Sepenggal cerita itu diutarakan Purnama Sari ketika berkunjung ke Bron Cafe, Denpasar, tempat nongkrong yang mengambil konsep alam di tengah kota.
"Kesan pertama, vibes outdoor dapat ya. Gak nyangka di Kota Denpasar ada tempat seperti di Ubud. Disini sejuk, jauh dari kebisingan. Memang enak untuk santai," ujar Purnama Sari.
Awalnya ia hanya melihat di instagram. Karena penasaran ia pun berkunjung dan langsung nyetel dengan tempat ini. "Banyak ada pohon dan kayaknya bawa peliharaan bisa. Next time ingin bawa peliharaan kesini," tuturnya.
Selain itu makanan disini juga menurutnya pas di lidahnya. "Saya gak terlalu suka dengan daging, jadi menunya cocok," imbuhnya.
Sementara owner Bron Cafe, Ketut Gede Yoga Pustaka menjelaskan, ide ini lahir karena berkorelasi dengan jalur hijau di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, Denpasar ini. "Sekaligus pengembangan jalur hijau agar benar dan efektif. Kami tetap pertahankan tanaman ini, dan tinggal ditata saja," jelasnya.
Kata Yoga, tanaman didominasi tumbuhan sub tropis. Selain memang sudah ada dari awal, ia juga menjual beberapa tanaman hias. "Konsepnya tumpang sari. Cafe jalan, jual tanaman juga jalan," bebernya.
Sebagai pecinta tanaman, lokasi ini juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya beberapa komunitas seperti pecinta tanaman dan ikan. "Ya pokoknya yang berhubungan dengan alam banyak ngumpul disini," seru Yoga.
Sebenarnya lokasi sudah ada sejak tahun 80 an, namun belum secantik sekarang. Yoga mengaku lokasi tersebut sudah dikontak oleh orang tuanya, dan kini ia dipercayakan untuk mengelolanya.
Untuk menu cafe, ia menyebut ada food and beverage, menu vegetarian juga tersedia. Termasuk minum berbagai olahan teh, kopi, dan sebagainya. Harga termasuk nyaman di kantong anak muda mulai dari Rp 15-45 ribu an. "Rata-rata pengunjung ada 100 an. Paling banyak weekend. Buka dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam," tandasnya.