenan yang dinamakan Tabuh Paangklungan Lalemesan.

“Dalam penampilan kali ini, kami juga melibatkan delapan penabuh legendaris. Mereka ini pernah tampil pada Pesta Kesenian Bali tahun 2004. Mereka sengaja kami kolaborasikan dengan para penabuh yang muda-muda,” kata Fitri.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/